Indonesia Perluas Pasar Ekspor ke Eropa, Bidik Ceruk Ekonomi Rp21 Triliun
Senin, 27 April 2026 - 20:48 WIB
loading...
Pemerintah terus mendorong diversifikasi pasar ekspor dengan memperluas akses ke kawasan Eropa. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah terus mendorong diversifikasi pasar ekspor dengan memperluas akses ke kawasan Eropa guna menjaga kinerja perdagangan internasional tetap tumbuh. Langkah ini sekaligus diarahkan untuk membuka peluang ekonomi baru senilai Rp21 triliun melalui kerja sama dagang strategis.
"Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk memperkuat perekonomian, antara lain memperluas akses pasar. Dan perluasan akses pasar ini seluruhnya sesuai arahan Bapak Presiden," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam acara National Policy Dialogue dan Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI), Senin (27/4/2026).
Baca Juga: Harga Plastik Meroket 100%, Pemerintah Siapkan Stimulus untuk Industri
Airlangga menjelaskan, salah satu langkah konkret yang tengah dikejar adalah penyelesaian perjanjian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Perjanjian ini diharapkan dapat segera diratifikasi oleh parlemen Indonesia dan Uni Eropa untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk nasional.
Menurut dia, implementasi IEU-CEPA akan menjadi pintu masuk bagi ekspor Indonesia ke pasar Eropa yang potensinya mencapai Rp21 triliun. Selain itu, kerja sama tersebut juga diyakini mampu meningkatkan investasi dan memperkuat daya saing industri dalam negeri.
Dari sisi investasi, pemerintah mencatat realisasi penanaman modal pada triwulan I 2026 mencapai Rp498,79 triliun atau tumbuh 7,22 persen secara tahunan. Capaian ini turut menyerap tenaga kerja sebanyak 706.000 orang, mencerminkan dampak positif dari iklim investasi yang semakin kondusif.
Baca Juga: Prabowo Bentuk Satgas Percepatan Pertumbuhan Ekonomi, Airlangga Jadi Ketua
Airlangga menambahkan, kebutuhan pembiayaan nasional diperkirakan terus meningkat seiring ekspansi ekonomi, dari sekitar Rp7.400 triliun pada 2026 menjadi Rp9.200 triliun pada 2029. Oleh karena itu, peran sektor keuangan, termasuk pasar modal, menjadi semakin strategis dalam mendukung pembiayaan pembangunan.
Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi pasar modal sebagai sumber pendanaan melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Namun, ketidakpastian global pada awal tahun membuat sejumlah rencana IPO masih berada dalam tahap pipeline.
"Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk memperkuat perekonomian, antara lain memperluas akses pasar. Dan perluasan akses pasar ini seluruhnya sesuai arahan Bapak Presiden," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam acara National Policy Dialogue dan Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI), Senin (27/4/2026).
Baca Juga: Harga Plastik Meroket 100%, Pemerintah Siapkan Stimulus untuk Industri
Airlangga menjelaskan, salah satu langkah konkret yang tengah dikejar adalah penyelesaian perjanjian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Perjanjian ini diharapkan dapat segera diratifikasi oleh parlemen Indonesia dan Uni Eropa untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk nasional.
Menurut dia, implementasi IEU-CEPA akan menjadi pintu masuk bagi ekspor Indonesia ke pasar Eropa yang potensinya mencapai Rp21 triliun. Selain itu, kerja sama tersebut juga diyakini mampu meningkatkan investasi dan memperkuat daya saing industri dalam negeri.
Dari sisi investasi, pemerintah mencatat realisasi penanaman modal pada triwulan I 2026 mencapai Rp498,79 triliun atau tumbuh 7,22 persen secara tahunan. Capaian ini turut menyerap tenaga kerja sebanyak 706.000 orang, mencerminkan dampak positif dari iklim investasi yang semakin kondusif.
Baca Juga: Prabowo Bentuk Satgas Percepatan Pertumbuhan Ekonomi, Airlangga Jadi Ketua
Airlangga menambahkan, kebutuhan pembiayaan nasional diperkirakan terus meningkat seiring ekspansi ekonomi, dari sekitar Rp7.400 triliun pada 2026 menjadi Rp9.200 triliun pada 2029. Oleh karena itu, peran sektor keuangan, termasuk pasar modal, menjadi semakin strategis dalam mendukung pembiayaan pembangunan.
Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi pasar modal sebagai sumber pendanaan melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Namun, ketidakpastian global pada awal tahun membuat sejumlah rencana IPO masih berada dalam tahap pipeline.
(nng)
Lihat Juga :