AKPY, BPDP dan Ditjenbun Sinergi Gelar Pelatihan Teknis 90 Pekebun Sawit
Selasa, 30 Juni 2026 - 13:48 WIB
loading...
Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Penguatan sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi investasi strategis untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan kelapa sawit rakyat. Melalui peningkatan kapasitas pekebun, sektor sawit nasional diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.
"Tujuan pelatihan ini adalah meningkatkan kapasitas, keterampilan, profesionalisme, dan daya saing petani agar mampu mengelola kebunnya dengan baik, lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan," ujar Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Idum Satia Santi dalam keterangan tertulis, Selasa (30/6/2026).
Baca Juga: B50: Strategi Diplomasi Sawit Berkelanjutan
Hal itu disampaikan dalam pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit di Kalimantan Selatan. Pelatihan yang berlangsung pada 27 Juni hingga 2 Juli 2026 tersebut diikuti 90 pekebun dan penyuluh dari Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Kegiatan itu merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan.
Menurut Idum, tantangan industri sawit ke depan tidak hanya membutuhkan kebun yang produktif, tetapi juga pekebun yang mampu mengelola usaha secara modern, efisien, dan berkelanjutan. Ia menilai investasi terbaik bagi petani bukan hanya pada pupuk atau peralatan, melainkan peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan.
“Ilmu yang diperoleh selama pelatihan akan terus memberikan manfaat bagi kebun maupun keluarga petani di masa mendatang,” katanya.
Baca Juga: RPN dan BPDP Latih Keterampilan Panen Sawit Rakyat di Sumsel
Idum menambahkan, pekebun sawit masa depan dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memahami pencatatan usaha tani, serta menerapkan prinsip keberlanjutan dalam setiap tahapan budidaya. Menurut dia, peningkatan kualitas SDM akan berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan pekebun.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan Suparmi mengatakan keberhasilan investasi SDM dapat diukur dari peningkatan produktivitas kebun rakyat. Ia menyebut Kalimantan Selatan saat ini memiliki luas perkebunan sawit lebih dari 509 ribu hektare dengan produksi sekitar 6,3 juta ton.
"Potensi produksi kita sebenarnya masih bisa lebih tinggi. Dengan budidaya yang benar dan penggunaan benih unggul, produktivitas sawit dapat mencapai lebih dari 20 ton per hektare per tahun," ujarnya.
Menurut Suparmi, pelatihan yang didukung BPDP merupakan bentuk sinergi pemerintah pusat dan daerah dalam memperkuat daya saing perkebunan sawit rakyat. Langkah tersebut juga sejalan dengan implementasi Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD KSB) Kalimantan Selatan yang menempatkan peningkatan kapasitas pekebun sebagai prioritas utama.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Tanah Laut M. Faried Widyatmoko menambahkan pelatihan merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya perlu disebarluaskan kepada petani lainnya. Ia menekankan peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, serta penerapan standar panen yang baik tanpa harus membuka lahan baru.
"Tujuan pelatihan ini adalah meningkatkan kapasitas, keterampilan, profesionalisme, dan daya saing petani agar mampu mengelola kebunnya dengan baik, lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan," ujar Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Idum Satia Santi dalam keterangan tertulis, Selasa (30/6/2026).
Baca Juga: B50: Strategi Diplomasi Sawit Berkelanjutan
Hal itu disampaikan dalam pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit di Kalimantan Selatan. Pelatihan yang berlangsung pada 27 Juni hingga 2 Juli 2026 tersebut diikuti 90 pekebun dan penyuluh dari Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Kegiatan itu merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan.
Menurut Idum, tantangan industri sawit ke depan tidak hanya membutuhkan kebun yang produktif, tetapi juga pekebun yang mampu mengelola usaha secara modern, efisien, dan berkelanjutan. Ia menilai investasi terbaik bagi petani bukan hanya pada pupuk atau peralatan, melainkan peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan.
“Ilmu yang diperoleh selama pelatihan akan terus memberikan manfaat bagi kebun maupun keluarga petani di masa mendatang,” katanya.
Baca Juga: RPN dan BPDP Latih Keterampilan Panen Sawit Rakyat di Sumsel
Idum menambahkan, pekebun sawit masa depan dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memahami pencatatan usaha tani, serta menerapkan prinsip keberlanjutan dalam setiap tahapan budidaya. Menurut dia, peningkatan kualitas SDM akan berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan pekebun.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan Suparmi mengatakan keberhasilan investasi SDM dapat diukur dari peningkatan produktivitas kebun rakyat. Ia menyebut Kalimantan Selatan saat ini memiliki luas perkebunan sawit lebih dari 509 ribu hektare dengan produksi sekitar 6,3 juta ton.
"Potensi produksi kita sebenarnya masih bisa lebih tinggi. Dengan budidaya yang benar dan penggunaan benih unggul, produktivitas sawit dapat mencapai lebih dari 20 ton per hektare per tahun," ujarnya.
Menurut Suparmi, pelatihan yang didukung BPDP merupakan bentuk sinergi pemerintah pusat dan daerah dalam memperkuat daya saing perkebunan sawit rakyat. Langkah tersebut juga sejalan dengan implementasi Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD KSB) Kalimantan Selatan yang menempatkan peningkatan kapasitas pekebun sebagai prioritas utama.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Tanah Laut M. Faried Widyatmoko menambahkan pelatihan merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya perlu disebarluaskan kepada petani lainnya. Ia menekankan peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, serta penerapan standar panen yang baik tanpa harus membuka lahan baru.
(nng)
Lihat Juga :