Dibayangi Outflow Rp4,5 Triliun, IHSG Pekan Ini Diprediksi Bergerak Fluktuatif
Senin, 22 Juni 2026 - 08:44 WIB
loading...
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan bergerak fluktuatif cenderung sensitif pada perdagangan sepekan ke depan, tepatnya periode 22 hingga 26 Juni 2026. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diproyeksikan akan bergerak fluktuatif cenderung sensitif pada perdagangan sepekan ke depan, tepatnya periode 22 hingga 26 Juni 2026. Pergerakan indeks saham domestik pekan ini dibayangi oleh tekanan aksi lepas portofolio yang masif oleh investor internasional, di mana nilai penjualan bersih ( outflow ) investor asing menembus angka Rp4,5 triliun di pasar reguler sepanjang pekan lalu.
Tekanan outflow tersebut bergulir di tengah performa impresif IHSG yang sebenarnya sukses ditutup di level 6.177, atau melejit kurang lebih 2,82 persen pada akhir pekan lalu. Baca Juga: IHSG Sepekan Melonjak 2,82%, Kapitalisasi Pasar Bertambah Jadi Rp10.788 Triliun
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menjelaskan, bahwa laju positif bursa pada pekan lalu disokong oleh kombinasi bauran kebijakan domestik serta respons global, salah satunya langkah bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), yang memilih mempertahankan suku bunga di level puncaknya. Namun kebijakan tersebut kini justru memicu kekhawatiran baru bagi negara berkembang (emerging markets).
"Kebijakan menahan ini bukan lagi cerminan dari strategi yang penuh kehati-hatian, melainkan sebuah pengakuan tersirat bahwa inflasi jauh lebih bebal dan sulit ditaklukkan daripada yang mereka perkirakan semula," tegas David dalam risetnya, Senin (22/6/2026).
Bagi negara berkembang, David mengimbuh bahwa narasi higher-for-longer atau suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama adalah sebuah pil pahit yang harus ditelan tanpa kepastian kapan efeknya akan berakhir. Baca Juga: Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos Sepanjang IHSG Sepekan
Dari dalam negeri, sentimen utama digerakkan oleh kebijakan mengejutkan dari Bank Indonesia (BI). Di luar ekspektasi dan proyeksi konsensus para analis, otoritas moneter mengambil langkah preemtif yang agresif dengan mengatrol suku bunga acuan (BI Rate) menuju level 5,75%.
David menilai ketukan palu BI tersebut langsung memicu penyesuaian nilai instan (repricing) pada instrumen ekuitas dan obligasi domestik, serta mengindikasikan adanya eskalasi risiko stabilitas makroekonomi yang lebih besar dari perkiraan publik.
"Melalui langkah ini otoritas moneter memprioritaskan stabilitas stabilitas eksternal dan pengendalian inflasi, meskipun harus memitigasi risiko perlambatan pada momentum pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek,” kata dia.
Memasuki kalender perdagangan pekan ini, IPOT mengimbau para investor dan trader ritel untuk memusatkan perhatian pada sentimen kunci pengaruh pengumuman indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Langkah ini krusial untuk membaca arah pergerakan aset berisiko ke depan.
Terkait sentimen pasar, David mengakui bursa sempat tersungkur dalam tekanan tinggi setelah MSCI merilis laporan Global Market Accessibility Review yang memangkas penilaian indikator Arus Informasi (Information Flow) Indonesia dari positif menjadi negatif akibat isu transparansi porsi saham publik (free float) dan adanya indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi (coordinated trading).
Kendati sempat dibayangi kecemasan penurunan kasta, bertahannya mayoritas kriteria aksesibilitas lainnya dinilai menjadi penyelamat yang menjaga psikologis pasar tetap kondusif di zona emerging market.
"Skenario terburuk mengenai potensi penurunan kasta (downgrade) menjadi Frontier Market sempat membayangi bursa. Namun, mayoritas dari 18 kriteria aksesibilitas lainnya yang tetap terjaga memberikan fondasi bagi pasar untuk merawat optimisme aset-aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia yang memperoleh sentimen positif," pungkas David.
Berikut rekomendasi IPOT untuk pekan ini.
1. Buy on Breakout GGRM (Current Price: 16,625, Entry: 17,475, Target Price: 19,000 (8.73%), Stop Loss: 16,600 (-5.01%) dan Risk to Reward Ratio 1:1.7).
