Industri Diajak Bergerak Cepat Adopsi Energi Surya
Sabtu, 13 Juni 2026 - 19:34 WIB
loading...
Green Energy Solutions Forum for Manufacture Owners digelar di Bandung. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pelaku industri manufaktur didorong untuk mempercepat pemanfaatan energi surya guna meningkatkan efisiensi biaya produksi sekaligus menjaga daya saing di pasar internasional. Dorongan tersebut menguat seiring meningkatnya tekanan biaya energi, tuntutan produk rendah karbon dari pasar global, serta semakin terbukanya peluang pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia.
"Ada tiga hal yang jarang sekali bergerak bersamaan, dan ketiganya sedang bergerak sekarang. Regulasi semakin mendukung, harga teknologi semakin kompetitif, dan tekanan pasar global terhadap jejak karbon semakin nyata. Ketika ketiga faktor ini sudah sejajar, menunda keputusan justru menjadi kerugian yang kita pilih sendiri," ujar CEO Trivigo Kunadi Setiadi dalam keterangan pers, Sabtu (13/6/2026).
Baca Juga: Pertamina NRE Pasang PLTS Pertama di Kapal Angkut Minyak
Hal itu disampaikan dalam Green Energy Solutions Forum for Manufacture Owners digelar di Bandung, baru-baru ini. Menurut Kunadi, biaya energi kini menjadi salah satu tantangan utama sektor manufaktur.
"Pada industri tekstil misalnya, biaya listrik dapat menyumbang sekitar 15-25% dari total biaya produksi. Kondisi tersebut membuat efisiensi energi menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas dan daya saing perusahaan di tengah ketatnya persaingan ekspor," kata dia.
Ia menilai energi bukan lagi sekadar komponen biaya operasional, melainkan fondasi utama daya saing industri. Perusahaan yang gagal mengendalikan biaya energi berisiko mengalami penyusutan margin usaha secara bertahap hingga kehilangan kemampuan bersaing di pasar.
Dalam forum tersebut, Kunadi juga menepis anggapan bahwa investasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) masih terlalu mahal. Menurut dia, banyak pelaku industri hanya berfokus pada biaya investasi awal tanpa memperhitungkan manfaat jangka panjang yang dapat diperoleh melalui penghematan energi selama puluhan tahun.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari menilai periode 2026-2028 menjadi momentum penting bagi percepatan adopsi PLTS di sektor industri. Saat ini, sektor manufaktur tercatat sebagai pengguna terbesar PLTS atap di Indonesia dan menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten.
Baca Juga: Pengoperasian PLTS Atap di Surabaya, Komitmen Energi Bersih dan Perkuat Daya Saing Global
Mada mengatakan pemanfaatan energi surya nasional masih berada di bawah 1% dari total potensi teknis yang tersedia. Karena itu, peluang pengembangan energi surya di Indonesia masih sangat besar, terutama didorong oleh meningkatnya permintaan industri dan dukungan kebijakan pemerintah.
Menurut AESI, percepatan adopsi energi surya ditopang oleh empat faktor utama, yakni masih tersedianya kuota PLTS atap, meningkatnya kebutuhan industri terhadap energi bersih, dukungan regulasi yang semakin kuat, serta tuntutan pasar global terhadap praktik bisnis berkelanjutan.
Selain itu, implementasi penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) di Uni Eropa mulai 2026 serta meningkatnya tuntutan transparansi jejak karbon dalam rantai pasok global semakin mempertegas bahwa energi bersih telah menjadi kebutuhan strategis bagi perusahaan yang ingin mempertahankan akses pasar internasional.
"Ada tiga hal yang jarang sekali bergerak bersamaan, dan ketiganya sedang bergerak sekarang. Regulasi semakin mendukung, harga teknologi semakin kompetitif, dan tekanan pasar global terhadap jejak karbon semakin nyata. Ketika ketiga faktor ini sudah sejajar, menunda keputusan justru menjadi kerugian yang kita pilih sendiri," ujar CEO Trivigo Kunadi Setiadi dalam keterangan pers, Sabtu (13/6/2026).
Baca Juga: Pertamina NRE Pasang PLTS Pertama di Kapal Angkut Minyak
Hal itu disampaikan dalam Green Energy Solutions Forum for Manufacture Owners digelar di Bandung, baru-baru ini. Menurut Kunadi, biaya energi kini menjadi salah satu tantangan utama sektor manufaktur.
"Pada industri tekstil misalnya, biaya listrik dapat menyumbang sekitar 15-25% dari total biaya produksi. Kondisi tersebut membuat efisiensi energi menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas dan daya saing perusahaan di tengah ketatnya persaingan ekspor," kata dia.
Ia menilai energi bukan lagi sekadar komponen biaya operasional, melainkan fondasi utama daya saing industri. Perusahaan yang gagal mengendalikan biaya energi berisiko mengalami penyusutan margin usaha secara bertahap hingga kehilangan kemampuan bersaing di pasar.
Dalam forum tersebut, Kunadi juga menepis anggapan bahwa investasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) masih terlalu mahal. Menurut dia, banyak pelaku industri hanya berfokus pada biaya investasi awal tanpa memperhitungkan manfaat jangka panjang yang dapat diperoleh melalui penghematan energi selama puluhan tahun.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari menilai periode 2026-2028 menjadi momentum penting bagi percepatan adopsi PLTS di sektor industri. Saat ini, sektor manufaktur tercatat sebagai pengguna terbesar PLTS atap di Indonesia dan menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten.
Baca Juga: Pengoperasian PLTS Atap di Surabaya, Komitmen Energi Bersih dan Perkuat Daya Saing Global
Mada mengatakan pemanfaatan energi surya nasional masih berada di bawah 1% dari total potensi teknis yang tersedia. Karena itu, peluang pengembangan energi surya di Indonesia masih sangat besar, terutama didorong oleh meningkatnya permintaan industri dan dukungan kebijakan pemerintah.
Menurut AESI, percepatan adopsi energi surya ditopang oleh empat faktor utama, yakni masih tersedianya kuota PLTS atap, meningkatnya kebutuhan industri terhadap energi bersih, dukungan regulasi yang semakin kuat, serta tuntutan pasar global terhadap praktik bisnis berkelanjutan.
Selain itu, implementasi penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) di Uni Eropa mulai 2026 serta meningkatnya tuntutan transparansi jejak karbon dalam rantai pasok global semakin mempertegas bahwa energi bersih telah menjadi kebutuhan strategis bagi perusahaan yang ingin mempertahankan akses pasar internasional.
(nng)
Lihat Juga :