Rupiah Rontok di Tengah Perang AS-Iran, Hari Ini Sentuh Rp16.872 per Dolar AS
Selasa, 03 Maret 2026 - 15:40 WIB
loading...
Pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu perang udara AS dan Israel terhadap Iran yang meluas pada hari Senin dengan Israel menyerang Lebanon. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah tipis pada akhir perdagangan Selasa (3/3/2026), usai turun 4 poin atau sekitar 0,02% ke level Rp16.872 per dolar AS. Pelemahan kurs rupiah juga terlihat dalam data JISDOR BI, dimana hari ini bertengger pada posisi Rp16.870/USD, atau lebih rendah dari kemarin Rp16.848.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas pada hari Senin dengan Israel menyerang Lebanon. Lalu Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
“Kapal tanker dan kapal kontainer juga menghindari jalur air tersebut karena perusahaan asuransi telah membatalkan pertanggungan mereka untuk kapal-kapal tersebut, sementara tarif pengiriman minyak dan gas global telah melonjak,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Dibunuh AS-Israel, Rupiah Terjungkal ke Rp16.868 per USD
Kekhawatiran tentang transit di jalur air tersebut meningkat setelah media Iran melaporkan pada hari Senin bahwa seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran mengatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan Iran akan menembak kapal mana pun yang mencoba melewatinya. Sekitar 20% minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Senin bahwa perang AS dan Israel melawan Iran mungkin membutuhkan "beberapa waktu", tetapi tidak akan memakan waktu bertahun-tahun. Para analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa hari mendatang sementara pasar fokus pada dampak meningkatnya konflik di Timur Tengah.
“Hari ini pasar akan memperhatikan pernyataan pejabat The Fed dengan Presiden Fed New York John Williams, Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid, dan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari dijadwalkan untuk berbicara. Pernyataan yang cenderung agresif dari para pejabat Fed dapat memperkuat Dolar AS,” jelas Ibrahim.
Sementara itu fokus pasar minggu ini adalah data pasar tenaga kerja AS minggu ini, termasuk Perubahan Ketenagakerjaan ADP dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang dapat membentuk ekspektasi untuk jalur kebijakan moneter Fed. Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi tetap tinggi, mendorong para pedagang untuk mengurangi taruhan pada pelonggaran kebijakan moneter jangka pendek.
Dari sentimen domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia pada Januari 2026 mengalami surplus sebesar USD0,95 miliar. Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut, terutama sejak Mei 2020. Surplus pada Januari 2026 ditopang oleh surplus pada komoditi non migas sebesar USD3,22 miliar.
Komoditi penyumbang surplus pada nonmigas yaitu lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Pada sisi yang sama neraca komoditas Migas tercatat defisit sebanyak USD2,27 miliar dengan komoditi penyumbang defisit terutama minyak mentah, hasil minyak dan gas.
Surplus ini terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan impor pada Januari 2026. Teracatat nilai ekspor Indonesia mencapai USD22,16 miliar atau naik 3,39% jika dibandingkan dengan Januari 2025. Nilai ekspor Migas tercatat USD0,89 miliar atau turun 15,62%. Sementara nilai ekspor non migas tercatat naik 4,38% dengan nilai USD21,26 miliar.
Baca Juga: Rupiah Perkasa di Akhir Sesi, Hari Ini Sentuh Rp16.759 per Dolar AS
Sedangkan nilai impor mencapai USD21,20 miliar atau meningkat 18,21% jika dibandingkan Januari 2025. Nilai impor migas sebesar USD3,17 miliar atau meningkat 27,52% secara tahunan.
Selain itu, impor nonmigas senilai USD18,04 miliar juga mengalami peningkatan secara tahunan sebesar 16,71%. Peningkatan nilai impor secara tahunan terutama didorong oleh peningkatan impor non migas dengan andil sebesar 14,40%.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.870 - Rp16.910 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas pada hari Senin dengan Israel menyerang Lebanon. Lalu Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
“Kapal tanker dan kapal kontainer juga menghindari jalur air tersebut karena perusahaan asuransi telah membatalkan pertanggungan mereka untuk kapal-kapal tersebut, sementara tarif pengiriman minyak dan gas global telah melonjak,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Dibunuh AS-Israel, Rupiah Terjungkal ke Rp16.868 per USD
Kekhawatiran tentang transit di jalur air tersebut meningkat setelah media Iran melaporkan pada hari Senin bahwa seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran mengatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan Iran akan menembak kapal mana pun yang mencoba melewatinya. Sekitar 20% minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Senin bahwa perang AS dan Israel melawan Iran mungkin membutuhkan "beberapa waktu", tetapi tidak akan memakan waktu bertahun-tahun. Para analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa hari mendatang sementara pasar fokus pada dampak meningkatnya konflik di Timur Tengah.
“Hari ini pasar akan memperhatikan pernyataan pejabat The Fed dengan Presiden Fed New York John Williams, Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid, dan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari dijadwalkan untuk berbicara. Pernyataan yang cenderung agresif dari para pejabat Fed dapat memperkuat Dolar AS,” jelas Ibrahim.
Sementara itu fokus pasar minggu ini adalah data pasar tenaga kerja AS minggu ini, termasuk Perubahan Ketenagakerjaan ADP dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang dapat membentuk ekspektasi untuk jalur kebijakan moneter Fed. Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi tetap tinggi, mendorong para pedagang untuk mengurangi taruhan pada pelonggaran kebijakan moneter jangka pendek.
Dari sentimen domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia pada Januari 2026 mengalami surplus sebesar USD0,95 miliar. Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut, terutama sejak Mei 2020. Surplus pada Januari 2026 ditopang oleh surplus pada komoditi non migas sebesar USD3,22 miliar.
Komoditi penyumbang surplus pada nonmigas yaitu lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Pada sisi yang sama neraca komoditas Migas tercatat defisit sebanyak USD2,27 miliar dengan komoditi penyumbang defisit terutama minyak mentah, hasil minyak dan gas.
Surplus ini terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan impor pada Januari 2026. Teracatat nilai ekspor Indonesia mencapai USD22,16 miliar atau naik 3,39% jika dibandingkan dengan Januari 2025. Nilai ekspor Migas tercatat USD0,89 miliar atau turun 15,62%. Sementara nilai ekspor non migas tercatat naik 4,38% dengan nilai USD21,26 miliar.
Baca Juga: Rupiah Perkasa di Akhir Sesi, Hari Ini Sentuh Rp16.759 per Dolar AS
Sedangkan nilai impor mencapai USD21,20 miliar atau meningkat 18,21% jika dibandingkan Januari 2025. Nilai impor migas sebesar USD3,17 miliar atau meningkat 27,52% secara tahunan.
Selain itu, impor nonmigas senilai USD18,04 miliar juga mengalami peningkatan secara tahunan sebesar 16,71%. Peningkatan nilai impor secara tahunan terutama didorong oleh peningkatan impor non migas dengan andil sebesar 14,40%.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.870 - Rp16.910 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :