Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi

Kamis, 04 Juni 2026 - 11:30 WIB
loading...
Mengenal Lipstick Effect,...
Fenomena lipstick effect atau efek lipstik menjadi gambaran nyata perilaku konsumen tetap konsumtif membeli barang-barang kemewahan kecil di tengah krisis ekonomi. FOTO/AP
A A A
JAKARTA - Fenomena lipstick effect atau efek lipstik menjadi gambaran nyata perilaku konsumen tetap konsumtif membeli barang-barang kemewahan kecil di tengah krisis ekonomi atau resesi. Tumpuan belanja masyarakat bergeser dari barang bernilai besar (big-ticket items) ke komoditas mewah yang lebih terjangkau sebagai upaya psikologis untuk mempertahankan rasa normal dan penghargaan diri.

"Saat pendapatan konsumen menurun, mereka akan melepaskan pembelian barang mewah berharga mahal yang tidak lagi terjangkau, dan sebaliknya membelanjakan sisa pendapatan diskresioner mereka untuk barang mewah yang jauh lebih kecil," tulis laporan analisis ekonomi finansial Investopedia dikutip pada Kamis (4/6).

Baca Juga: Rupiah Jebol Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pelemahan Terburuk Sepanjang Sejarah

Secara fundamental, teori ekonomi makro memandang fenomena ini sebagai manifestasi dari efek pendapatan (income effect) dan efek substitusi (substitution effect). Ketika daya beli menyusut, barang-barang tertentu yang dikategorikan sebagai inferior goods atau barang bermutu rendah dalam lini kemewahan justru akan mengalami peningkatan permintaan yang signifikan di pasar.

Selain produk kosmetik seperti lipstik premium, industri lain yang biasanya mencatatkan kinerja positif di tengah resesi adalah coffee shop, restoran cepat saji kasual hingga bioskop. Konsumen yang kondisi keuangannya sedang terjepit cenderung mencari pelarian instan yang murah untuk melupakan masalah finansial mereka dibandingkan harus berlibur mahal ke luar negeri.



Basis teoritis lain dari efek lipstik ini juga berkaitan erat dengan kondisi pasar tenaga kerja yang menjadi jauh lebih kompetitif selama masa resesi ekonomi. Situasi tersebut mendorong para pencari kerja maupun karyawan untuk membelanjakan uang pada barang-barang yang dapat meningkatkan citra visual serta daya saing mereka di hadapan perusahaan.

Istilah lipstick effect pertama kali dicetuskan oleh sosiolog Juliet Schor dalam bukunya yang berjudul "The Overspent American" pada tahun 1998 silam. Namun, konsep ini kian populer secara global setelah Chairman Estée Lauder, Leonard Lauder, mengonfirmasi lonjakan tajam penjualan lipstik perusahaannya pasca-serangan teror September 2001 di AS.

Kendati berbasis pada teori ekonomi yang solid, kegunaan efek lipstik sebagai indikator utama untuk memprediksi datangnya resesi dinilai memiliki keterbatasan besar bagi publik dan investor retail. Hambatan utama terletak pada sulitnya mengakses data penjualan produk perawatan diri dan kesehatan secara berkala dan tepat waktu tanpa adanya jeda waktu (lag time).

Baca Juga: IHSG Rontok Lagi Hari Ini, Tak Lama Pembukaan Anjlok 1,25% ke 5.866

Lembaga resmi seperti Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) dan Biro Sensus AS mempublikasikan data pengeluaran konsumsi pribadi secara berkala, namun kerap kali terlambat beberapa bulan. Akibatnya, indikator ini hanya efektif digunakan oleh internal korporasi kosmetik besar untuk merancang anggaran mereka sendiri bukan untuk alat proyeksi pasar saham yang dinamis.

Di samping itu, kekuatan prediksi dari lipstick effect ini juga dapat memudar apabila sebuah negara jatuh ke dalam jurang kontraksi ekonomi yang sangat parah atau depresi jangka panjang. Jika pendapatan masyarakat terus merosot tajam, konsumen pada akhirnya akan terpaksa memangkas seluruh jenis pengeluaran non-esensial, termasuk kesenangan kecil seperti "ngopi premium" atau kosmetik.

Menyikapi fenomena lipstick effect, para pelaku usaha di sektor retail biasanya menyusun strategi adaptif dalam menghadapi perlambatan ekonomi domestik maupun global. Menyediakan opsi produk berkonsep "kemewahan terjangkau" terbukti menjadi kunci bertahan bagi industri di tengah ketidakpastian daya beli masyarakat.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Stimulus Jumbo Lintas...
Stimulus Jumbo Lintas Sektor Rp26,34 Triliun Resmi Meluncur, Berikut Rincian Alokasinya
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Fuad Bawazier: Isu Ganti...
Fuad Bawazier: Isu Ganti Purbaya bukan Fakta, tapi Perlawanan terhadap Paradigma Baru
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Sinergi Pemprov DKI...
Sinergi Pemprov DKI dan BI, Inflasi Jakarta Melandai pada Mei
Rekomendasi
Tak Ditahan, Roy Suryo...
Tak Ditahan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Dikenakan Wajib Lapor
BKKBN Tekankan Peran...
BKKBN Tekankan Peran Ayah Kunci Pembentukan Karakter Anak
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Perkuat Layanan Digital...
Perkuat Layanan Digital melalui Care+, LGI Hadirkan Fitur Wellness
Pasokan Seret Batu Bara...
Pasokan Seret Batu Bara Picu Pemadaman Listrik, Legislator Soroti Lambannya Persetujuan RKAB
MyPertamina Gelar Program...
MyPertamina Gelar Program Pesta Bola, Tingkatkan Engagement melalui Ekosistem Digital
Dorong Ekonomi Desa...
Dorong Ekonomi Desa Binaan, Program Genera-Z Berbakti BCA Siap Masuki Fase Implementasi
Insentif Motor Listrik...
Insentif Motor Listrik Ditunda Satu Bulan, Menko Airlangga: Masih Dikaji
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved