IHSG Diprediksi Bergerak Mixed Tertekan Rebalancing MSCI dan Royalti Tambang
Senin, 11 Mei 2026 - 06:33 WIB
loading...
A
A
A
Namun, momentum tersebut terhenti pada Jumat (8/5) seiring munculnya sentimen negatif dari pengumuman usulan kenaikan tarif royalti mineral oleh Kementerian ESDM yang memicu aksi jual pada saham-saham sektor pertambangan dan energi dan memangkas sebagian besar gain yang telah terbentuk sepanjang pekan.
Di sisi investor asing, tekanan jual masih berlanjut dengan net sell sebesar Rp2,4 triliun di pasar reguler, mengindikasikan bahwa penguatan indeks lebih banyak ditopang oleh aliran dana domestik.
Baca Juga: IHSG Sepekan Merayap Tipis 0,18%, Kapitalisasi Pasar BEI Sentuh Rp12.406 Triliun
"Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah ia berpidato menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam perayaan Hari Kemenangan di Moskow yang berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya," jelasnya.
Ia menambahkan kekhawatiran terkait potensi wabah hantavirus tampak tidak terlalu mengganggu pasar data dari platform prediksi Kalshi menunjukkan probabilitas wabah hantavirus menjadi ancaman serius tahun ini hanya sebesar 21%. Angka ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar belum menganggap isu ini sebagai risiko yang perlu diperhitungkan secara signifikan.
Di sisi lain, perhatian pasar global kini tertuju pada pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, dimana isu perang Iran diperkirakan akan mendominasi agenda pembahasan.
"Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat," jelas Hari.
Di sisi investor asing, tekanan jual masih berlanjut dengan net sell sebesar Rp2,4 triliun di pasar reguler, mengindikasikan bahwa penguatan indeks lebih banyak ditopang oleh aliran dana domestik.
Sentimen Global dan Domestik dalam 3 Hari Perdagangan
Berbicara tentang potensi pergerakan market sepekan kedepan yang hanya akan berlangsung selama 3 hari perdagangan karena ada libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus (14-15 Mei 2026), Equity Analyst IPOT Hari Rachmansyah meyakini dari sisi perkembangan global, sejumlah dinamika geopolitik penting turut mewarnai sentimen pasar pekan depan.Baca Juga: IHSG Sepekan Merayap Tipis 0,18%, Kapitalisasi Pasar BEI Sentuh Rp12.406 Triliun
"Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah ia berpidato menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam perayaan Hari Kemenangan di Moskow yang berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya," jelasnya.
Ia menambahkan kekhawatiran terkait potensi wabah hantavirus tampak tidak terlalu mengganggu pasar data dari platform prediksi Kalshi menunjukkan probabilitas wabah hantavirus menjadi ancaman serius tahun ini hanya sebesar 21%. Angka ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar belum menganggap isu ini sebagai risiko yang perlu diperhitungkan secara signifikan.
Di sisi lain, perhatian pasar global kini tertuju pada pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, dimana isu perang Iran diperkirakan akan mendominasi agenda pembahasan.
"Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat," jelas Hari.
Lihat Juga :