Kenaikan Kurs Dolar dan Harga Energi Hantam Industri Galangan Kapal Nasional
Selasa, 09 Juni 2026 - 12:53 WIB
loading...
Industri galangan kapal nasional masih memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap komponen impor, sehingga sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dolar AS (USD). Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah menciptakan tantangan yang semakin berat buat industri galangan kapal nasional. Diperparah lagi dengan meningkatnya harga energi dan berbagai bahan baku yang digunakan dalam proses pembangunan kapal baru ataupun reparasi.
Ketua Umum Institusi Galangan Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita Puji Utami mengatakan, tekanan terhadap industri galangan kapal semakin terasa seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang berdampak terhadap jalur perdagangan internasional itu, khususnya di kawasan Selat Hormuz, telah memicu kenaikan harga berbagai komoditas dan material yang dibutuhkan industri galangan kapal.
"Dampak tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri," kata Anita dalam keterangannya, Senin (8/6).
Baca Juga: Industri Galangan Kapal Terus Menggeliat Jawab Keraguan Presiden
Data yang dihimpun Iperindo menunjukkan, harga Solar B40 mengalami kenaikan hingga 89,19%. Selain itu harga LPG 12 kg meningkat 16,16%, dan LPG 50 kg naik 26,51% dibandingkan periode sebelumnya.
"Khusus untuk pemakaian bahan bakar industri di galangan kapal, harapannya bisa mendapatkan BBM subsidi dari pemerintah," kata Anita.
Kenaikan juga terjadi pada berbagai material utama produksi, misalnya plat baja yang merupakan bahan pokok pembangunan kapal tercatat naik antara 7-12,60%. Sementara harga cat kapal mengalami kenaikan sekitar 21% yang turut menambah beban biaya operasional galangan.
Tidak hanya itu, komponen pendukung lainnya seperti zinc anode dan aluminium anode juga mengalami kenaikan masing-masing 12,87% dan 13,61%. Harga oli untuk kebutuhan operasional mesin dan peralatan galangan naik antara 15 hingga 40%, sedangkan bahan plastik meningkat sekitar 30 hingga 50%.
Baca Juga: AS Memiliki Akses ke Galangan Kapal Selam Nuklir Punya Tetangga Indonesia
Anita menjelaskan, bahwa industri galangan kapal nasional saat ini masih memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap komponen impor. Sekitar 45% kebutuhan material dan peralatan masih berasal dari luar negeri sehingga sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
![Kenaikan Kurs Dolar dan Harga Energi Hantam Industri Galangan Kapal Nasional]()
Menurutnya, banyak kontrak pekerjaan yang ditandatangani ketika nilai tukar dolar masih berada pada tingkat yang lebih rendah. Namun saat proses pengadaan dan pelunasan material dilakukan, pelaku usaha harus membayar dengan kurs dolar yang jauh lebih tinggi sehingga terjadi pembengkakan biaya yang tidak sedikit.
Direktur Utama PT Adiluhung Saranasegara Indonesia itu menambahkan, untuk menjaga keberlangsungan usaha dan memastikan kualitas layanan kepada pengguna jasa, sejumlah galangan kapal terpaksa melakukan penyesuaian tarif reparasi kapal. Kenaikan tarif itu diperkirakan mencapai sekitar 20% sebagai langkah untuk mengimbangi lonjakan biaya produksi yang terus terjadi.
Sementara itu, untuk proyek pembangunan kapal baru yang saat ini masih berjalan, para pelaku industri tengah melakukan pembahasan dan negosiasi dengan pemilik kapal atau owner terkait kemungkinan penerapan eskalasi biaya.
Iperindo berharap pemerintah dapat memberikan perhatian dan dukungan terhadap kondisi yang dihadapi industri galangan kapal nasional agar sektor strategis ini tetap mampu bertahan, menjaga daya saing, serta mendukung pertumbuhan industri maritim Indonesia.
Ketua Umum Institusi Galangan Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita Puji Utami mengatakan, tekanan terhadap industri galangan kapal semakin terasa seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang berdampak terhadap jalur perdagangan internasional itu, khususnya di kawasan Selat Hormuz, telah memicu kenaikan harga berbagai komoditas dan material yang dibutuhkan industri galangan kapal.
"Dampak tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri," kata Anita dalam keterangannya, Senin (8/6).
Baca Juga: Industri Galangan Kapal Terus Menggeliat Jawab Keraguan Presiden
Data yang dihimpun Iperindo menunjukkan, harga Solar B40 mengalami kenaikan hingga 89,19%. Selain itu harga LPG 12 kg meningkat 16,16%, dan LPG 50 kg naik 26,51% dibandingkan periode sebelumnya.
"Khusus untuk pemakaian bahan bakar industri di galangan kapal, harapannya bisa mendapatkan BBM subsidi dari pemerintah," kata Anita.
Kenaikan juga terjadi pada berbagai material utama produksi, misalnya plat baja yang merupakan bahan pokok pembangunan kapal tercatat naik antara 7-12,60%. Sementara harga cat kapal mengalami kenaikan sekitar 21% yang turut menambah beban biaya operasional galangan.
Tidak hanya itu, komponen pendukung lainnya seperti zinc anode dan aluminium anode juga mengalami kenaikan masing-masing 12,87% dan 13,61%. Harga oli untuk kebutuhan operasional mesin dan peralatan galangan naik antara 15 hingga 40%, sedangkan bahan plastik meningkat sekitar 30 hingga 50%.
Baca Juga: AS Memiliki Akses ke Galangan Kapal Selam Nuklir Punya Tetangga Indonesia
Anita menjelaskan, bahwa industri galangan kapal nasional saat ini masih memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap komponen impor. Sekitar 45% kebutuhan material dan peralatan masih berasal dari luar negeri sehingga sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
%2C%20Anita%20Puji%20Utami.jpg)
Menurutnya, banyak kontrak pekerjaan yang ditandatangani ketika nilai tukar dolar masih berada pada tingkat yang lebih rendah. Namun saat proses pengadaan dan pelunasan material dilakukan, pelaku usaha harus membayar dengan kurs dolar yang jauh lebih tinggi sehingga terjadi pembengkakan biaya yang tidak sedikit.
Direktur Utama PT Adiluhung Saranasegara Indonesia itu menambahkan, untuk menjaga keberlangsungan usaha dan memastikan kualitas layanan kepada pengguna jasa, sejumlah galangan kapal terpaksa melakukan penyesuaian tarif reparasi kapal. Kenaikan tarif itu diperkirakan mencapai sekitar 20% sebagai langkah untuk mengimbangi lonjakan biaya produksi yang terus terjadi.
Sementara itu, untuk proyek pembangunan kapal baru yang saat ini masih berjalan, para pelaku industri tengah melakukan pembahasan dan negosiasi dengan pemilik kapal atau owner terkait kemungkinan penerapan eskalasi biaya.
Iperindo berharap pemerintah dapat memberikan perhatian dan dukungan terhadap kondisi yang dihadapi industri galangan kapal nasional agar sektor strategis ini tetap mampu bertahan, menjaga daya saing, serta mendukung pertumbuhan industri maritim Indonesia.
(akr)
Lihat Juga :