Negosiasi Damai AS-Iran Buntu, Harga Minyak Dunia Terkerek Lebih dari 1%
Jum'at, 22 Mei 2026 - 08:53 WIB
loading...
Harga minyak dunia menguat di tengah kebuntuan negosiasi damai antara AS dengan Iran. FOTO/Reuters
A
A
A
JAKARTA - Harga minyak dunia menguat lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (22/5), di tengah laporan komplikasi negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi berlanjutnya gangguan pasokan energi global.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pemimpin tertinggi Iran menginstruksikan agar uranium yang telah diperkaya mendekati tingkat senjata tidak dikirim ke luar negeri. Keputusan ini dinilai memperkeras posisi Iran terhadap salah satu tuntutan utama Amerika Serikat dalam perundingan damai.
"Langkah tersebut berpotensi memperumit upaya negosiasi yang bertujuan mengakhiri konflik antara AS, Israel, dan Iran," demikian dikutip dari laporan Reuters yang mengacu pada dua sumber senior Iran.
Baca Juga: Stok Menipis, Pasar Minyak Global Terancam Kritis dalam Tiga Bulan ke Depan
Harga minyak mentah Brent tercatat naik sebesar USD1,39 atau 1,3% menjadi USD106,41 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat USD1,56 atau 1,6% ke level USD99,82 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya kedua acuan harga tersebut sempat melemah sekitar 5,6% ke level terendah dalam lebih dari sepekan.
Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi dinamika diplomasi yang masih belum pasti. Pakistan dilaporkan meningkatkan upaya untuk mempercepat pembicaraan damai, sementara Iran tengah meninjau respons terbaru dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan kemungkinan memberikan waktu tambahan bagi Iran untuk memberikan jawaban, sembari tetap membuka opsi aksi militer lanjutan.
Di sisi lain, Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya menyalurkan sekitar 20% kebutuhan energi global. Pembatasan lalu lintas kapal di kawasan tersebut, meskipun konflik bersenjata mereda pascagencatan senjata April lalu, terus menekan distribusi minyak dunia.
Baca Juga: Negaranya Diserang Drone, PM dan Presiden Negara NATO Ini Ngumpet di Bunker
Gangguan pasokan dari Timur Tengah memaksa negara-negara konsumen untuk mengandalkan cadangan minyak, baik komersial maupun strategis. Data Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan bahwa Amerika Serikat menarik sekitar 10 juta barel dari cadangan minyak strategisnya dalam sepekan terakhir, menjadi penarikan terbesar sepanjang sejarah.
Kepala Riset Minyak dan Gas Global HSBC Kim Fustier menyatakan, pelemahan permintaan dari China, peningkatan ekspor dari kawasan Atlantik, serta pelepasan cadangan strategis telah membantu meredam tekanan pasar dalam jangka pendek. Namun, ketidakpastian geopolitik dan potensi berlanjutnya gangguan pasokan dinilai tetap menjadi faktor utama yang akan memengaruhi arah harga minyak global dalam waktu dekat.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pemimpin tertinggi Iran menginstruksikan agar uranium yang telah diperkaya mendekati tingkat senjata tidak dikirim ke luar negeri. Keputusan ini dinilai memperkeras posisi Iran terhadap salah satu tuntutan utama Amerika Serikat dalam perundingan damai.
"Langkah tersebut berpotensi memperumit upaya negosiasi yang bertujuan mengakhiri konflik antara AS, Israel, dan Iran," demikian dikutip dari laporan Reuters yang mengacu pada dua sumber senior Iran.
Baca Juga: Stok Menipis, Pasar Minyak Global Terancam Kritis dalam Tiga Bulan ke Depan
Harga minyak mentah Brent tercatat naik sebesar USD1,39 atau 1,3% menjadi USD106,41 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat USD1,56 atau 1,6% ke level USD99,82 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya kedua acuan harga tersebut sempat melemah sekitar 5,6% ke level terendah dalam lebih dari sepekan.
Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi dinamika diplomasi yang masih belum pasti. Pakistan dilaporkan meningkatkan upaya untuk mempercepat pembicaraan damai, sementara Iran tengah meninjau respons terbaru dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan kemungkinan memberikan waktu tambahan bagi Iran untuk memberikan jawaban, sembari tetap membuka opsi aksi militer lanjutan.
Di sisi lain, Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya menyalurkan sekitar 20% kebutuhan energi global. Pembatasan lalu lintas kapal di kawasan tersebut, meskipun konflik bersenjata mereda pascagencatan senjata April lalu, terus menekan distribusi minyak dunia.
Baca Juga: Negaranya Diserang Drone, PM dan Presiden Negara NATO Ini Ngumpet di Bunker
Gangguan pasokan dari Timur Tengah memaksa negara-negara konsumen untuk mengandalkan cadangan minyak, baik komersial maupun strategis. Data Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan bahwa Amerika Serikat menarik sekitar 10 juta barel dari cadangan minyak strategisnya dalam sepekan terakhir, menjadi penarikan terbesar sepanjang sejarah.
Kepala Riset Minyak dan Gas Global HSBC Kim Fustier menyatakan, pelemahan permintaan dari China, peningkatan ekspor dari kawasan Atlantik, serta pelepasan cadangan strategis telah membantu meredam tekanan pasar dalam jangka pendek. Namun, ketidakpastian geopolitik dan potensi berlanjutnya gangguan pasokan dinilai tetap menjadi faktor utama yang akan memengaruhi arah harga minyak global dalam waktu dekat.
(nng)
Lihat Juga :