Kabar Buruk, Perusahaan Rokok Raksasa Ini Bakal PHK 9.000 Karyawan
Selasa, 30 Juni 2026 - 11:40 WIB
loading...
Perusahaan rokok global British American Tobacco (BAT) akan memangkas sekitar 9.000 tenaga kerja. FOTO/The Guardian
A
A
A
LONDON - Perusahaan rokok global British American Tobacco (BAT) akan memangkas sekitar 9.000 tenaga kerja sebagai bagian dari transformasi bisnis menuju perusahaan berbasis teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Langkah tersebut dilakukan di tengah menurunnya permintaan rokok konvensional di pasar global.
"Kami sedang membangun organisasi yang siap menghadapi masa depan, lebih lincah, disiplin dalam biaya, dan berbasis teknologi," ujar Chief Executive Officer BAT Tadeu Marroco dalam pernyataannya dikutip The Guardian, Selasa (30/6/2026).
Baca Juga: Harga Gas Penting, tapi Bukan Penyebab Tunggal Industri Lesu dan PHK
Produsen rokok merek Dunhill dan Peter Stuyvesant itu menyebutkan pengurangan tenaga kerja mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 5.500 karyawan serta pengalihan sekitar 3.500 pekerjaan ke pihak ketiga hingga akhir 2026.
Menurut perusahaan, restrukturisasi tersebut merupakan bagian dari program transformasi bisnis yang ditargetkan mampu menghasilkan penghematan biaya tahunan hingga 600 juta poundsterling pada akhir 2028.
Marroco mengatakan BAT akan tetap memberikan dukungan kepada pekerja yang terdampak selama masa transisi. Ia menilai perubahan tersebut diperlukan untuk mempersiapkan perusahaan menghadapi dinamika industri tembakau global.
Baca Juga: Ancaman PHK Masih Mengintai, Said Iqbal: Dipicu Kenaikan Harga BBM dan Relokasi Pabrik
BAT saat ini menghadapi tekanan akibat penurunan permintaan rokok tradisional di berbagai negara. Di sisi lain, perusahaan juga harus meningkatkan investasi pada produk alternatif nikotin dan pengembangan teknologi digital.
Pada tahun lalu, BAT menggandeng perusahaan konsultan teknologi Accenture untuk mengalihdayakan sebagian pekerjaan guna memperoleh akses terhadap solusi AI. Sejumlah pekerjaan di Inggris, Polandia, Rumania, Kosta Rika, Meksiko, Singapura, dan Malaysia telah dialihkan kepada Accenture sejak kerja sama dimulai.
Selain mempercepat digitalisasi, BAT juga mulai menutup sejumlah fasilitas produksi rokok konvensional. Pada Januari 2026, perusahaan mengumumkan penutupan pabrik kedelapan terbesarnya di Afrika Selatan akibat persaingan dengan perdagangan ilegal. BAT memperkirakan volume industri rokok global akan turun sekitar 2,5% sepanjang tahun ini.
"Kami sedang membangun organisasi yang siap menghadapi masa depan, lebih lincah, disiplin dalam biaya, dan berbasis teknologi," ujar Chief Executive Officer BAT Tadeu Marroco dalam pernyataannya dikutip The Guardian, Selasa (30/6/2026).
Baca Juga: Harga Gas Penting, tapi Bukan Penyebab Tunggal Industri Lesu dan PHK
Produsen rokok merek Dunhill dan Peter Stuyvesant itu menyebutkan pengurangan tenaga kerja mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 5.500 karyawan serta pengalihan sekitar 3.500 pekerjaan ke pihak ketiga hingga akhir 2026.
Menurut perusahaan, restrukturisasi tersebut merupakan bagian dari program transformasi bisnis yang ditargetkan mampu menghasilkan penghematan biaya tahunan hingga 600 juta poundsterling pada akhir 2028.
Marroco mengatakan BAT akan tetap memberikan dukungan kepada pekerja yang terdampak selama masa transisi. Ia menilai perubahan tersebut diperlukan untuk mempersiapkan perusahaan menghadapi dinamika industri tembakau global.
Baca Juga: Ancaman PHK Masih Mengintai, Said Iqbal: Dipicu Kenaikan Harga BBM dan Relokasi Pabrik
BAT saat ini menghadapi tekanan akibat penurunan permintaan rokok tradisional di berbagai negara. Di sisi lain, perusahaan juga harus meningkatkan investasi pada produk alternatif nikotin dan pengembangan teknologi digital.
Pada tahun lalu, BAT menggandeng perusahaan konsultan teknologi Accenture untuk mengalihdayakan sebagian pekerjaan guna memperoleh akses terhadap solusi AI. Sejumlah pekerjaan di Inggris, Polandia, Rumania, Kosta Rika, Meksiko, Singapura, dan Malaysia telah dialihkan kepada Accenture sejak kerja sama dimulai.
Selain mempercepat digitalisasi, BAT juga mulai menutup sejumlah fasilitas produksi rokok konvensional. Pada Januari 2026, perusahaan mengumumkan penutupan pabrik kedelapan terbesarnya di Afrika Selatan akibat persaingan dengan perdagangan ilegal. BAT memperkirakan volume industri rokok global akan turun sekitar 2,5% sepanjang tahun ini.
(nng)
Lihat Juga :