China, India, dan Brasil Diuntungkan Tarif Baru Trump, Sekutu AS Malah Rugi

Jum'at, 27 Februari 2026 - 11:25 WIB
loading...
China, India, dan Brasil...
Pendiri BRICS diuntungkan dari tarif baru Presiden AS Donald Trump. FOTO/China Daily
A A A
JAKARTA - Putusan Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS) membatalkan tarif darurat Presiden Donald Trump memicu perubahan signifikan dalam peta perdagangan global. China, India, dan Brasil menjadi negara yang paling diuntungkan, sementara sejumlah sekutu tradisional Washington justru menghadapi tekanan baru.

“Tingkat ketidakpastian puncak terkait tarif dan ketegangan perdagangan telah berlalu,” tulis ekonom Morgan Stanley yang dipimpin Chetan Ahya dalam sebuah catatan dikutip dari NDTV, Jumat (27/2/2026).

Baca Juga: Soal Tarif Trump Jadi 10%, Presiden Prabowo: Saya Kira Menguntungkan

Pengadilan menyatakan penggunaan Undang-Undang Kekuasaan Darurat Ekonomi Internasional atau International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) oleh Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan bea masuk adalah ilegal. Keputusan tersebut membatalkan sejumlah pungutan darurat yang sebelumnya membebani mitra dagang utama AS.

Dalam pembalikan cepat, negara-negara yang sebelumnya paling terdampak tarif tinggi kini menikmati beban yang lebih ringan. Meski Trump kemudian mengumumkan rencana tarif global 15%, Bloomberg Economics menghitung tarif efektif rata-rata menjadi sekitar 12%, terendah sejak kebijakan tarif "Hari Pembebasan" diumumkan pada April.

Untuk kawasan Asia, Morgan Stanley memperkirakan tarif rata-rata tertimbang turun menjadi 17% dari sebelumnya 20%. Tarif rata-rata barang asal China juga menyusut menjadi 24% dari 32%, termasuk pembatalan tarif fentanyl sebesar 10% yang sebelumnya dikenakan pada Negeri Tirai Bambu.

Kondisi ini secara efektif mereset posisi kompetitif mitra dagang AS. Namun, sejumlah negara sekutu seperti Inggris dan Australia justru berada dalam posisi kurang menguntungkan karena sebelumnya telah bernegosiasi tarif lebih rendah 10% dalam kerangka resiprokal lama, yang kini tersisih oleh skema baru 15%.



Reaksi pasar mencerminkan ketidakpastian lanjutan. Dolar AS dan kontrak berjangka S&P 500 melemah, sementara saham China di Hong Kong menguat. Pejabat senior AS mendesak Uni Eropa dan Jepang untuk tetap berpegang pada komitmen negosiasi sebelumnya, sembari mendorong perpanjangan gencatan senjata dagang dengan China menjelang rencana kunjungan Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden Xi Jinping.

“Kami ingin memastikan bahwa China mematuhi bagian kesepakatan mereka,” kata Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer kepada Fox News Sunday. "Artinya mereka terus membeli produk yang mereka katakan akan dibeli."

Baca Juga: Tak Hanya Beras Ribuan Ton, Indonesia Setujui Impor 580.000 Ekor Ayam dari AS

Kanada dan Meksiko turut diuntungkan karena pungutan terkait fentanyl terhadap keduanya tidak lagi berlaku. Jika pembebasan dalam perjanjian dagang USMCA tetap dipertahankan, kedua negara tersebut dinilai berada dalam posisi sangat kompetitif di pasar AS.

Ekonom Goldman Sachs memperkirakan, kombinasi putusan MA dan tarif Section 122 yang baru akan memangkas kenaikan tarif efektif sejak awal 2025 sedikitnya di atas 10 poin persentase menjadi sekitar 9 poin persentase, dengan dampak terhadap PDB yang cenderung teredam oleh penyesuaian inventaris dan pola perdagangan global.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Rekomendasi
Komnas HAM Diminta Awasi...
Komnas HAM Diminta Awasi Dugaan Kriminalisasi dan Penahanan Sulaiman
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Anggota Polri dan TNI...
Anggota Polri dan TNI Gugur saat Selamatkan Anak Tenggelam di Pantai Maluku Tenggara
Berita Terkini
Insentif Motor Listrik...
Insentif Motor Listrik Ditunda Satu Bulan, Menko Airlangga: Masih Dikaji
Tokocrypto Resmi Bergabung...
Tokocrypto Resmi Bergabung ke Ekosistem ICEX Group, Proses Migrasi Lima PAKD Selesai
Gunakan MT Gamkonora,...
Gunakan MT Gamkonora, Pertamina Patra Niaga Tambah 450 Ribu Barel Minyak
Dorong SDM Unggul, IWIP-WBN...
Dorong SDM Unggul, IWIP-WBN Gandeng LPDP Kirim Mahasiswa ke China
Masa Depan Kesehatan,...
Masa Depan Kesehatan, Brantas Abipraya Pastikan Pembangunan Bank Genomik Nasional Berjalan Optimal
Stimulus Jumbo Lintas...
Stimulus Jumbo Lintas Sektor Rp26,34 Triliun Resmi Meluncur, Berikut Rincian Alokasinya
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved