Diborong BRICS, Harga Emas Dunia Diramal Melambung Pekan Depan
Minggu, 26 April 2026 - 15:02 WIB
loading...
A
A
A
Ibrahim menjelaskan, eskalasi konflik serta potensi gagalnya perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran menjadi pemicu utama sentimen risk-off di pasar komoditas. Menurutnya, harga emas dunia yang saat ini berada di kisaran USD4.708 per troy ons masih memiliki ruang kenaikan hingga level resistensi USD4.779 per troy ons.
Jika skenario tersebut terjadi, harga emas domestik berpotensi bergerak ke kisaran Rp2,86 juta per gram. Namun demikian, apabila ketegangan mereda, harga emas diproyeksikan terkoreksi ke level support sekitar USD4.651 per troy ons atau setara Rp2,8 juta per gram.
Pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti fluktuasi indeks dolar, kebijakan bank sentral, serta keseimbangan pasokan dan permintaan global. Dari sisi mata uang, indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam rentang 96,6 hingga 102,5 seiring transisi kepemimpinan di Federal Reserve.
Baca Juga: Iran Tak akan Izinkan Siapa Pun Ekspor Minyak dari Timur Tengah jika Teheran Tidak Bisa
Pelaku pasar saat ini menanti peralihan Gubernur The Fed dari Jerome Powell kepada Kevin Warsh yang dinilai berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi di tengah tekanan inflasi. Selain faktor moneter, dinamika kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump juga menjadi sorotan.
Jika skenario tersebut terjadi, harga emas domestik berpotensi bergerak ke kisaran Rp2,86 juta per gram. Namun demikian, apabila ketegangan mereda, harga emas diproyeksikan terkoreksi ke level support sekitar USD4.651 per troy ons atau setara Rp2,8 juta per gram.
Pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti fluktuasi indeks dolar, kebijakan bank sentral, serta keseimbangan pasokan dan permintaan global. Dari sisi mata uang, indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam rentang 96,6 hingga 102,5 seiring transisi kepemimpinan di Federal Reserve.
Baca Juga: Iran Tak akan Izinkan Siapa Pun Ekspor Minyak dari Timur Tengah jika Teheran Tidak Bisa
Pelaku pasar saat ini menanti peralihan Gubernur The Fed dari Jerome Powell kepada Kevin Warsh yang dinilai berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi di tengah tekanan inflasi. Selain faktor moneter, dinamika kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump juga menjadi sorotan.
Lihat Juga :