PLN EPI Siapkan Infrastruktur Gas, Kebutuhan Energi Primer Diproyeksi Tumbuh 5% per Tahun
Kamis, 21 Mei 2026 - 20:21 WIB
loading...
A
A
A
Dalam paparannya, PLN EPI mengacu pada RUPTL 2025–2034 yang memproyeksikan perubahan bauran energi pembangkitan nasional. Pada 2034, produksi listrik berbasis batu bara diproyeksikan mencapai 273,8 terawatt hour (TWh) atau sekitar 47% dari total bauran energi nasional. Sementara gas bumi diperkirakan mencapai 132,3 TWh atau 23%.
Adapun energi baru terbarukan (EBT) diproyeksikan mencapai 164,1 TWh atau sekitar 28% dan biomassa sebesar 8,1 TWh. Dalam skenario Accelerated Renewable Energy Development (ARED), porsi EBT bahkan diproyeksikan meningkat menjadi 190,9 TWh atau 33% pada 2034. Meski demikian, Anggoro menegaskan batu bara dan gas masih akan menjadi tulang punggung keandalan sistem kelistrikan selama masa transisi energi berlangsung. “Batu bara dan gas tetap berperan menjaga reliability sistem selama masa transisi, terutama untuk memenuhi stabilitas sistem,” ujarnya.
PLN EPI juga memproyeksikan kebutuhan energi primer sektor ketenagalistrikan akan terus meningkat hingga 2035 dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 5% per tahun. Dalam proyeksi tersebut, batu bara masih menjadi komponen terbesar dalam bauran energi primer pembangkitan. Sementara gas bumi akan memainkan peran penting sebagai energi transisi untuk mendukung fleksibilitas pembangkit di tengah meningkatnya penetrasi EBT.
Selain itu, PLN EPI juga mulai memperluas pemanfaatan biomassa melalui skema co-firing di PLTU. Menurut Anggoro, langkah ini membuka peluang bagi pelaku usaha nasional untuk masuk dalam rantai pasok biomassa. “Selain batu bara dan gas, nanti ada biomass. Ini opportunity juga untuk pengusaha muda,” ujarnya.
Adapun energi baru terbarukan (EBT) diproyeksikan mencapai 164,1 TWh atau sekitar 28% dan biomassa sebesar 8,1 TWh. Dalam skenario Accelerated Renewable Energy Development (ARED), porsi EBT bahkan diproyeksikan meningkat menjadi 190,9 TWh atau 33% pada 2034. Meski demikian, Anggoro menegaskan batu bara dan gas masih akan menjadi tulang punggung keandalan sistem kelistrikan selama masa transisi energi berlangsung. “Batu bara dan gas tetap berperan menjaga reliability sistem selama masa transisi, terutama untuk memenuhi stabilitas sistem,” ujarnya.
PLN EPI juga memproyeksikan kebutuhan energi primer sektor ketenagalistrikan akan terus meningkat hingga 2035 dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 5% per tahun. Dalam proyeksi tersebut, batu bara masih menjadi komponen terbesar dalam bauran energi primer pembangkitan. Sementara gas bumi akan memainkan peran penting sebagai energi transisi untuk mendukung fleksibilitas pembangkit di tengah meningkatnya penetrasi EBT.
Selain itu, PLN EPI juga mulai memperluas pemanfaatan biomassa melalui skema co-firing di PLTU. Menurut Anggoro, langkah ini membuka peluang bagi pelaku usaha nasional untuk masuk dalam rantai pasok biomassa. “Selain batu bara dan gas, nanti ada biomass. Ini opportunity juga untuk pengusaha muda,” ujarnya.
Lihat Juga :