Perang Iran vs AS dan Israel, Awas! Harga Minyak Bisa Sentuh USD100/Barel
Sabtu, 28 Februari 2026 - 22:03 WIB
loading...
A
A
A
Kepala ekonom pasar berkembang di Capital Economics, William Jackson mengatakan, bahwa meskipun konflik dapat dikendalikan, minyak Brent kemungkinan bakal melonjak naik hingga sekitar USD80 per barel, yang merupakan level tertinggi selama perang 12 hari di Iran pada Juni lalu.
Sebuah konflik yang berkepanjangan yang mempengaruhi pasokan dapat menyebabkan harga minyak melonjak hingga sekitar USD100, yang berpotensi menambah 0,6-0,7 poin persentase pada inflasi global, terangnya dalam sebuah catatan.
Baca Juga: Israel-Amerika Gempur Iran, Pengamat: Dampak Paling Cepat Akan Terasa di Pasar Energi
Para analis mengatakan pasar mata uang kemungkinan tidak akan kebal terhadap efek perang tersebut. Indeks dolar turun sekitar 1% selama perang bulan Juni, ungkap CBA dalam catatannya. Namun penurunan itu bersifat sementara dan pulih setelah tiga atau empat hari.
"Dalam keadaan saat ini, besarnya penurunan akan tergantung pada seberapa besar dan seberapa lama konflik diperkirakan akan berlangsung," kata para analis CBA dalam sebuah catatan seminggu yang lalu.
"Jika konflik berlangsung lama dan mengganggu pasokan minyak, kami memperkirakan dolar AS akan terangkat terhadap sebagian besar mata uang kecuali yen Jepang dan franc Swiss. AS adalah pengekspor energi bersih dan mendapat manfaat dari harga minyak dan gas yang lebih tinggi akibat terganggunya pasokan minyak."
Sebuah konflik yang berkepanjangan yang mempengaruhi pasokan dapat menyebabkan harga minyak melonjak hingga sekitar USD100, yang berpotensi menambah 0,6-0,7 poin persentase pada inflasi global, terangnya dalam sebuah catatan.
Ketidakpastian Pasar Dunia
Konflik ini kemungkinan akan memperburuk volatilitas di seluruh pasar global, yang sudah berayun liar tahun ini akibat tarif Trump dan penjualan besar-besaran di sektor teknologi. Indeks volatilitas VIX (.VIX) naik sepertiga tahun ini, dan volatilitas obligasi AS yang diimplikasikan (.MOVE) naik 15%.Baca Juga: Israel-Amerika Gempur Iran, Pengamat: Dampak Paling Cepat Akan Terasa di Pasar Energi
Para analis mengatakan pasar mata uang kemungkinan tidak akan kebal terhadap efek perang tersebut. Indeks dolar turun sekitar 1% selama perang bulan Juni, ungkap CBA dalam catatannya. Namun penurunan itu bersifat sementara dan pulih setelah tiga atau empat hari.
"Dalam keadaan saat ini, besarnya penurunan akan tergantung pada seberapa besar dan seberapa lama konflik diperkirakan akan berlangsung," kata para analis CBA dalam sebuah catatan seminggu yang lalu.
"Jika konflik berlangsung lama dan mengganggu pasokan minyak, kami memperkirakan dolar AS akan terangkat terhadap sebagian besar mata uang kecuali yen Jepang dan franc Swiss. AS adalah pengekspor energi bersih dan mendapat manfaat dari harga minyak dan gas yang lebih tinggi akibat terganggunya pasokan minyak."
Lihat Juga :