Kondisi Global Memburuk, Rupiah Ambruk Tembus Rp17.041 per Dolar AS
Selasa, 31 Maret 2026 - 16:25 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah tajam ke level Rp17.041 per dolar AS pada perdagangan Selasa (31/3/2026). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah tajam ke level Rp17.041 per dolar AS pada perdagangan Selasa, terseret eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak dan tekanan besar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Pelemahan ini dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global. Harga Brent berjangka melonjak 59% sepanjang Maret, kenaikan bulanan tertinggi dalam sejarah," ujar Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, dalam risetnya, Selasa (31/3/2026).
Baca Juga: Imbas Krisis Energi Global, Rupiah Pekan Depan Terancam Tembus Rp17.100
Ibrahim menambahkan, ancaman terhadap pasokan energi semakin nyata setelah kapal tanker minyak mentah milik Kuwait Petroleum Corp, Al Salmi, dihantam serangan yang diduga dilakukan Iran di pelabuhan Dubai. Kapal berbobot 2 juta barel itu diserang saat bermuatan penuh, memicu peringatan potensi tumpahan minyak besar di kawasan tersebut.
Sebelumnya, pasukan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran juga menargetkan Israel dengan rudal pada Sabtu lalu, memicu kekhawatiran gangguan terhadap Selat Bab el-Mandeb. Jalur sempit itu menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, menjadi rute utama kapal antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan akan "menghancurkan" pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Peringatan itu disampaikan setelah Iran menolak proposal perdamaian AS sebagai "tidak realistis" dan meluncurkan serangan rudal terbaru ke Israel. Meski demikian, Gedung Putih menyebut pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan berjalan baik.
Dari sentimen domestik, ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 hanya berada di kisaran 5,1-5,2%. Konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah menjadi pendorong utama, namun investasi dan net ekspor melambat akibat memburuknya kondisi global.
"Perang di Timur Tengah pada Maret 2026 menekan harga energi, pasar keuangan, dan nilai tukar. Namun dorongan musiman sangat kuat, seperti Ramadan, Idulfitri, THR, bansos, hingga arus mudik, yang tetap menopang belanja rumah tangga dan kegiatan ekonomi daerah," jelas Ibrahim.
Baca Juga: Rupiah Ambruk ke Rp17.002 per Dolar AS di Tengah Ketidakpastian Perang AS-Iran
Keyakinan konsumen pada Februari 2026 masih tinggi di level 125,2, disertai penguatan penjualan eceran dan PMI manufaktur di angka 53,8. Belanja negara juga tumbuh sangat cepat, sehingga dorongan dari sisi permintaan dan fiskal datang bersamaan. Namun, pola pertumbuhan yang masih didominasi konsumsi dinilai belum cukup sehat untuk jangka panjang.
Ibrahim mencatat, sinyal baik terlihat dari survei Bank Indonesia yang menunjukkan porsi pendapatan rumah tangga untuk konsumsi turun menjadi 71,6%, sementara porsi tabungan naik menjadi 17,7%. Artinya, rumah tangga mulai lebih berhati-hati meski tetap belanja.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.040 hingga Rp17.070 per dolar AS.
"Pelemahan ini dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global. Harga Brent berjangka melonjak 59% sepanjang Maret, kenaikan bulanan tertinggi dalam sejarah," ujar Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, dalam risetnya, Selasa (31/3/2026).
Baca Juga: Imbas Krisis Energi Global, Rupiah Pekan Depan Terancam Tembus Rp17.100
Ibrahim menambahkan, ancaman terhadap pasokan energi semakin nyata setelah kapal tanker minyak mentah milik Kuwait Petroleum Corp, Al Salmi, dihantam serangan yang diduga dilakukan Iran di pelabuhan Dubai. Kapal berbobot 2 juta barel itu diserang saat bermuatan penuh, memicu peringatan potensi tumpahan minyak besar di kawasan tersebut.
Sebelumnya, pasukan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran juga menargetkan Israel dengan rudal pada Sabtu lalu, memicu kekhawatiran gangguan terhadap Selat Bab el-Mandeb. Jalur sempit itu menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, menjadi rute utama kapal antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan akan "menghancurkan" pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Peringatan itu disampaikan setelah Iran menolak proposal perdamaian AS sebagai "tidak realistis" dan meluncurkan serangan rudal terbaru ke Israel. Meski demikian, Gedung Putih menyebut pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan berjalan baik.
Dari sentimen domestik, ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 hanya berada di kisaran 5,1-5,2%. Konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah menjadi pendorong utama, namun investasi dan net ekspor melambat akibat memburuknya kondisi global.
"Perang di Timur Tengah pada Maret 2026 menekan harga energi, pasar keuangan, dan nilai tukar. Namun dorongan musiman sangat kuat, seperti Ramadan, Idulfitri, THR, bansos, hingga arus mudik, yang tetap menopang belanja rumah tangga dan kegiatan ekonomi daerah," jelas Ibrahim.
Baca Juga: Rupiah Ambruk ke Rp17.002 per Dolar AS di Tengah Ketidakpastian Perang AS-Iran
Keyakinan konsumen pada Februari 2026 masih tinggi di level 125,2, disertai penguatan penjualan eceran dan PMI manufaktur di angka 53,8. Belanja negara juga tumbuh sangat cepat, sehingga dorongan dari sisi permintaan dan fiskal datang bersamaan. Namun, pola pertumbuhan yang masih didominasi konsumsi dinilai belum cukup sehat untuk jangka panjang.
Ibrahim mencatat, sinyal baik terlihat dari survei Bank Indonesia yang menunjukkan porsi pendapatan rumah tangga untuk konsumsi turun menjadi 71,6%, sementara porsi tabungan naik menjadi 17,7%. Artinya, rumah tangga mulai lebih berhati-hati meski tetap belanja.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.040 hingga Rp17.070 per dolar AS.
(nng)
Lihat Juga :