PLN EPI Siapkan Infrastruktur Gas, Kebutuhan Energi Primer Diproyeksi Tumbuh 5% per Tahun
Kamis, 21 Mei 2026 - 20:21 WIB
loading...
A
A
A
Di sisi infrastruktur, PLN EPI menyiapkan pengembangan berbagai proyek midstream gas nasional yang tersebar dari Sumatra hingga Papua. Infrastruktur tersebut mencakup pembangunan FSRU, LNG carrier, ORU, hingga proyek gasifikasi di berbagai wilayah.
Beberapa proyek strategis yang dipaparkan antara lain FSRU Jawa Barat 1 dan 2, FSRU Jawa Timur, FSRU Bali, serta FSRU Cilegon. Total kapasitas regasifikasi yang disiapkan mencapai 3.850 million standard cubic feet per day (MMSCFD) dengan kapasitas penyimpanan LNG sebesar 1,2 juta meter kubik.
Baca Juga: Digitalisasi Rumah Bibit Biomassa, PLN EPI Perkuat Cofiring dan Ekonomi Desa
Menurut Anggoro, pembangunan infrastruktur gas menjadi penting karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan banyak sistem kelistrikan terisolasi. “Kita ini negara kepulauan, banyak sistem isolated di pulau-pulau kecil maupun besar. Ini merupakan tantangan tersendiri,” katanya.
Anggoro juga menyinggung dampak ketegangan geopolitik global, termasuk situasi di Selat Hormuz, terhadap sektor energi nasional. Meski demikian, ia memastikan kondisi pasokan energi primer PLN EPI masih relatif aman. Sementara untuk gas, PLN EPI mengandalkan kombinasi produksi domestik dan kemitraan global. Menurut Anggoro, kerja sama dengan mitra global menjadi penting karena sebagian produksi gas nasional masih terikat kontrak ekspor jangka panjang. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan partner global sangat diperlukan,” tandasnya.
Beberapa proyek strategis yang dipaparkan antara lain FSRU Jawa Barat 1 dan 2, FSRU Jawa Timur, FSRU Bali, serta FSRU Cilegon. Total kapasitas regasifikasi yang disiapkan mencapai 3.850 million standard cubic feet per day (MMSCFD) dengan kapasitas penyimpanan LNG sebesar 1,2 juta meter kubik.
Baca Juga: Digitalisasi Rumah Bibit Biomassa, PLN EPI Perkuat Cofiring dan Ekonomi Desa
Menurut Anggoro, pembangunan infrastruktur gas menjadi penting karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan banyak sistem kelistrikan terisolasi. “Kita ini negara kepulauan, banyak sistem isolated di pulau-pulau kecil maupun besar. Ini merupakan tantangan tersendiri,” katanya.
Anggoro juga menyinggung dampak ketegangan geopolitik global, termasuk situasi di Selat Hormuz, terhadap sektor energi nasional. Meski demikian, ia memastikan kondisi pasokan energi primer PLN EPI masih relatif aman. Sementara untuk gas, PLN EPI mengandalkan kombinasi produksi domestik dan kemitraan global. Menurut Anggoro, kerja sama dengan mitra global menjadi penting karena sebagian produksi gas nasional masih terikat kontrak ekspor jangka panjang. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan partner global sangat diperlukan,” tandasnya.
(nng)
Lihat Juga :