Kurs Rupiah Hari Ini Balik Terkapar ke Rp17.716 per Dolar AS, Investor Masih Ragu?
Jum'at, 22 Mei 2026 - 18:45 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup balik melemah, dan diramal tekanan terhadap mata uang Garuda masih akan berlanjut pada pekan depan dengan potensi pelemahan hingga menembus level Rp17.800 per Dolar AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Jumat (22/5/2026) usai turun 49,5 poin atau sekitar 0,28% ke level Rp17.716 per dolar AS. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap mata uang Garuda masih akan berlanjut pada pekan depan dengan potensi pelemahan hingga menembus level Rp17.800 per Dolar AS.
Ibrahim memperkirakan, pergerakan kurs pada pembukaan perdagangan hari Senin mendatang masih akan dibuka melemah sebelum bergerak dalam rentang yang lebih lebar sepanjang sepekan penuh.
"Hari ini rupiah ditutup melemah ya di Rp17.716 yaitu 40 melemah 47 poin. Kemungkinan besar dalam minggu depan di hari Senin rupiah dibuka melemah juga di Rp17.710 sampai Rp17.760. Untuk sepekan ya kemungkinan besar di Rp17.680 sampai di Rp17.800 yaitu perkiraan untuk rupiah," papar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga: Rupiah dan Ujian Kepercayaan
Dari faktor eksternal, Ibrahim membeberkan bahwa pelemahan Rupiah dipicu oleh keraguan para investor global terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah, khususnya perundingan antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan.
Isu pemblokiran Selat Hormuz serta pengayaan uranium disinyalir masih menjadi batu sandungan utama. Ketegangan geopolitik yang diperkirakan bisa berlarut-larut hingga tahun 2027 ini mengerek harga minyak dunia, yang pada gilirannya memicu lonjakan inflasi global dan memaksa bank sentral dunia, termasuk The Fed, untuk mempertahankan sikap moneter yang restriktif (hawkish).
"Nah apa yang menyebabkan rupiah melemah? Yang pertama adalah dari segi eksternal dimana investor meragukan tentang prospek terobosan dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat Iran yang diperkarsai oleh Pakistan. Karena kita lihat bahwa salah satu senior Iran mengatakan ya bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan yang tercapai dengan Amerika Serikat. Tetapi kita harus melihat juga bahwa permasalahan utama itu adalah tentang masalah program penghutan untuk selat hormuz," jelas Ibrahim.
Baca Juga: Pede Rupiah Menguat Mulai Juli 2026, Gubernur BI Ungkap Penyebab Mata Uang Garuda Kolaps
Ibrahim bahkan melihat penunjukan pimpinan baru bank sentral AS belum akan mengubah arah kebijakan moneter karena kuatnya tekanan inflasi dan risiko perang yang kian tidak menentu.
"Nah dampak inflasi ini kemungkinan besar akan menyasar terhadap sentimen Bank Sentral Global ini akan kembali mempertahankan suku bunga bahkan menaikkan suku bunga. Ada kemungkinan besar dalam apa sampai akhir tahun ya Bank Sentral Amerika ini akan menaikkan suku bunga 50 basis point,” ungkapnya.
Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah diperparah oleh respons negatif lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global terhadap isi pidato ekonomi Presiden baru-baru ini di DPR.
S&P mengindikasikan adanya potensi penurunan peringkat utang Indonesia akibat risiko pelebaran defisit fiskal. Selain itu, target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,8% hingga 6% dinilai pelaku pasar terlalu optimistis di tengah situasi global yang bergejolak.
Ibrahim juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap pengelolaan komoditas satu pintu melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang dinilai berisiko memicu monopoli, sehingga memicu derasnya arus modal asing keluar (capital outflow).
Dampaknya, bauran jurus intervensi dari Bank Indonesia maupun operasi pasar Surat Berharga Negara (SBN) oleh Menteri Keuangan belum mampu membalikkan arah kemerosotan Rupiah.
