Jelang Pengumuman Trump soal Iran, Transaksi Misterius Rp9,8 Triliun Guncang Pasar Minyak Dunia
Rabu, 25 Maret 2026 - 14:05 WIB
loading...
A
A
A
Kondisi pasar kembali berbalik arah saat Ketua DPR Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, melalui unggahan di media sosial X secara tegas membantah klaim Washington mengenai adanya perundingan. Ghalibaf bahkan menuding pernyataan tersebut sebagai "berita palsu" yang sengaja digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak global.
Baca Juga: Mossad Gagal Gulingkan Rezim Iran, PM Israel Benjamin Netanyahu Frustrasi
Bantahan keras dari pihak Teheran tersebut seketika memicu minat beli baru di pasar energi dan menyebabkan indeks saham global kembali terkoreksi. Harga minyak mentah AS patokan WTI naik sebesar 3,55 dolar AS menjadi 91,68 dolar AS per barel, sementara Brent meroket 3,83 dolar AS ke posisi 103,77 dolar AS per barel.
Kepala Derivatif di Energy Aspects, Tim Skirrow, mengamati bahwa meskipun volume transaksi tersebut sangat besar untuk ukuran pagi hari, ia menilai pasar saat ini memang sedang berada dalam kondisi yang sangat sensitif. Reaksi harga yang tajam menunjukkan bahwa pasar sangat rentan terhadap setiap arus informasi terkait konflik Iran.
Ketidakpastian ini diperkirakan akan terus membayangi ekonomi Asia yang sangat bergantung pada stabilitas akses di Selat Hormuz. Selama ketegangan geopolitik belum mereda dan transparansi informasi pasar belum pulih, fluktuasi tajam pada harga komoditas energi dunia diprediksi akan terus berlanjut.
Baca Juga: Mossad Gagal Gulingkan Rezim Iran, PM Israel Benjamin Netanyahu Frustrasi
Bantahan keras dari pihak Teheran tersebut seketika memicu minat beli baru di pasar energi dan menyebabkan indeks saham global kembali terkoreksi. Harga minyak mentah AS patokan WTI naik sebesar 3,55 dolar AS menjadi 91,68 dolar AS per barel, sementara Brent meroket 3,83 dolar AS ke posisi 103,77 dolar AS per barel.
Kepala Derivatif di Energy Aspects, Tim Skirrow, mengamati bahwa meskipun volume transaksi tersebut sangat besar untuk ukuran pagi hari, ia menilai pasar saat ini memang sedang berada dalam kondisi yang sangat sensitif. Reaksi harga yang tajam menunjukkan bahwa pasar sangat rentan terhadap setiap arus informasi terkait konflik Iran.
Ketidakpastian ini diperkirakan akan terus membayangi ekonomi Asia yang sangat bergantung pada stabilitas akses di Selat Hormuz. Selama ketegangan geopolitik belum mereda dan transparansi informasi pasar belum pulih, fluktuasi tajam pada harga komoditas energi dunia diprediksi akan terus berlanjut.
(nng)
Lihat Juga :