Penyegaran Otoritas Pasar Modal di Tengah Badai MSCI, Kepercayaan Investor Bakal Pulih?
Sabtu, 31 Januari 2026 - 08:29 WIB
loading...
Pengunduran diri massal pucuk pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai sebagai langkah strategis untuk memulihkan kepercayaan investor. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Pengunduran diri massal pucuk pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai sebagai langkah strategis untuk memulihkan kepercayaan investor. Pengamat Pasar Modal , Reydi Octa memandang pergantian kepemimpinan ini sebagai upaya "penyegaran" yang diperlukan agar pasar modal Indonesia kembali dipandang kredibel di mata dunia.
Menurut Reydi, guncangan hebat akibat kebijakan MSCI yang membekukan penyesuaian bobot (rebalancing) indeks untuk Indonesia pada Februari ini merupakan tamparan keras. Hal ini memicu kerentanan kepercayaan investor global terhadap transparansi IHSG.
"Menurut saya kalau memang itu yang terbaik keputusannya untuk keberlanjutan pasar modal aja sih. Supaya kan dari kemarin ada kejadian trading halt yang sampai dua hari berturut-turut. Kepercayaan investor global juga mulai rentan mempertanyakan transparansi IHSG. Jadi sepertinya kita perlu wajah baru yang ke-refresh gitu," ujar Reydi Octa saat dihubungi, Jumat (30/1).
Baca Juga: Pasar Modal Indonesia Diguncang Krisis Kredibilitas, Bos OJK dan BEI Mundur Jamaah
Meski pasar sempat mengalami penurunan tajam hingga memicu trading halt, Reydi menilai situasi ini tidak sedahsyat krisis masa awal pandemi. Ia berpendapat bahwa kepanikan yang terjadi lebih disebabkan oleh investor yang belum sepenuhnya mencerna maksud di balik keputusan MSCI.
Reydi memberikan sudut pandang positif bahwa langkah MSCI membekukan indeks justru bisa dilihat sebagai upaya perlindungan untuk mencegah keluarnya dana asing (capital outflow) secara masif jika metodologi baru langsung diterapkan tanpa persiapan.
"Tujuannya baik MSCI seperti itu, karena berarti dana-dana asing itu nggak dipaksa keluar. Makanya MSCI bikin beku dana dulu supaya tidak terjadi penambahan atau pengurangan di IHSG. Jadi menunda atau paling nggak supaya tidak terjadi capital outflow dari asing di IHSG," jelasnya.
Baca Juga: Bos OJK Beberkan Strategi Perkuat Pasar Modal di 2026
Menghadapi pembukaan pasar pada Senin mendatang, Reydi memprediksi akan ada sedikit gejolak di awal perdagangan. Investor kemungkinan besar akan bereaksi terhadap berita pengunduran diri Mahendra Siregar, Inarno Djajadi, dan Iman Rachman. Namun Ia meyakini tekanan tersebut hanya bersifat sementara sebelum pasar masuk ke fase wait and see.
"Di awal market mungkin ada sedikit tekanan jual gitu ya, karena kelihatannya berturut-turut. Tapi kalau saya rasa itu hanya jangka pendek. Pasti akan wait and see sih, menunggu kepastian siapa penerus-penerusnya atau pengantin-pengantinnya. Kalau misalkan ternyata lebih kredibel, kan sebenarnya lebih baik," pungkas Reydi.
Menurut Reydi, guncangan hebat akibat kebijakan MSCI yang membekukan penyesuaian bobot (rebalancing) indeks untuk Indonesia pada Februari ini merupakan tamparan keras. Hal ini memicu kerentanan kepercayaan investor global terhadap transparansi IHSG.
"Menurut saya kalau memang itu yang terbaik keputusannya untuk keberlanjutan pasar modal aja sih. Supaya kan dari kemarin ada kejadian trading halt yang sampai dua hari berturut-turut. Kepercayaan investor global juga mulai rentan mempertanyakan transparansi IHSG. Jadi sepertinya kita perlu wajah baru yang ke-refresh gitu," ujar Reydi Octa saat dihubungi, Jumat (30/1).
Baca Juga: Pasar Modal Indonesia Diguncang Krisis Kredibilitas, Bos OJK dan BEI Mundur Jamaah
Meski pasar sempat mengalami penurunan tajam hingga memicu trading halt, Reydi menilai situasi ini tidak sedahsyat krisis masa awal pandemi. Ia berpendapat bahwa kepanikan yang terjadi lebih disebabkan oleh investor yang belum sepenuhnya mencerna maksud di balik keputusan MSCI.
Reydi memberikan sudut pandang positif bahwa langkah MSCI membekukan indeks justru bisa dilihat sebagai upaya perlindungan untuk mencegah keluarnya dana asing (capital outflow) secara masif jika metodologi baru langsung diterapkan tanpa persiapan.
"Tujuannya baik MSCI seperti itu, karena berarti dana-dana asing itu nggak dipaksa keluar. Makanya MSCI bikin beku dana dulu supaya tidak terjadi penambahan atau pengurangan di IHSG. Jadi menunda atau paling nggak supaya tidak terjadi capital outflow dari asing di IHSG," jelasnya.
Baca Juga: Bos OJK Beberkan Strategi Perkuat Pasar Modal di 2026
Menghadapi pembukaan pasar pada Senin mendatang, Reydi memprediksi akan ada sedikit gejolak di awal perdagangan. Investor kemungkinan besar akan bereaksi terhadap berita pengunduran diri Mahendra Siregar, Inarno Djajadi, dan Iman Rachman. Namun Ia meyakini tekanan tersebut hanya bersifat sementara sebelum pasar masuk ke fase wait and see.
"Di awal market mungkin ada sedikit tekanan jual gitu ya, karena kelihatannya berturut-turut. Tapi kalau saya rasa itu hanya jangka pendek. Pasti akan wait and see sih, menunggu kepastian siapa penerus-penerusnya atau pengantin-pengantinnya. Kalau misalkan ternyata lebih kredibel, kan sebenarnya lebih baik," pungkas Reydi.
(akr)
Lihat Juga :