"Nah ini yang secara eksternal. Nah secara internal pun juga pidato presiden kemarin di DPR ini pun juga direview oleh pemerintah internasional salah satunya S&P Global yang kemungkinan besar akan menurunkan peringkat rating hutang Indonesia,” ujarnya.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.680-Rp17.800 per dolar AS.
Ibrahim memperkirakan, pergerakan kurs pada pembukaan perdagangan hari Senin mendatang masih akan dibuka melemah sebelum bergerak dalam rentang yang lebih lebar sepanjang sepekan penuh.
"Hari ini rupiah ditutup melemah ya di Rp17.716 yaitu 40 melemah 47 poin. Kemungkinan besar dalam minggu depan di hari Senin rupiah dibuka melemah juga di Rp17.710 sampai Rp17.760. Untuk sepekan ya kemungkinan besar di Rp17.680 sampai di Rp17.800 yaitu perkiraan untuk rupiah," papar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga: Rupiah dan Ujian Kepercayaan
Dari faktor eksternal, Ibrahim membeberkan bahwa pelemahan Rupiah dipicu oleh keraguan para investor global terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah, khususnya perundingan antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan.
Isu pemblokiran Selat Hormuz serta pengayaan uranium disinyalir masih menjadi batu sandungan utama. Ketegangan geopolitik yang diperkirakan bisa berlarut-larut hingga tahun 2027 ini mengerek harga minyak dunia, yang pada gilirannya memicu lonjakan inflasi global dan memaksa bank sentral dunia, termasuk The Fed, untuk mempertahankan sikap moneter yang restriktif (hawkish).
"Nah apa yang menyebabkan rupiah melemah? Yang pertama adalah dari segi eksternal dimana investor meragukan tentang prospek terobosan dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat Iran yang diperkarsai oleh Pakistan. Karena kita lihat bahwa salah satu senior Iran mengatakan ya bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan yang tercapai dengan Amerika Serikat. Tetapi kita harus melihat juga bahwa permasalahan utama itu adalah tentang masalah program penghutan untuk selat hormuz," jelas Ibrahim.
Baca Juga: Pede Rupiah Menguat Mulai Juli 2026, Gubernur BI Ungkap Penyebab Mata Uang Garuda Kolaps
Ibrahim bahkan melihat penunjukan pimpinan baru bank sentral AS belum akan mengubah arah kebijakan moneter karena kuatnya tekanan inflasi dan risiko perang yang kian tidak menentu.
"Nah dampak inflasi ini kemungkinan besar akan menyasar terhadap sentimen Bank Sentral Global ini akan kembali mempertahankan suku bunga bahkan menaikkan suku bunga. Ada kemungkinan besar dalam apa sampai akhir tahun ya Bank Sentral Amerika ini akan menaikkan suku bunga 50 basis point,” ungkapnya.
Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah diperparah oleh respons negatif lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global terhadap isi pidato ekonomi Presiden baru-baru ini di DPR.
S&P mengindikasikan adanya potensi penurunan peringkat utang Indonesia akibat risiko pelebaran defisit fiskal. Selain itu, target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,8% hingga 6% dinilai pelaku pasar terlalu optimistis di tengah situasi global yang bergejolak.
Ibrahim juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap pengelolaan komoditas satu pintu melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang dinilai berisiko memicu monopoli, sehingga memicu derasnya arus modal asing keluar (capital outflow).
Dampaknya, bauran jurus intervensi dari Bank Indonesia maupun operasi pasar Surat Berharga Negara (SBN) oleh Menteri Keuangan belum mampu membalikkan arah kemerosotan Rupiah.
"Nah ini yang secara eksternal. Nah secara internal pun juga pidato presiden kemarin di DPR ini pun juga direview oleh pemerintah internasional salah satunya S&P Global yang kemungkinan besar akan menurunkan peringkat rating hutang Indonesia,” ujarnya.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.680-Rp17.800 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :