Rupiah Tembus Rp17.000/USD, Tapi Masih Lebih Sakti Dibanding Won Korsel dan Peso Filipina

Senin, 09 Maret 2026 - 22:34 WIB
loading...
Rupiah Tembus Rp17.000/USD,...
Nilai tukar rupiah memang tengah berada dalam tekanan berat hingga Rp17.000 per dolar AS, namun masih jauh lebih tangguh dibandingkan rekan-rekannya di kawasan Asia. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah memang tengah berada dalam tekanan berat hingga sempat menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (USD) pada awal pekan ini, Senin (9/3/2026). Namun jika menilik data lebih dalam, posisi mata uang Garuda ternyata masih jauh lebih tangguh dibandingkan rekan-rekannya di kawasan Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, meskipun rupiah melemah, tingkat depresiasinya tercatat jauh lebih rendah daripada Won Korea Selatan (Korsel) dan Peso Filipina di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Tekanan terhadap rupiah dinilai masih relatif terbatas dibandingkan sejumlah mata uang negara di kawasan Asia.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Pelemahan Terburuk Sepanjang Sejarah

Data menunjukkan pelemahan rupiah sepanjang Maret tercatat sekitar 1,09%. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan won Korea Selatan dan peso Filipina yang masing-masing tertekan hingga 3,62% pada periode yang sama.

Tekanan terhadap mata uang negara-negara dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap lonjakan harga minyak akibat eskalasi geopolitik. Korea Selatan misalnya, selama ini dikenal memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi, terutama minyak.



Kondisi tersebut berbeda dengan Indonesia yang meskipun juga merupakan importir minyak, masih memiliki penopang dari sektor domestik yang kuat. Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.000 per USD, Purbaya: Ekonomi Sedang Ekspansi

Indonesia juga dikenal sebagai pengekspor berbagai komoditas energi dan sumber daya alam seperti batu bara dan kelapa sawit. Kombinasi faktor ini membuat ekonomi Indonesia dinilai relatif lebih tahan terhadap gejolak global.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipicu oleh sentimen global dibandingkan masalah fundamental dalam negeri.

“Kalau melihat data terbaru justru menarik. Walaupun rupiah sempat mendekati 17.000 per USD, pelemahannya sepanjang bulan ini sebenarnya masih relatif moderat dibanding beberapa mata uang Asia lainnya yang juga tertekan oleh penguatan dolar global dan sentimen risk-off akibat ketegangan geopolitik serta lonjakan harga minyak,” ujarnya, Senin (9/3/2026).

Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang saat ini lebih merupakan dampak dari shock global yang dialami banyak negara. “Jadi tekanan yang terjadi saat ini lebih mencerminkan shock global yang dialami hampir semua emerging markets, bukan semata persoalan fundamental domestik Indonesia,” tambah David.

Kondisi Makro Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga

Di tengah tekanan terhadap rupiah, indikator makro ekonomi Indonesia masih menunjukkan kondisi yang relatif solid. Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah yang terjadi saat ini belum mencerminkan fundamental ekonomi nasional yang sebenarnya masih kuat.

Beberapa indikator utama menunjukkan stabilitas ekonomi domestik masih terjaga, antara lain inflasi tetap terkendali. Inflasi berada dalam kisaran target 2,5 ± 1% untuk periode 2026-2027. Kemudian soal pertumbuhan kredit perbankan. Pada Januari 2026 kredit perbankan masih tumbuh sekitar 9,96% secara tahunan.

Lalu soal pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada 2025 tercatat sekitar 5,11%, menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap ekspansif.

Dengan sejumlah indikator tersebut, tekanan terhadap rupiah dinilai lebih dipengaruhi dinamika eksternal seperti penguatan dolar AS, sentimen risk-off di pasar global, serta kenaikan harga energi dunia.

"Kondisi ini juga menegaskan bahwa secara fundamental, ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang cukup baik menghadapi gejolak global," pungkas David.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Aliran Modal Asing Mulai...
Aliran Modal Asing Mulai Masuk, Rupiah Membaik Tinggalkan Rp18.000 per Dolar AS
Rupiah Melemah, Bagaimana...
Rupiah Melemah, Bagaimana Nasib Proyek IKN?
Orang Kaya Diminta Lepas...
Orang Kaya Diminta Lepas Dolar, Dasco Sebut Rupiah Menguat Minggu Depan
Dasco Kasih Bocoran...
Dasco Kasih Bocoran Pemerintah Punya Strategi Khusus Atasi Pelemahan Rupiah
Rupiah Melemah, Perajin...
Rupiah Melemah, Perajin Tahu Tempe Gelisah Imbas Lonjakan Harga Kedelai Impor
Rupiah Membaik Tinggalkan...
Rupiah Membaik Tinggalkan Level Rp18.000 per USD, Ini Sentimennya
Rupiah dan IHSG Menguat,...
Rupiah dan IHSG Menguat, SBY: Ada Good News untuk Kita Semua
Gapasdap Dorong Pemerintah...
Gapasdap Dorong Pemerintah Perhatikan Nasib Angkutan Pelayaran Imbas Kenaikan Dolar AS
Istana Terima Tuntutan...
Istana Terima Tuntutan BEM SI Jateng Soal Kuatkan Rupiah, tapi...
Rekomendasi
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Mahasiswa Bakal Demo...
Mahasiswa Bakal Demo di 3 Titik Jakarta, Rekayasa Lalin Diberlakukan Situasional
Terima Audiensi DPRD...
Terima Audiensi DPRD Malaka, BNPP Bahas Peluang Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas
Berita Terkini
ESDM Menjawab Isu Pasokan...
ESDM Menjawab Isu Pasokan Batubara Jadi Penyebab Pemadaman Listrik di Pulau Jawa
Bangun Pertanian di...
Bangun Pertanian di Papua, Pemerintah Gelontorkan Rp5 Triliun
Penjelasan PLN soal...
Penjelasan PLN soal Blackout di Beberapa Wilayah Pulau Jawa
Emas Antam Kembali Berkilau,...
Emas Antam Kembali Berkilau, Hari Ini Naik Rp20 Ribu Sentuh Rp2.709.000 per Gram
IHSG Dibuka Perkasa...
IHSG Dibuka Perkasa Sentuh Level 5.960, Ada 380 Saham Berlari di Zona Hijau
Aliran Modal Asing Mulai...
Aliran Modal Asing Mulai Masuk, Rupiah Membaik Tinggalkan Rp18.000 per Dolar AS
Infografis
3 Kelebihan DeepSeek...
3 Kelebihan DeepSeek dibanding ChatGPT dan Meta AI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved