Kejar Target Lifting Minyak di 2026, Ini Strategi SKK Migas
Rabu, 04 Februari 2026 - 16:05 WIB
loading...
SKK Migas mendorong kegiatan eksplorasi untuk mencapai target lifting di 2026. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendorong kegiatan eksplorasi untuk mencapai target lifting minyak 610.000 barel per hari pada 2026. Sebanyak 39 sumur minyak potensial akan dimaksimalkan guna menahan laju penurunan produksi alamiah dari lapangan-lapangan tua.
"Kami melihat bahwa penurunan alamiah produksi di lapangan-lapangan tua dengan decline hampir 3,9% sampai 4,5% harus kami tahan dengan sangat masifnya kegiatan eksplorasi di Indonesia," tegas Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, dalam sebuah diskusi daring, Rabu (4/1/2026).
Baca Juga: Pertamina Berhasil Boyong 1 Juta Barel Minyak Mentah dari Aljazair
Rikky menyebutkan, pemanfaatan sumur baru maupun eksisting sangat penting dilakukan mengingat tren penurunan produksi. Fokus eksplorasi akan dilakukan di sejumlah wilayah potensial.
"Ada 5 kegiatan yang kami harapkan. Sumur-sumur yang ada di Sumatera, ada di lepas pantai Natuna, ada di Laut Arafura, maupun di Jawa, untuk bisa memberikan hasil positif dengan temuan-temuan yang kita nilai bisa menjadi bagian dari big fish ataupun giant discovery," ujar Rikky.
SKK Migas telah memetakan 301 struktur yang berpotensi menjadi cadangan. Saat ini, sebanyak 79 struktur telah memasuki tahap Penentuan Status Eksplorasi (PSE) dengan perkiraan potensi 259 Million Barrels of Oil (MMBO) dan 3,9 Trillion Cubic Feet (TCF) gas.
Baca Juga: Reformasi Perizinan dan Efisiensi Rantai Suplai Jadi Fokus SKK Migas di 2026
Selain eksplorasi baru, potensi dari sumur menganggur (idle wells) juga menjadi perhatian. Terdapat sekitar 4.500 sumur idle yang telah dipetakan, dengan 4.200 di antaranya berada di bawah pengelolaan Pertamina dan sisinya milik kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) swasta.
Rikky berharap keberhasilan eksplorasi di cekungan Andaman dan Kutai Basin dalam dua tahun terakhir dapat berlanjut di wilayah lainnya. "Temuan-temuan baru ini diharapkan dapat berkontribusi dalam menopang target lifting nasional," katanya.
"Kami melihat bahwa penurunan alamiah produksi di lapangan-lapangan tua dengan decline hampir 3,9% sampai 4,5% harus kami tahan dengan sangat masifnya kegiatan eksplorasi di Indonesia," tegas Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, dalam sebuah diskusi daring, Rabu (4/1/2026).
Baca Juga: Pertamina Berhasil Boyong 1 Juta Barel Minyak Mentah dari Aljazair
Rikky menyebutkan, pemanfaatan sumur baru maupun eksisting sangat penting dilakukan mengingat tren penurunan produksi. Fokus eksplorasi akan dilakukan di sejumlah wilayah potensial.
"Ada 5 kegiatan yang kami harapkan. Sumur-sumur yang ada di Sumatera, ada di lepas pantai Natuna, ada di Laut Arafura, maupun di Jawa, untuk bisa memberikan hasil positif dengan temuan-temuan yang kita nilai bisa menjadi bagian dari big fish ataupun giant discovery," ujar Rikky.
SKK Migas telah memetakan 301 struktur yang berpotensi menjadi cadangan. Saat ini, sebanyak 79 struktur telah memasuki tahap Penentuan Status Eksplorasi (PSE) dengan perkiraan potensi 259 Million Barrels of Oil (MMBO) dan 3,9 Trillion Cubic Feet (TCF) gas.
Baca Juga: Reformasi Perizinan dan Efisiensi Rantai Suplai Jadi Fokus SKK Migas di 2026
Selain eksplorasi baru, potensi dari sumur menganggur (idle wells) juga menjadi perhatian. Terdapat sekitar 4.500 sumur idle yang telah dipetakan, dengan 4.200 di antaranya berada di bawah pengelolaan Pertamina dan sisinya milik kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) swasta.
Rikky berharap keberhasilan eksplorasi di cekungan Andaman dan Kutai Basin dalam dua tahun terakhir dapat berlanjut di wilayah lainnya. "Temuan-temuan baru ini diharapkan dapat berkontribusi dalam menopang target lifting nasional," katanya.
(nng)
Lihat Juga :