TBS Energi Utama Tuntaskan Transisi ke Sektor Rendah Karbon, Perkokoh Ekspansi Global
Selasa, 10 Maret 2026 - 09:07 WIB
loading...
Direktur PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) Juli Oktarina. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menuntaskan fase penting transformasi bisnisnya di 2025 dengan melakukan penataan ulang portofolio secara menyeluruh ke sektor rendah karbon. Langkah strategic repositioning ini diambil TBS untuk memperkuat fondasi keuangan dan membangun struktur bisnis yang lebih resilien serta berdaya saing global.
"Setelah strategic repositioning pada fondasi bisnis kami di 2025, kami antusias menyambut tahun 2026 dan tahun-tahun berikutnya. Keputusan penyesuaian struktural diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang, guna mengakselerasi pertumbuhan pada tiga pilar bisnis masa depan Perseroan - pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik- yang merupakan layanan esensial dengan potensi pertumbuhan yang kuat di Indonesia dan mancanegara," ujar Direktur TBS, Juli Oktarina, dalam keterangan tertulis dikutip Selasa (10/3/2026).
Baca Juga: TBS Tegaskan Komitmen Bisnis Berkelanjutan lewat Identitas Baru
Sepanjang 2025, TBS melakukan penataan ulang portofolio secara menyeluruh melalui langkah strategic repositioning guna memperkuat fondasi keuangan dan membangun struktur bisnis yang lebih resilien. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas neraca serta menggeser fokus bisnis menuju sektor dengan profil pendapatan yang lebih stabil dan valuasi jangka panjang yang lebih tinggi.
Perusahaan dari sisi operasional tetap mencatatkan kinerja yang solid dengan EBITDA Disesuaikan sebesar USD47,2 juta. Posisi kas juga tercatat sehat sebesar USD102,3 juta atau meningkat 15% dibandingkan tahun 2024, yang menunjukkan disiplin eksekusi perusahaan di tengah perubahan komposisi portofolio bisnis.
Tonggak strategis lainnya pada 2025 adalah penyelesaian akuisisi Sembcorp Environment yang kini beroperasi dengan nama Cora Environment. Akuisisi ini memperkuat posisi TBS sebagai salah satu pemain utama dalam pengelolaan limbah di Singapura sekaligus memperluas kapasitas aset perusahaan untuk mendukung pertumbuhan pendapatan jangka panjang.
Kontribusi pendapatan dari bisnis pengelolaan limbah tercatat sebesar USD155,4 juta atau sekitar 41% dari total pendapatan perseroan. Sementara segmen pertambangan dan perdagangan batu bara mencatat pendapatan USD194,6 juta atau 51% dari total pendapatan, turun signifikan dibandingkan kontribusi 81% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meskipun mencatatkan EBITDA positif, perusahaan membukukan rugi bersih sebesar USD162 juta pada 2025. Kerugian tersebut dipengaruhi penurunan harga batu bara global serta kerugian non-kas yang tidak berulang dari divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar USD97 juta sebagai bagian dari strategi transisi menuju bisnis rendah karbon.
Baca Juga: Kinerja Solid, TBS Energi Perkuat Fondasi Bisnis Hijau
Juli menambahkan strategi diversifikasi bisnis menjadi kunci untuk menjaga ketahanan perusahaan di tengah volatilitas pasar energi global. “Strategi bisnis kami saat ini memberikan fleksibilitas bagi Perseroan untuk tetap tumbuh, di mana sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik justru menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional. Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik Electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang”.
Transformasi tersebut juga sejalan dengan peta jalan TBS2030 yang menargetkan netral karbon pada 2030. Perseroan telah menurunkan emisi karbon melalui divestasi dua unit PLTU yang sebelumnya menyumbang sekitar 86% emisi portofolio pembangkit atau sekitar 1,4 juta ton CO₂ per tahun berdasarkan profil emisi 2024, serta meluncurkan Climate Transition Plan pada November 2025 sebagai panduan dekarbonisasi operasional dan portofolio perusahaan.
"Setelah strategic repositioning pada fondasi bisnis kami di 2025, kami antusias menyambut tahun 2026 dan tahun-tahun berikutnya. Keputusan penyesuaian struktural diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang, guna mengakselerasi pertumbuhan pada tiga pilar bisnis masa depan Perseroan - pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik- yang merupakan layanan esensial dengan potensi pertumbuhan yang kuat di Indonesia dan mancanegara," ujar Direktur TBS, Juli Oktarina, dalam keterangan tertulis dikutip Selasa (10/3/2026).
Baca Juga: TBS Tegaskan Komitmen Bisnis Berkelanjutan lewat Identitas Baru
Sepanjang 2025, TBS melakukan penataan ulang portofolio secara menyeluruh melalui langkah strategic repositioning guna memperkuat fondasi keuangan dan membangun struktur bisnis yang lebih resilien. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas neraca serta menggeser fokus bisnis menuju sektor dengan profil pendapatan yang lebih stabil dan valuasi jangka panjang yang lebih tinggi.
Perusahaan dari sisi operasional tetap mencatatkan kinerja yang solid dengan EBITDA Disesuaikan sebesar USD47,2 juta. Posisi kas juga tercatat sehat sebesar USD102,3 juta atau meningkat 15% dibandingkan tahun 2024, yang menunjukkan disiplin eksekusi perusahaan di tengah perubahan komposisi portofolio bisnis.
Tonggak strategis lainnya pada 2025 adalah penyelesaian akuisisi Sembcorp Environment yang kini beroperasi dengan nama Cora Environment. Akuisisi ini memperkuat posisi TBS sebagai salah satu pemain utama dalam pengelolaan limbah di Singapura sekaligus memperluas kapasitas aset perusahaan untuk mendukung pertumbuhan pendapatan jangka panjang.
Kontribusi pendapatan dari bisnis pengelolaan limbah tercatat sebesar USD155,4 juta atau sekitar 41% dari total pendapatan perseroan. Sementara segmen pertambangan dan perdagangan batu bara mencatat pendapatan USD194,6 juta atau 51% dari total pendapatan, turun signifikan dibandingkan kontribusi 81% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meskipun mencatatkan EBITDA positif, perusahaan membukukan rugi bersih sebesar USD162 juta pada 2025. Kerugian tersebut dipengaruhi penurunan harga batu bara global serta kerugian non-kas yang tidak berulang dari divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar USD97 juta sebagai bagian dari strategi transisi menuju bisnis rendah karbon.
Baca Juga: Kinerja Solid, TBS Energi Perkuat Fondasi Bisnis Hijau
Juli menambahkan strategi diversifikasi bisnis menjadi kunci untuk menjaga ketahanan perusahaan di tengah volatilitas pasar energi global. “Strategi bisnis kami saat ini memberikan fleksibilitas bagi Perseroan untuk tetap tumbuh, di mana sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik justru menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional. Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik Electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang”.
Transformasi tersebut juga sejalan dengan peta jalan TBS2030 yang menargetkan netral karbon pada 2030. Perseroan telah menurunkan emisi karbon melalui divestasi dua unit PLTU yang sebelumnya menyumbang sekitar 86% emisi portofolio pembangkit atau sekitar 1,4 juta ton CO₂ per tahun berdasarkan profil emisi 2024, serta meluncurkan Climate Transition Plan pada November 2025 sebagai panduan dekarbonisasi operasional dan portofolio perusahaan.
(nng)
Lihat Juga :