Imbas Perang, Jalur Ekspor CPO Indonesia Terpaksa Memutar ke Afrika
Jum'at, 13 Maret 2026 - 09:15 WIB
loading...
A
A
A
"Atau mereka negara-negara importir ada kemungkinan akan mengurangi pembelian apabila harganya sudah terlalu tinggi. Utamanya harga di logistiknya. Ini yang kita tidak berharap untuk terjadi. Kita berharap perang cepat selesai, sehingga ekspor kita masih berjalan dengan lancar," jelasnya.
Timur Tengah menjadi kawasan yang paling terdampak langsung karena ketergantungannya pada Selat Hormuz. Berdasarkan data tahun 2025, total ekspor sawit Indonesia ke wilayah itu mencapai 1,83 juta ton dengan nilai USD1,9 miliar.
Kini pengiriman ke negara-negara seperti Iran, Irak, Uni Emirat Arab, dan Oman berada dalam zona risiko gangguan distribusi. "Gangguan kita memang yang betul-betul terganggu kita adalah di Middle East. Kita ada di situ yang betul-betul harus melalui Selat Hormuz. Itu ekspor kita ke Middle East itu ada 1,83 juta ton. Ini yang sudah pasti terganggu," ungkap Eddy.
Baca Juga: Perang Berkecamuk, Prabowo: Sawit hingga Jagung Bisa Jadi Sumber Energi Nasional
Timur Tengah menjadi kawasan yang paling terdampak langsung karena ketergantungannya pada Selat Hormuz. Berdasarkan data tahun 2025, total ekspor sawit Indonesia ke wilayah itu mencapai 1,83 juta ton dengan nilai USD1,9 miliar.
Kini pengiriman ke negara-negara seperti Iran, Irak, Uni Emirat Arab, dan Oman berada dalam zona risiko gangguan distribusi. "Gangguan kita memang yang betul-betul terganggu kita adalah di Middle East. Kita ada di situ yang betul-betul harus melalui Selat Hormuz. Itu ekspor kita ke Middle East itu ada 1,83 juta ton. Ini yang sudah pasti terganggu," ungkap Eddy.
Baca Juga: Perang Berkecamuk, Prabowo: Sawit hingga Jagung Bisa Jadi Sumber Energi Nasional
Lihat Juga :