Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data

Jum'at, 05 Juni 2026 - 23:27 WIB
loading...
Masyarakat Diminta Tak...
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede menilai, masyarakat tidak perlu merespons perkembangan ekonomi saat ini dengan kekhawatiran berlebihan. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede menilai, masyarakat tidak perlu merespons perkembangan ekonomi saat ini dengan kekhawatiran berlebihan. Menurutnya, berbagai indikator utama menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan global.

Dalam Komunita Economic Talk bertajuk Membaca Tantangan dan Peluang Ekonomi Indonesia Saat Ini yang digelar di Jakarta pada Jumat (5/6/2026), Josua menjelaskan bahwa kondisi ekonomi yang terjadi saat ini lebih merupakan fase penyesuaian terhadap dinamika global dibandingkan sinyal menuju krisis.

"Yang perlu dipahami adalah bahwa kondisi saat ini merupakan fase penyesuaian terhadap dinamika global, bukan sinyal krisis. Karena itu, yang lebih penting adalah menjaga optimisme yang rasional berdasarkan data dan fundamental ekonomi yang ada," jelasnya.

Baca Juga: Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?

Menurut Josua, ketahanan ekonomi nasional tidak terlepas dari sinergi berbagai lembaga yang memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas. Ia menilai koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berjalan dengan baik sehingga mampu meredam dampak gejolak ekonomi global.

Ia menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan berfokus menjaga kesehatan fiskal dan Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN , sementara Bank Indonesia bertanggung jawab terhadap kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar. Di sisi lain, OJK bersama Bursa Efek Indonesia berperan menjaga stabilitas sektor jasa keuangan dan pasar modal.

"Soal Kementerian Keuangan, fungsinya lebih ke aspek fiskalnya. Kalau Bank Indonesia ngurusin moneter, OJK ngurusin pasar keuangan. Dan ini harus saling bersinergi ketiganya," ujarnya.



Josua menilai sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kondisi yang positif. Konsumsi masyarakat sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi masih tumbuh, inflasi tetap berada dalam rentang terkendali, sektor perbankan berada dalam kondisi sehat, dan APBN masih mampu menjalankan fungsi stabilisasi ekonomi.

Selain itu pertumbuhan ekonomi nasional masih berada pada level yang relatif tinggi dan daya beli masyarakat tetap terjaga seiring inflasi yang terkendali. Konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga masih mencatatkan pertumbuhan yang solid.

Baca Juga: 4 Temuan Penting di Tengah Kejatuhan IHSG Hampir 30% dan Rupiah Mendekati Rp18.000/USD

Dari sisi pasar keuangan, aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih mencatatkan tren positif. Kondisi tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga meskipun ketidakpastian global meningkat.

"Kepercayaan investor tetap terjaga karena fundamental ekonomi Indonesia masih dipandang kuat. Ini menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas ekonomi ke depan," katanya.

Terkait pelemahan nilai tukar rupiah, Josua menegaskan bahwa kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal dibandingkan masalah struktural di dalam negeri. Menurutnya, penguatan dolar Amerika Serikat terjadi secara global akibat kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju serta meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Karena itu, pelemahan rupiah saat ini tidak dapat diartikan sebagai indikasi bahwa ekonomi Indonesia sedang mengalami persoalan fundamental.

"Tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Yang membedakan dengan masa lalu adalah saat ini kondisi perbankan nasional jauh lebih kuat, likuiditas terjaga, dan koordinasi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, serta otoritas sektor keuangan berjalan dengan baik," ujarnya.

Josua juga menepis anggapan bahwa Indonesia sedang menuju krisis seperti yang terjadi pada tahun 1998. Menurutnya, struktur perekonomian Indonesia saat ini memiliki ketahanan yang jauh lebih baik dibandingkan saat krisis Asia terjadi hampir tiga dekade lalu.

"Kalau dibandingkan dengan 1998, situasinya sangat jauh berbeda. Saat ini instrumen kebijakan dan fondasi ekonomi kita jauh lebih kuat untuk menghadapi gejolak global," jelasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Orang Kaya Diminta Lepas...
Orang Kaya Diminta Lepas Dolar, Dasco Sebut Rupiah Menguat Minggu Depan
Dasco Kasih Bocoran...
Dasco Kasih Bocoran Pemerintah Punya Strategi Khusus Atasi Pelemahan Rupiah
Rupiah Melemah, Perajin...
Rupiah Melemah, Perajin Tahu Tempe Gelisah Imbas Lonjakan Harga Kedelai Impor
Rupiah Membaik Tinggalkan...
Rupiah Membaik Tinggalkan Level Rp18.000 per USD, Ini Sentimennya
Purbaya Targetkan Ekonomi...
Purbaya Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5% di 2027
BI Rate Naik Demi Menahan...
BI Rate Naik Demi Menahan Tekanan Rupiah dan Capital Outflow
Mendagri Minta Tambahan,...
Mendagri Minta Tambahan, Total Pagu Anggaran 2027 Rp10 Triliun
Rupiah dan IHSG Menguat,...
Rupiah dan IHSG Menguat, SBY: Ada Good News untuk Kita Semua
Wali Kota Tangsel Dorong...
Wali Kota Tangsel Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Penggerak UMKM-Ekonomi Kerakyatan
Rekomendasi
Paula Verhoeven Dicecar...
Paula Verhoeven Dicecar 30 Pertanyaan soal Kasus Hanania Group, Ini Pengakuannya!
Fundamental Solid, Perbanas...
Fundamental Solid, Perbanas Tegaskan Kesiapan Perbankan Dukung Ekonomi RI
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Berita Terkini
AirNav Gandeng AdMedika...
AirNav Gandeng AdMedika Permudah Akses Layanan Kesehatan Karyawan
IHSG Ditutup Melemah...
IHSG Ditutup Melemah 0,28% ke Level 5.902 Sore Ini
XLSMART dan Komdigi...
XLSMART dan Komdigi Luncurkan DigiHer, Targetkan Digitalisasi 2,4 Juta Perempuan di 2026
Nasabah MNC Bank Apresiasi...
Nasabah MNC Bank Apresiasi Program Tabungan Dahsyat Berhadiah
MNC Bank Serahkan Hadiah...
MNC Bank Serahkan Hadiah Tabungan Dahsyat Berhadiah ke Nasabah Jakarta, Depok, dan Bogor
Andalkan Segmen Rumah...
Andalkan Segmen Rumah Tapak, HBAT Bukukan Penjualan Rp24,53 Miliar di 2025
Infografis
Jadi Jantung Ekonomi...
Jadi Jantung Ekonomi RI, Jumlah Kelas Menengah Turun Drastis
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved