RPN dan BPDP Latih Keterampilan Panen Sawit Rakyat di Sumsel
Rabu, 24 Juni 2026 - 18:29 WIB
loading...
Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit bagi 96 petani asal Banyuasin dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) menggelar Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit bagi 96 petani asal Banyuasin dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kegiatan yang berlangsung pada 22–26 Juni 2026 di Palembang itu ditujukan untuk meningkatkan kualitas tandan buah segar (TBS) dan produktivitas sawit rakyat.
POPT Ahli Muda sekaligus Ketua Tim Pemberdayaan dan Peningkatan Kapabilitas Ditjenbun, Tulus Tri Margono, mengatakan penguasaan teknik panen menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat.
"Produktivitas kebun sawit rakyat saat ini masih berkisar 2–3 ton per hektare per tahun, sementara potensinya bisa mencapai 7–8 ton per hektare per tahun. Salah satu penyebab utamanya adalah lemahnya penguasaan teknis, terutama di fase panen dan pascapanen," ujar Tulus dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026).
Baca Juga: BPDP dan AKPY Latih Petani Kotim Tingkatkan Kualitas Panen Sawit Rakyat
Pelatihan yang menjadi bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 itu difokuskan pada peningkatan kemampuan petani dalam menentukan tingkat kematangan buah, mengurangi kehilangan hasil (losses), serta menjaga mutu TBS agar memiliki rendemen minyak yang lebih tinggi.
Tulus menegaskan ketepatan waktu panen menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil budidaya yang telah dilakukan petani. Menurutnya, kesalahan saat panen dapat berdampak langsung pada penurunan kualitas buah dan harga jual di tingkat petani.
Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, M. Ichwansyah, mengatakan panen merupakan fase paling menentukan dalam menjaga kualitas TBS. Panen yang terlalu cepat maupun terlambat akan memengaruhi rendemen minyak dan nilai ekonomi hasil panen.
“Panen yang tepat berarti buah dipetik pada tingkat kematangan optimal, dengan kehilangan hasil seminimal mungkin. Jika panen terlalu cepat atau terlambat, dampaknya langsung terasa pada rendemen minyak dan harga jual,” kata Ichwansyah.
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) di bawah RPN, Dr. Winarna, menilai transfer hasil riset kepada petani perlu terus diperkuat agar praktik panen berkualitas dapat diterapkan secara konsisten di lapangan.
Menurut Winarna, kesalahan sederhana seperti salah memilih buah matang atau brondolan yang tercecer dapat menurunkan rendemen dan nilai jual TBS. Karena itu, pelatihan teknis dinilai penting untuk meningkatkan keterampilan dan efisiensi petani sawit rakyat.
Baca Juga: BPDP, Ditjenbun dan AKPY Latih 122 Pekebun Sawit OKI Tingkatkan Kualitas Panen
Sebagai bagian dari pembelajaran praktik, peserta juga dijadwalkan melakukan kunjungan lapang ke PT Perkebunan Nusantara IV pada 25 Juni 2026 guna mempelajari sistem panen dan pascapanen yang diterapkan perusahaan dalam menjaga kualitas TBS hingga ke pabrik pengolahan.
Melalui kolaborasi RPN, BPDP, dan Ditjenbun, pelatihan tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing sawit rakyat, memperbaiki kualitas produksi, serta mendorong peningkatan pendapatan petani di tengah persaingan industri sawit yang semakin ketat.
POPT Ahli Muda sekaligus Ketua Tim Pemberdayaan dan Peningkatan Kapabilitas Ditjenbun, Tulus Tri Margono, mengatakan penguasaan teknik panen menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat.
"Produktivitas kebun sawit rakyat saat ini masih berkisar 2–3 ton per hektare per tahun, sementara potensinya bisa mencapai 7–8 ton per hektare per tahun. Salah satu penyebab utamanya adalah lemahnya penguasaan teknis, terutama di fase panen dan pascapanen," ujar Tulus dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026).
Baca Juga: BPDP dan AKPY Latih Petani Kotim Tingkatkan Kualitas Panen Sawit Rakyat
Pelatihan yang menjadi bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 itu difokuskan pada peningkatan kemampuan petani dalam menentukan tingkat kematangan buah, mengurangi kehilangan hasil (losses), serta menjaga mutu TBS agar memiliki rendemen minyak yang lebih tinggi.
Tulus menegaskan ketepatan waktu panen menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil budidaya yang telah dilakukan petani. Menurutnya, kesalahan saat panen dapat berdampak langsung pada penurunan kualitas buah dan harga jual di tingkat petani.
Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, M. Ichwansyah, mengatakan panen merupakan fase paling menentukan dalam menjaga kualitas TBS. Panen yang terlalu cepat maupun terlambat akan memengaruhi rendemen minyak dan nilai ekonomi hasil panen.
“Panen yang tepat berarti buah dipetik pada tingkat kematangan optimal, dengan kehilangan hasil seminimal mungkin. Jika panen terlalu cepat atau terlambat, dampaknya langsung terasa pada rendemen minyak dan harga jual,” kata Ichwansyah.
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) di bawah RPN, Dr. Winarna, menilai transfer hasil riset kepada petani perlu terus diperkuat agar praktik panen berkualitas dapat diterapkan secara konsisten di lapangan.
Menurut Winarna, kesalahan sederhana seperti salah memilih buah matang atau brondolan yang tercecer dapat menurunkan rendemen dan nilai jual TBS. Karena itu, pelatihan teknis dinilai penting untuk meningkatkan keterampilan dan efisiensi petani sawit rakyat.
Baca Juga: BPDP, Ditjenbun dan AKPY Latih 122 Pekebun Sawit OKI Tingkatkan Kualitas Panen
Sebagai bagian dari pembelajaran praktik, peserta juga dijadwalkan melakukan kunjungan lapang ke PT Perkebunan Nusantara IV pada 25 Juni 2026 guna mempelajari sistem panen dan pascapanen yang diterapkan perusahaan dalam menjaga kualitas TBS hingga ke pabrik pengolahan.
Melalui kolaborasi RPN, BPDP, dan Ditjenbun, pelatihan tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing sawit rakyat, memperbaiki kualitas produksi, serta mendorong peningkatan pendapatan petani di tengah persaingan industri sawit yang semakin ketat.
(nng)
Lihat Juga :