Bukan Cuma Harga Minyak, Tata Kelola APBN yang Buruk Jadi Biang Kerok Lemahnya Rupiah
Jum'at, 17 Juli 2026 - 14:30 WIB
loading...
Sejumlah ekonom menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak semata-mata dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah dunia. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Sejumlah ekonom menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak semata-mata dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah dunia, tetapi juga ditentukan oleh disiplin fiskal dan kualitas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah dinilai memegang peran penting dalam membangun kepercayaan pelaku pasar melalui kebijakan fiskal yang kredibel dan berkelanjutan.
"Permasalahan pelemahan rupiah saat ini, menurut saya, PR yang besarnya itu adalah di pemerintah. Jadi, untuk bisa lebih membuat rupiah ini betul-betul stabil, pemerintah harus membuktikan kinerja dan tata kelola terkait dengan arah kebijakan program-program prioritas dan manajemen dari sisi fiskal," kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia M. Faisal kepada SindoNews, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: Rupiah Ambruk Diterpa Mega Korupsi hingga Konflik AS-Iran, Hari ini Tembus Rp18.109 per USD
Faisal mengatakan pelaku pasar saat ini lebih mencermati konsistensi kebijakan pemerintah dan pengelolaan fiskal dibandingkan hanya melihat perkembangan faktor eksternal. Menurut dia, meski gejolak global seperti memanasnya situasi di kawasan Teluk memengaruhi harga minyak dan arus modal, faktor tersebut berada di luar kendali pemerintah sehingga fondasi ekonomi domestik menjadi penentu utama stabilitas rupiah.
Ia menambahkan pemerintah tidak dapat bergantung pada kondisi eksternal untuk menjaga nilai tukar. Oleh karena itu, penguatan fundamental ekonomi melalui tata kelola fiskal yang baik dinilai menjadi langkah paling efektif untuk meredam tekanan terhadap rupiah dalam jangka panjang.
"Permasalahan pelemahan rupiah saat ini, menurut saya, PR yang besarnya itu adalah di pemerintah. Jadi, untuk bisa lebih membuat rupiah ini betul-betul stabil, pemerintah harus membuktikan kinerja dan tata kelola terkait dengan arah kebijakan program-program prioritas dan manajemen dari sisi fiskal," kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia M. Faisal kepada SindoNews, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: Rupiah Ambruk Diterpa Mega Korupsi hingga Konflik AS-Iran, Hari ini Tembus Rp18.109 per USD
Faisal mengatakan pelaku pasar saat ini lebih mencermati konsistensi kebijakan pemerintah dan pengelolaan fiskal dibandingkan hanya melihat perkembangan faktor eksternal. Menurut dia, meski gejolak global seperti memanasnya situasi di kawasan Teluk memengaruhi harga minyak dan arus modal, faktor tersebut berada di luar kendali pemerintah sehingga fondasi ekonomi domestik menjadi penentu utama stabilitas rupiah.
Ia menambahkan pemerintah tidak dapat bergantung pada kondisi eksternal untuk menjaga nilai tukar. Oleh karena itu, penguatan fundamental ekonomi melalui tata kelola fiskal yang baik dinilai menjadi langkah paling efektif untuk meredam tekanan terhadap rupiah dalam jangka panjang.
Lihat Juga :