2. Buy on Breakout MAPI (Current Price: 1,510, Entry: 1,520, Target Price: 1,630 (7.24%), Stop Loss: 1,470 (-3.29%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.2).
3. Buy on Pullback DEWA (Current Price: 368, Entry: 358 (362), Target Price: 400 (11.73%), Stop Loss: 340 (-5.03%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.3).
4. Buy Obligasi PBS 038.
Tekanan outflow tersebut bergulir di tengah performa impresif IHSG yang sebenarnya sukses ditutup di level 6.177, atau melejit kurang lebih 2,82 persen pada akhir pekan lalu. Baca Juga: IHSG Sepekan Melonjak 2,82%, Kapitalisasi Pasar Bertambah Jadi Rp10.788 Triliun
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menjelaskan, bahwa laju positif bursa pada pekan lalu disokong oleh kombinasi bauran kebijakan domestik serta respons global, salah satunya langkah bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), yang memilih mempertahankan suku bunga di level puncaknya. Namun kebijakan tersebut kini justru memicu kekhawatiran baru bagi negara berkembang (emerging markets).
"Kebijakan menahan ini bukan lagi cerminan dari strategi yang penuh kehati-hatian, melainkan sebuah pengakuan tersirat bahwa inflasi jauh lebih bebal dan sulit ditaklukkan daripada yang mereka perkirakan semula," tegas David dalam risetnya, Senin (22/6/2026).
Bagi negara berkembang, David mengimbuh bahwa narasi higher-for-longer atau suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama adalah sebuah pil pahit yang harus ditelan tanpa kepastian kapan efeknya akan berakhir. Baca Juga: Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos Sepanjang IHSG Sepekan
Dari dalam negeri, sentimen utama digerakkan oleh kebijakan mengejutkan dari Bank Indonesia (BI). Di luar ekspektasi dan proyeksi konsensus para analis, otoritas moneter mengambil langkah preemtif yang agresif dengan mengatrol suku bunga acuan (BI Rate) menuju level 5,75%.
David menilai ketukan palu BI tersebut langsung memicu penyesuaian nilai instan (repricing) pada instrumen ekuitas dan obligasi domestik, serta mengindikasikan adanya eskalasi risiko stabilitas makroekonomi yang lebih besar dari perkiraan publik.
"Melalui langkah ini otoritas moneter memprioritaskan stabilitas stabilitas eksternal dan pengendalian inflasi, meskipun harus memitigasi risiko perlambatan pada momentum pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek,” kata dia.
Memasuki kalender perdagangan pekan ini, IPOT mengimbau para investor dan trader ritel untuk memusatkan perhatian pada sentimen kunci pengaruh pengumuman indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Langkah ini krusial untuk membaca arah pergerakan aset berisiko ke depan.
Terkait sentimen pasar, David mengakui bursa sempat tersungkur dalam tekanan tinggi setelah MSCI merilis laporan Global Market Accessibility Review yang memangkas penilaian indikator Arus Informasi (Information Flow) Indonesia dari positif menjadi negatif akibat isu transparansi porsi saham publik (free float) dan adanya indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi (coordinated trading).
Kendati sempat dibayangi kecemasan penurunan kasta, bertahannya mayoritas kriteria aksesibilitas lainnya dinilai menjadi penyelamat yang menjaga psikologis pasar tetap kondusif di zona emerging market.
"Skenario terburuk mengenai potensi penurunan kasta (downgrade) menjadi Frontier Market sempat membayangi bursa. Namun, mayoritas dari 18 kriteria aksesibilitas lainnya yang tetap terjaga memberikan fondasi bagi pasar untuk merawat optimisme aset-aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia yang memperoleh sentimen positif," pungkas David.
Berikut rekomendasi IPOT untuk pekan ini.
1. Buy on Breakout GGRM (Current Price: 16,625, Entry: 17,475, Target Price: 19,000 (8.73%), Stop Loss: 16,600 (-5.01%) dan Risk to Reward Ratio 1:1.7).
2. Buy on Breakout MAPI (Current Price: 1,510, Entry: 1,520, Target Price: 1,630 (7.24%), Stop Loss: 1,470 (-3.29%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.2).
3. Buy on Pullback DEWA (Current Price: 368, Entry: 358 (362), Target Price: 400 (11.73%), Stop Loss: 340 (-5.03%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.3).
4. Buy Obligasi PBS 038.
(akr)
Lihat Juga :