Transmisi Hijau Tulang Punggung Penentu Masa Depan Energi Bersih
Kamis, 02 Juli 2026 - 19:14 WIB
loading...
A
A
A
Bagi PLN, tantangan transisi energi tidak berhenti pada membangun jaringan fisik. Sistem kelistrikan juga harus mampu menghadapi karakter energi terbarukan yang berbeda dari pembangkit konvensional. Energi surya dan angin, misalnya, memiliki sifat intermiten karena bergantung pada kondisi alam.
Dalam konteks inilah roadmap enjiniring menjadi penting. Buyung menggambarkannya sebagai panduan bagi PLN untuk menyusun arah teknologi, inovasi, dan penguatan sistem transmisi ke depan. “Roadmap engineering ini menjadi kompas bagi PLN dalam menentukan arah kebijakan engineering ke depan,” ujarnya.
Menurut Buyung, sistem jaringan masa depan harus lebih fleksibel. Digitalisasi tidak lagi dapat dipandang sebagai tambahan, tetapi menjadi kebutuhan utama agar sistem kelistrikan mampu membaca perubahan beban, mengelola variasi pasokan, dan merespons dinamika energi terbarukan. Baca juga: Blackout Sumatera Harus Jadi Alarm Penguatan Transmisi
Dari perspektif regulator, pengembangan transmisi hijau harus dipastikan tidak hanya cepat, tetapi juga aman, andal, dan ekonomis. Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Madya, Nanda Avianto Wicaksono, menekankan pentingnya sinkronisasi antarpemangku kepentingan. “Dari sisi regulasi, yang pertama adalah bagaimana menghubungkan semua stakeholder, baik badan usaha, lembaga pemerintah, akademisi, maupun lembaga pengembangan lain,” katanya.
Menurut Nanda, struktur usaha ketenagalistrikan akan semakin kompleks ketika teknologi baru masuk ke dalam sistem. Karena itu, kerangka regulasi harus mampu menyesuaikan diri tanpa mengabaikan prinsip keselamatan dan keandalan. “Semua risiko masuknya energi baru terbarukan ke sistem harus dipertimbangkan. Keandalan sistem harus dikejar, penetrasi energi terbarukan juga harus dikejar,” ujarnya.
Dalam konteks inilah roadmap enjiniring menjadi penting. Buyung menggambarkannya sebagai panduan bagi PLN untuk menyusun arah teknologi, inovasi, dan penguatan sistem transmisi ke depan. “Roadmap engineering ini menjadi kompas bagi PLN dalam menentukan arah kebijakan engineering ke depan,” ujarnya.
Menurut Buyung, sistem jaringan masa depan harus lebih fleksibel. Digitalisasi tidak lagi dapat dipandang sebagai tambahan, tetapi menjadi kebutuhan utama agar sistem kelistrikan mampu membaca perubahan beban, mengelola variasi pasokan, dan merespons dinamika energi terbarukan. Baca juga: Blackout Sumatera Harus Jadi Alarm Penguatan Transmisi
Dari perspektif regulator, pengembangan transmisi hijau harus dipastikan tidak hanya cepat, tetapi juga aman, andal, dan ekonomis. Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Madya, Nanda Avianto Wicaksono, menekankan pentingnya sinkronisasi antarpemangku kepentingan. “Dari sisi regulasi, yang pertama adalah bagaimana menghubungkan semua stakeholder, baik badan usaha, lembaga pemerintah, akademisi, maupun lembaga pengembangan lain,” katanya.
Menurut Nanda, struktur usaha ketenagalistrikan akan semakin kompleks ketika teknologi baru masuk ke dalam sistem. Karena itu, kerangka regulasi harus mampu menyesuaikan diri tanpa mengabaikan prinsip keselamatan dan keandalan. “Semua risiko masuknya energi baru terbarukan ke sistem harus dipertimbangkan. Keandalan sistem harus dikejar, penetrasi energi terbarukan juga harus dikejar,” ujarnya.
(poe)
Lihat Juga :