Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja

Kamis, 09 Juli 2026 - 20:42 WIB
loading...
Industri Plastik Tertekan...
Industri petrokimia dan plastik nasional menghadapi tekanan akibat meningkatnya impor bahan baku plastik asal China. FOTO/iStock Photo
A A A
JAKARTA - Industri petrokimia dan plastik nasional menghadapi tekanan akibat meningkatnya impor bahan baku plastik asal China yang diduga dijual dengan harga dumping. Pelaku industri mendesak pemerintah segera menerapkan kebijakan pengamanan perdagangan agar utilisasi industri hulu tidak terus menurun dan iklim investasi tetap terjaga.

"Impor bahan baku plastik PE, PP, PVC, dan PET dari China kenaikannya cukup tinggi secara volume. Mereka juga banting harga sehingga produknya lebih murah dibandingkan yang lain," ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, seperti dikutip pada Kamis (9/7/2026).

Baca Juga: 20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?

Fajar mengatakan membanjirnya produk impor berharga murah membuat ruang produsen dalam negeri untuk mempertahankan margin keuntungan semakin sempit. Kondisi tersebut diperburuk oleh tingginya biaya energi, terutama harga gas industri di luar skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), yang mencapai sekitar 13 dolar AS per MMBtu sehingga menekan daya saing industri nasional.

Menurut dia, pasar domestik masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku plastik. Kebutuhan polyethylene (PE) di Indonesia mencapai sekitar 2 juta ton per tahun, sedangkan pasokan dalam negeri baru sekitar 1,2 juta ton. Sementara kebutuhan polypropylene (PP) mencapai sekitar 2,1 juta ton, namun produksi domestik baru sekitar 900 ribu ton sehingga sisanya masih dipenuhi melalui impor.

Tekanan tersebut mulai berdampak terhadap aktivitas industri. Sejumlah perusahaan, kata Fajar, telah mengurangi jam operasional dengan mengubah sistem kerja dari pola shift menjadi harian, meski hingga kini belum terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri hulu. Namun, aktivitas sektor pendukung seperti logistik dan jasa bongkar muat mulai mengalami penurunan.



Ia menambahkan industri tengah mengkaji pengajuan instrumen anti-dumping, namun proses tersebut memerlukan data resmi dan koordinasi lintas kementerian serta lembaga. Karena itu, Inaplas meminta pemerintah mengambil peran utama dalam mempercepat kebijakan pengamanan perdagangan agar industri nasional tidak kehilangan daya saing sebelum perlindungan diberlakukan.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai praktik dumping berpotensi memicu price undercutting dan price suppression, sehingga margin keuntungan industri menyusut, utilisasi produksi menurun, dan kemampuan perusahaan untuk berinvestasi maupun berekspansi semakin terbatas.

Baca Juga: Harga Plastik Meroket 100%, Pemerintah Siapkan Stimulus untuk Industri

Menurut Yusuf, pemerintah sebenarnya telah memiliki instrumen berupa Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) untuk mengatasi praktik perdagangan tidak adil. Namun penerapannya perlu mempertimbangkan keseimbangan antara perlindungan industri hulu dan keberlangsungan industri hilir agar tidak menimbulkan tekanan baru terhadap pengguna bahan baku.

Selain mempercepat kebijakan anti-dumping, Yusuf menilai pemerintah juga perlu menurunkan biaya energi, khususnya harga gas industri, guna meningkatkan daya saing sektor petrokimia nasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan industri, melindungi lapangan kerja, serta menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif di tengah meningkatnya persaingan global.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Aturan Baru Outsourcing...
Aturan Baru Outsourcing Masuk Tahap Finalisasi, Said Iqbal: Target Rampung Juli 2026
Rahasia Industri Logam...
Rahasia Industri Logam Tanah Jarang China Dibongkar Ilmuwan, AS-Jepang Pegang Kunci Mineral Langka!
Purbaya dan Said Iqbal...
Purbaya dan Said Iqbal Mau Makan Siang Bareng Besok, Ada Apa?
Indonesia Negara Kaya...
Indonesia Negara Kaya Batu Bara, Mengapa Justru Impor dari AS?
Tokopedia Sangkal PHK...
Tokopedia Sangkal PHK Massal Karyawan, Klaim Penataan Tenaga Kerja
Isu PHK Massal Karyawan...
Isu PHK Massal Karyawan Bikin Heboh! Dasco Panggil Menaker, TikTok dan Tokopedia
Akademisi Beijing: Negara...
Akademisi Beijing: Negara Mana Pun yang Berani Perang Nuklir Melawan China Akan Musnah
Uni Eropa Perketat Impor...
Uni Eropa Perketat Impor E-Commerce, Era Paket Murah dari China Mulai Berakhir
Eropa Siap Masuk Arena...
Eropa Siap Masuk Arena Pertempuran Robot AI China dan AS
Rekomendasi
Gubernur Bushehr Ungkap...
Gubernur Bushehr Ungkap Target Serangan AS, Pemakaman Khamenei Tak Terdampak
Viral Surat Edaran Peningkatan...
Viral Surat Edaran Peningkatan Kewaspadaan, Ini Penjelasan Kejagung
Kejagung Imbau Publik...
Kejagung Imbau Publik Tak Beropini terkait Penggeledahan 12 Titik oleh Polri
Berita Terkini
AFI Tawarkan Perlindungan...
AFI Tawarkan Perlindungan Jiwa Lintas Generasi Perkuat Ketahanan Finansial
Rusia Larang Ekspor...
Rusia Larang Ekspor Solar, Picu Kekhawatiran Baru di Pasar Energi Dunia
PNM Bawa Suara Jutaan...
PNM Bawa Suara Jutaan Pengusaha Ultra Mikro di Halal Expo Indonesia 2026
Sabet Dua Penghargaan,...
Sabet Dua Penghargaan, Great Eastern Life Bersinar di Ajang Insurance Asia Awards 2026
Aturan Baru Outsourcing...
Aturan Baru Outsourcing Masuk Tahap Finalisasi, Said Iqbal: Target Rampung Juli 2026
Industri Plastik Tertekan...
Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja
Infografis
Elon Musk: Drone Murah...
Elon Musk: Drone Murah China Bisa Hancurkan Jet Tempur F-35 AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved