Kapal Tanker Kembali Diserang di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Terbang
Selasa, 07 Juli 2026 - 22:10 WIB
loading...
Harga minyak dunia menguat setelah kembali terjadi serangan terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Harga minyak dunia menguat setelah kembali terjadi serangan terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Meski demikian, analis menilai kenaikan harga berpotensi terbatas karena pasar masih dibayangi prospek kelebihan pasokan minyak global.
Kepala Strategi Komoditas ING Groep NV Warren Patterson mengatakan insiden terbaru di Teluk Persia menunjukkan kondisi keamanan di kawasan tersebut belum sepenuhnya pulih sehingga dapat memberikan dukungan sementara terhadap harga minyak.
"Respons Amerika Serikat yang terbatas mungkin dapat memberikan dukungan jangka pendek terhadap harga minyak. Namun, mengingat sentimen pasar yang masih bearish dan lemahnya pasar fisik, setiap kenaikan harga kemungkinan hanya akan berlangsung singkat," kata Patterson seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga: Kenapa Para Jenderal Iran Bersumpah Akan Balas Dendam atas Kematian Khamenei?
Laporan UK Maritime Trade Operations (UKMTO) menyebutkan sebuah kapal tanker yang berlayar ke arah selatan terkena proyektil di sisi kiri lambung kapal sekitar delapan mil laut di sebelah timur Limah, Oman, sehingga memicu kebakaran. Seorang pejabat Amerika Serikat juga menyatakan Iran menembakkan sedikitnya dua rudal ke arah kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Dua kapal dilaporkan mengalami kerusakan, namun tidak menimbulkan korban jiwa.
Merespons insiden tersebut, harga minyak Brent naik 0,4% menjadi USD72,31 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,5% menjadi USD68,87 per barel pada perdagangan Selasa pagi waktu Singapura. Sebelumnya, harga minyak sempat melemah tajam setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Di sisi lain, pasar masih menghadapi tekanan dari prospek bertambahnya pasokan minyak dunia. Saudi Aramco memangkas harga resmi penjualan (Official Selling Price/OSP) minyak Arab Light untuk pasar Asia sebesar USD1,10 per barel, menyusul keputusan negara-negara OPEC+ meningkatkan kuota produksi pada bulan depan.
Baca Juga: Seruan 'Bunuh Trump' Menggema dalam Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Chief Executive Officer Infrastructure Capital Management LLC Jay Hatfield memperkirakan harga minyak berpotensi bergerak di kisaran USD60 per barel dalam satu bulan mendatang. Menurut dia, pemangkasan harga jual oleh Saudi mencerminkan perubahan kondisi pasar, sementara peningkatan produksi OPEC+ menunjukkan upaya negara-negara produsen memperbesar pendapatan melalui kenaikan volume penjualan.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan negara-negara produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global. Meski lalu lintas pelayaran mulai kembali dibuka secara bertahap, volume kapal yang melintas masih berada di bawah tingkat sebelum konflik sehingga perkembangan situasi keamanan di kawasan tersebut tetap menjadi perhatian pelaku pasar energi.
Kepala Strategi Komoditas ING Groep NV Warren Patterson mengatakan insiden terbaru di Teluk Persia menunjukkan kondisi keamanan di kawasan tersebut belum sepenuhnya pulih sehingga dapat memberikan dukungan sementara terhadap harga minyak.
"Respons Amerika Serikat yang terbatas mungkin dapat memberikan dukungan jangka pendek terhadap harga minyak. Namun, mengingat sentimen pasar yang masih bearish dan lemahnya pasar fisik, setiap kenaikan harga kemungkinan hanya akan berlangsung singkat," kata Patterson seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga: Kenapa Para Jenderal Iran Bersumpah Akan Balas Dendam atas Kematian Khamenei?
Laporan UK Maritime Trade Operations (UKMTO) menyebutkan sebuah kapal tanker yang berlayar ke arah selatan terkena proyektil di sisi kiri lambung kapal sekitar delapan mil laut di sebelah timur Limah, Oman, sehingga memicu kebakaran. Seorang pejabat Amerika Serikat juga menyatakan Iran menembakkan sedikitnya dua rudal ke arah kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Dua kapal dilaporkan mengalami kerusakan, namun tidak menimbulkan korban jiwa.
Merespons insiden tersebut, harga minyak Brent naik 0,4% menjadi USD72,31 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,5% menjadi USD68,87 per barel pada perdagangan Selasa pagi waktu Singapura. Sebelumnya, harga minyak sempat melemah tajam setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Di sisi lain, pasar masih menghadapi tekanan dari prospek bertambahnya pasokan minyak dunia. Saudi Aramco memangkas harga resmi penjualan (Official Selling Price/OSP) minyak Arab Light untuk pasar Asia sebesar USD1,10 per barel, menyusul keputusan negara-negara OPEC+ meningkatkan kuota produksi pada bulan depan.
Baca Juga: Seruan 'Bunuh Trump' Menggema dalam Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Chief Executive Officer Infrastructure Capital Management LLC Jay Hatfield memperkirakan harga minyak berpotensi bergerak di kisaran USD60 per barel dalam satu bulan mendatang. Menurut dia, pemangkasan harga jual oleh Saudi mencerminkan perubahan kondisi pasar, sementara peningkatan produksi OPEC+ menunjukkan upaya negara-negara produsen memperbesar pendapatan melalui kenaikan volume penjualan.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan negara-negara produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global. Meski lalu lintas pelayaran mulai kembali dibuka secara bertahap, volume kapal yang melintas masih berada di bawah tingkat sebelum konflik sehingga perkembangan situasi keamanan di kawasan tersebut tetap menjadi perhatian pelaku pasar energi.
(nng)
Lihat Juga :