Dokumen Rahasia Bocor! Qatar Diam-diam Tawarkan Kesepakatan Gelap ke Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:08 WIB
loading...
Dokumen Rahasia Bocor!...
Qatar, negara teluk yang dikenal sebagai salah satu produsen gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, dilaporkan sempat mengirimkan proposal kesepakatan rahasia kepada Iran sesaat sebelum perang besar melawan AS dan Israel pecah. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Qatar , negara teluk yang dikenal sebagai salah satu produsen gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, dilaporkan sempat mengirimkan proposal 'kesepakatan rahasia' kepada Iran sesaat sebelum perang besar melawan AS dan Israel pecah. Hal ini terungkap ketika sebuah investigasi baru saja dibongkar oleh The Washington Post.

Isi kesepakatan gelap tersebut sangat mencengangkan. Qatar menawarkan diri untuk sengaja menyetop produksi gas massal mereka, asalkan Iran berjanji tidak akan meluncurkan rudal ke infrastruktur energi milik Qatar.

Baca Juga: Tak Ingin Terus Jadi Target Rudal Iran, UEA Bayar Rp53 Triliun ke Teheran

Langkah nekat Doha ini dibocorkan oleh sejumlah pejabat intelijen Barat dan Timur Tengah. Menurut mereka, taktik ini sengaja diambil Qatar untuk memproteksi kompleks gas raksasa mereka, Ras Laffan, dari amukan militer Teheran.

Konspirasi Naikkan Harga Energi Dunia demi Sikut AS-Israel

Ada motif ekonomi yang sangat cerdik sekaligus berbahaya di balik tawaran rahasia ini. Dengan menyetop total produksi gas Ras Laffan, Qatar tahu betul bahwa pasokan energi global akan langsung mencekik pasar internasional.

Skenarionya, lonjakan harga energi dunia yang gila-gilaan akan memaksa Amerika Serikat dan Israel menghentikan niat mereka untuk berperang melawan Iran karena tekanan inflasi di dalam negeri mereka sendiri.



"Kalian (Iran) akan mencapai tujuan kalian (menghentikan AS-Israel) tanpa perlu menyerang kami," bunyi pesan rahasia Qatar kepada Teheran, seperti ditirukan oleh seorang pejabat yang mengetahui komunikasi tersebut.

Baca Juga: Prabowo Bertemu Menlu Qatar di Istana Merdeka, Ini Tiga Poin yang Dibahas

Seorang perwira keamanan regional menyebut tindakan Qatar ini sebagai bentuk survival mode (mode bertahan hidup) yang ekstrem. Qatar panik karena jika kompleks Ras Laffan hancur lebur dihantam rudal, dibutuhkan waktu sedikitnya 10 tahun untuk bisa memulihkan operasionalnya kembali.

Realitas Pahit: Dikhianati Iran dan Bantahan Keras Pemerintah Qatar

Namun kita bisa melihat intrik politik ini berakhir tragis bagi Qatar. Meski Qatar benar-benar nekat menutup total kilang Ras Laffan pada awal Maret 2026, Iran ternyata tidak pernah memberikan konfirmasi resmi setuju terhadap kesepakatan tersebut.

Bahkan, kompromi sepihak itu berakhir zonk. Pada pertengahan Maret, sebuah rudal Iran tetap melesat dan menghantam fasilitas Ras Laffan hingga menimbulkan kerusakan parah.

Tak berhenti di situ, setelah Israel membalas dengan menggempur ladang minyak Iran, Teheran justru meluncurkan serangan gelombang kedua ke infrastruktur Qatar. Menteri Energi Qatar, Saad Sherida al-Kaabi, mengamuk dan mengutuk keras serangan itu sebagai hantaman terhadap keamanan energi global, seraya menyebut perbaikan kilang akan memakan waktu 3 hingga 5 tahun.

Merespons laporan miring ini, Kantor Media Internasional Qatar langsung merilis bantahan keras dan menyebut investigasi The Washington Post adalah hoaks berbahaya.

"Setiap tuduhan yang menyatakan bahwa keputusan operasional produksi energi dikoordinasikan dengan Iran demi keuntungan Iran atau untuk memengaruhi jalannya perang adalah sepenuhnya palsu," tegas juru bicara Qatar.

Mereka menuding rilis laporan ini sengaja dirancang untuk menyabotase peran Qatar sebagai mediator damai serta merusak aliansi strategis antara Qatar dan Amerika Serikat.

Meski membantah adanya negosiasi gelap, seorang pejabat internal Qatar mengakui secara jujur bahwa negaranya memang "memohon secara umum kepada Iran, agar tidak melakukan penyerangan." Ia menggambarkan konflik bersenjata di wilayah Teluk saat ini sebagai sebuah nightmare scenario (skenario mimpi buruk) bagi negaranya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
80 Juta Barel Minyak...
80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Kembali Melonjak
Menteri Zionis: AS Akan...
Menteri Zionis: AS Akan Segera Berada di Jalur Bentrokan dengan Israel
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Pilot F-15 AS: Serangan...
Pilot F-15 AS: Serangan Drone Iran Membentuk Formasi Ubur-ubur
Rekomendasi
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Menteri Zionis: AS Akan...
Menteri Zionis: AS Akan Segera Berada di Jalur Bentrokan dengan Israel
Rusia Klaim Senjata...
Rusia Klaim Senjata Nuklir Jadi Satu-satunya Jaminan pada Perang Global, Ini 3 Alasannya
Berita Terkini
ONDA Bidik Kebutuhan...
ONDA Bidik Kebutuhan Renovasi Rumah dengan Sistem Terintegrasi
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Gandeng Mitra Global,...
Gandeng Mitra Global, PT WCS Dorong Ekosistem Pertanian Berbasis Digital
Telkom Catat Pendapatan...
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun, DPR Minta Soliditas Dijaga
Kemenkop dan Rumah Energi...
Kemenkop dan Rumah Energi Dorong Koperasi Jadi Motor Transisi Energi
Plaza Seremoni IKN Karya...
Plaza Seremoni IKN Karya Brantas Abipraya Raih Penghargaan Lanskap Internasional MLAA 2026
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved