AS Gantungkan Nasib ke Minyak Venezuela? Bos Chevron Beberkan Tantangannya
Senin, 27 April 2026 - 08:48 WIB
loading...
Di tengah kebuntuan pasokan energi akibat blokade Selat Hormuz, mata dunia kini tertuju pada Venezuela. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Di tengah kebuntuan pasokan energi akibat blokade Selat Hormuz , mata dunia kini tertuju pada minyak Venezuela . CEO Chevron Corp, Mike Wirth memberikan sinyal positif sekaligus peringatan keras terkait upaya menghidupkan kembali raksasa minyak Amerika Selatan tersebut sebagai solusi krisis energi global.
Dalam wawancaranya di program Face the Nation CBS, Wirth menyebut perubahan kebijakan minyak Venezuela di bawah kepemimpinan presiden pelaksana, Delcy Rodríguez menjadi kemajuan besar. Namun ia menegaskan bahwa langkah tersebut belum cukup untuk memicu banjir investasi asing yang diharapkan.
Baca Juga: Mengapa AS Kepincut Minyak Venezuela, Apa Istimewanya?
“Kebijakan ini bergerak ke arah yang positif, namun masih butuh banyak perbaikan. Mungkin belum cukup untuk mendatangkan tingkat investasi yang diinginkan,” ujar Wirth seperti dilansir Bloomberg.
Seperti diketahui Presiden Donald Trump kini gencar mendorong pemulihan produksi di Venezuela guna meredam lonjakan harga energi di dalam negeri. Wirth mengakui bahwa peningkatan produksi di sana akan sangat membantu keandalan pasokan energi di Amerika Serikat yang saat ini tertekan oleh konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, Wirth memberikan catatan kritis terkait tantangan di lapangan, dimana banyak pekerja terampil telah beremigrasi. Maka kondisi ini membuat pemulihan industri sangat bergantung pada kembalinya para ekspatriat.
Baca Juga: Mengapa Harga BBM di AS Tetap Mahal hingga Tembus Rp100 Ribu meski Produksi Melimpah? Ini Sebabnya
Infrastruktur minyak Venezuela juga butuh perbaikan total setelah bertahun-tahun terbengkalai. Wirth memperingatkan bahwa produksi minyak tidak bisa "dinyalakan" dalam sekejap. "Butuh teknik, rantai pasokan, kontrak, dan mobilisasi pekerja," tambahnya.
Mike Wirth juga menyatakan kewaspadaannya terhadap keputusan Trump yang menggunakan Defense Production Act untuk mendanai proyek energi federal secara darurat. Menurutnya, intervensi pemerintah dalam skala besar melalui dana federal membutuhkan ketelitian agar tidak merusak mekanisme pasar jangka panjang.
Di sisi lain, minat perusahaan minyak AS terhadap Venezuela dilaporkan terus tumbuh. Sejumlah eksekutif minyak yang bertemu Rodríguez di Caracas pekan lalu mendesak adanya jaminan keamanan investasi sebelum mereka menanamkan modal besar-besaran.
Dalam wawancaranya di program Face the Nation CBS, Wirth menyebut perubahan kebijakan minyak Venezuela di bawah kepemimpinan presiden pelaksana, Delcy Rodríguez menjadi kemajuan besar. Namun ia menegaskan bahwa langkah tersebut belum cukup untuk memicu banjir investasi asing yang diharapkan.
Era Baru Venezuela Pasca-Maduro
Setelah kejatuhan Nicolás Maduro pada Januari 2026, pemerintahan baru di bawah Delcy Rodríguez bergerak cepat menghapus kebijakan minyak nasionalis yang selama ini menghambat investor. Langkah ini diambil guna memikat kembali perusahaan migas raksasa, terutama dari Amerika Serikat.Baca Juga: Mengapa AS Kepincut Minyak Venezuela, Apa Istimewanya?
“Kebijakan ini bergerak ke arah yang positif, namun masih butuh banyak perbaikan. Mungkin belum cukup untuk mendatangkan tingkat investasi yang diinginkan,” ujar Wirth seperti dilansir Bloomberg.
Seperti diketahui Presiden Donald Trump kini gencar mendorong pemulihan produksi di Venezuela guna meredam lonjakan harga energi di dalam negeri. Wirth mengakui bahwa peningkatan produksi di sana akan sangat membantu keandalan pasokan energi di Amerika Serikat yang saat ini tertekan oleh konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, Wirth memberikan catatan kritis terkait tantangan di lapangan, dimana banyak pekerja terampil telah beremigrasi. Maka kondisi ini membuat pemulihan industri sangat bergantung pada kembalinya para ekspatriat.
Baca Juga: Mengapa Harga BBM di AS Tetap Mahal hingga Tembus Rp100 Ribu meski Produksi Melimpah? Ini Sebabnya
Infrastruktur minyak Venezuela juga butuh perbaikan total setelah bertahun-tahun terbengkalai. Wirth memperingatkan bahwa produksi minyak tidak bisa "dinyalakan" dalam sekejap. "Butuh teknik, rantai pasokan, kontrak, dan mobilisasi pekerja," tambahnya.
Mike Wirth juga menyatakan kewaspadaannya terhadap keputusan Trump yang menggunakan Defense Production Act untuk mendanai proyek energi federal secara darurat. Menurutnya, intervensi pemerintah dalam skala besar melalui dana federal membutuhkan ketelitian agar tidak merusak mekanisme pasar jangka panjang.
Di sisi lain, minat perusahaan minyak AS terhadap Venezuela dilaporkan terus tumbuh. Sejumlah eksekutif minyak yang bertemu Rodríguez di Caracas pekan lalu mendesak adanya jaminan keamanan investasi sebelum mereka menanamkan modal besar-besaran.
(akr)
Lihat Juga :