Jaga Stabilitas Harga dan Pasokan Beras, Perpadi Ungkap Apa Saja Instrumen Pentingnya
Senin, 09 Februari 2026 - 21:22 WIB
loading...
A
A
A
Menjelang periode peningkatan konsumsi Ramadan dan Idul Fitri 2026, PERPADI mencermati adanya potensi tekanan harga beras akibat meningkatnya permintaan, faktor cuaca, serta dinamika distribusi. Untuk itu, PERPADI menyatakan kesiapan bersinergi dengan pemerintah dan Bulog guna memastikan ketersediaan beras nasional tetap aman dan distribusi berjalan lancar.
“Penggilingan padi anggota PERPADI siap mendukung penugasan pemerintah, baik dalam penyerapan gabah petani maupun pengolahan beras, agar stok nasional, termasuk CBP, tetap terjaga dan harga tidak melonjak,” ujarnya.
Terkait kenaikan harga beras yang sempat terjadi di sejumlah wilayah, Sutarto menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kelangkaan stok, melainkan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah, biaya produksi, cuaca, serta biaya logistik.
Baca Juga: Program SPHP Beras Dipastikan Berlanjut di 2026, Stok Beras Bulog 3,2 Juta Ton
“Secara umum, stok beras nasional aman. Kenaikan harga lebih banyak dipicu oleh meningkatnya biaya di hulu. Karena itu, PERPADI mendorong agar kebijakan harga, mulai dari HPP hingga Harga Eceran Tertinggi (HET), diselaraskan agar tidak menimbulkan distorsi di pasar,” jelasnya.
Sutarto menambahkan, keberhasilan stabilisasi harga beras sangat bergantung pada kelancaran distribusi dan kepastian kebijakan. Ia menilai percepatan penyaluran beras SPHP yang bersumber dari CBP, serta pola kerja sama yang efektif antara Bulog dan penggilingan padi, akan memberikan dampak nyata dalam menahan gejolak harga di pasar.
“Penggilingan padi anggota PERPADI siap mendukung penugasan pemerintah, baik dalam penyerapan gabah petani maupun pengolahan beras, agar stok nasional, termasuk CBP, tetap terjaga dan harga tidak melonjak,” ujarnya.
Terkait kenaikan harga beras yang sempat terjadi di sejumlah wilayah, Sutarto menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kelangkaan stok, melainkan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah, biaya produksi, cuaca, serta biaya logistik.
Baca Juga: Program SPHP Beras Dipastikan Berlanjut di 2026, Stok Beras Bulog 3,2 Juta Ton
“Secara umum, stok beras nasional aman. Kenaikan harga lebih banyak dipicu oleh meningkatnya biaya di hulu. Karena itu, PERPADI mendorong agar kebijakan harga, mulai dari HPP hingga Harga Eceran Tertinggi (HET), diselaraskan agar tidak menimbulkan distorsi di pasar,” jelasnya.
Sutarto menambahkan, keberhasilan stabilisasi harga beras sangat bergantung pada kelancaran distribusi dan kepastian kebijakan. Ia menilai percepatan penyaluran beras SPHP yang bersumber dari CBP, serta pola kerja sama yang efektif antara Bulog dan penggilingan padi, akan memberikan dampak nyata dalam menahan gejolak harga di pasar.
Lihat Juga :