Selat Hormuz Ditutup 70 Hari, Pasokan Minyak Dunia Terkuras 1 Miliar Barel
Rabu, 13 Mei 2026 - 22:06 WIB
loading...
A
A
A
Tekanan energi tersebut mulai mempengaruhi prospek ekonomi kawasan. Bank Pembangunan Asia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia tahun 2026 menjadi 4,7% dari sebelumnya 5,1%, sedangkan inflasi diperkirakan melonjak menjadi 5,2%. Bank Dunia juga memperkirakan harga energi global naik 24 persen pada 2026, tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina.
Baca Juga: Angkut Reaktor Nuklir ke Korut, Kapal Rusia Tenggelam setelah Ditembak Torpedo NATO
Untuk menstabilkan pasar, International Energy Agency (IEA) telah melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat sejak Maret lalu, sementara berbagai negara menarik tambahan 280 juta barel hingga akhir April. Meski demikian, Goldman Sachs memperkirakan stok minyak global dapat turun hingga setara 98 hari konsumsi pada akhir Mei.
Krisis energi juga mulai merembet ke sektor pangan dan nilai tukar mata uang negara berkembang. Harga pupuk diperkirakan naik 31% akibat lonjakan harga urea, sementara mata uang seperti rupee India, rupiah Indonesia, dan peso Filipina melemah ke level terendah historis.
“Secara historis, setiap gangguan minyak selalu berujung pada resesi. Biaya naik, belanja masyarakat turun, penerimaan pajak melemah, utang meningkat, dan inflasi semakin tinggi,” ujar Chen.
Baca Juga: Angkut Reaktor Nuklir ke Korut, Kapal Rusia Tenggelam setelah Ditembak Torpedo NATO
Untuk menstabilkan pasar, International Energy Agency (IEA) telah melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat sejak Maret lalu, sementara berbagai negara menarik tambahan 280 juta barel hingga akhir April. Meski demikian, Goldman Sachs memperkirakan stok minyak global dapat turun hingga setara 98 hari konsumsi pada akhir Mei.
Krisis energi juga mulai merembet ke sektor pangan dan nilai tukar mata uang negara berkembang. Harga pupuk diperkirakan naik 31% akibat lonjakan harga urea, sementara mata uang seperti rupee India, rupiah Indonesia, dan peso Filipina melemah ke level terendah historis.
“Secara historis, setiap gangguan minyak selalu berujung pada resesi. Biaya naik, belanja masyarakat turun, penerimaan pajak melemah, utang meningkat, dan inflasi semakin tinggi,” ujar Chen.
(nng)
Lihat Juga :