Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Kamis, 28 Mei 2026 - 15:39 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Demi Bertahan Hidup, Singapura Disebut Siapkan Serangan Finansial ke Indonesia
Imbas perang Iran dan krisis Timur Tengah masih membayangi, tidak terkecuali buat negara tetangga Indonesia ini. Konflik bersenjata yang belum reda telah mengacaukan rantai pasok logistik laut dan memicu volatilitas harga energi global.
Bulan lalu, Otoritas Moneter Singapura (MAS) bahkan terpaksa memperketat kebijakan moneter untuk membentengi negara dari risiko lonjakan inflasi akibat perang Iran. MAS pun mengerek proyeksi inflasi inti 2026 naik ke kisaran 1,5% hingga 2,5%.
Selanjutnya ada ancaman sanksi dagang Donald Trump. Singapura masuk dalam daftar investigasi "Section 301" oleh pemerintahan Trump terkait tarif dagang AS.
Beh Swan Gin mengungkapkan tim Singapura baru saja kembali dari negosiasi di AS, dan mereka menegaskan "tidak ada kejutan positif" alias situasi perdagangan dengan AS berpotensi mengetat dan merugikan eksportir.
Berbeda dengan Indonesia yang menggunakan suku bunga acuan (BI-Rate), Singapura mengendalikan moneter dan inflasi mereka dengan cara menaikkan atau menurunkan nilai tukar Dolar Singapura (SGD) terhadap mata uang mitra dagang utama mereka dalam rentang target tertentu.
Imbas perang Iran dan krisis Timur Tengah masih membayangi, tidak terkecuali buat negara tetangga Indonesia ini. Konflik bersenjata yang belum reda telah mengacaukan rantai pasok logistik laut dan memicu volatilitas harga energi global.
Bulan lalu, Otoritas Moneter Singapura (MAS) bahkan terpaksa memperketat kebijakan moneter untuk membentengi negara dari risiko lonjakan inflasi akibat perang Iran. MAS pun mengerek proyeksi inflasi inti 2026 naik ke kisaran 1,5% hingga 2,5%.
Selanjutnya ada ancaman sanksi dagang Donald Trump. Singapura masuk dalam daftar investigasi "Section 301" oleh pemerintahan Trump terkait tarif dagang AS.
Beh Swan Gin mengungkapkan tim Singapura baru saja kembali dari negosiasi di AS, dan mereka menegaskan "tidak ada kejutan positif" alias situasi perdagangan dengan AS berpotensi mengetat dan merugikan eksportir.
Berbeda dengan Indonesia yang menggunakan suku bunga acuan (BI-Rate), Singapura mengendalikan moneter dan inflasi mereka dengan cara menaikkan atau menurunkan nilai tukar Dolar Singapura (SGD) terhadap mata uang mitra dagang utama mereka dalam rentang target tertentu.
(akr)
Lihat Juga :