Bagaimana Kebijakan Bank Sentral Berpengaruh terhadap Pasar Mata Uang?
Jum'at, 10 Juli 2026 - 18:41 WIB
loading...
Di pasar Forex, kebijakan bank sentral sangat penting untuk dipahami karena biasanya menjadi dasar dari setiap pergerakan mata uang. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Bank sentral memiliki pengaruh yang besar terhadap pasar foreign exchange. Keputusan terkait suku bunga, pernyataan kebijakan, proyeksi inflasi, dan pertumbuhan ekonomi semuanya memengaruhi nilai mata uang relatif terhadap satu sama lain. Di pasar Forex , kebijakan bank sentral sangat penting untuk dipahami karena biasanya menjadi dasar dari setiap pergerakan mata uang.
Mata uang ditradingkan secara berpasangan, sehingga nilainya bersifat relatif. Mata uang bisa menguat karena kinerja ekonominya sendiri atau sekadar karena bank sentral negara terkait dianggap lebih agresif dibandingkan bank sentral negara lain. Baca juga: Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Jika The Fed mengumumkan niatnya untuk menaikkan suku bunga dan ECB tetap menerapkan kebijakan moneter yang akomodatif, secara historis dolar cenderung menguat terhadap euro. ”Kenaikan suku bunga kemungkinan akan mendorong permintaan terhadap instrumen keuangan yang diterbitkan dalam mata uang tertentu karena imbal hasilnya yang lebih tinggi,” demikian pernyataan JustMarkets dalam siaran pers, Jumat (10/7/2026).
Ketika bank sentral menerapkan kebijakan yang berbeda atau mengisyaratkan arah kebijakan di masa depan yang berbeda, terjadi divergensi yang mengakibatkan perbedaan dalam tingkat suku bunga, ekspektasi, dan arus modal. Ada tiga faktor yang menjelaskan bagaimana divergensi kebijakan memengaruhi pasangan mata uang.
Pertama, perbedaan suku bunga: modal biasanya mengalir ke negara yang suku bunganya tinggi. Kedua, ekspektasi ke depan: pasar biasanya sudah memperhitungkan efek dari kebijakan yang diantisipasi. Ketiga, sentimen risiko investor: selera risiko global dapat memperkuat atau menetralisir dampak divergensi kebijakan.
Mata uang ditradingkan secara berpasangan, sehingga nilainya bersifat relatif. Mata uang bisa menguat karena kinerja ekonominya sendiri atau sekadar karena bank sentral negara terkait dianggap lebih agresif dibandingkan bank sentral negara lain. Baca juga: Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Jika The Fed mengumumkan niatnya untuk menaikkan suku bunga dan ECB tetap menerapkan kebijakan moneter yang akomodatif, secara historis dolar cenderung menguat terhadap euro. ”Kenaikan suku bunga kemungkinan akan mendorong permintaan terhadap instrumen keuangan yang diterbitkan dalam mata uang tertentu karena imbal hasilnya yang lebih tinggi,” demikian pernyataan JustMarkets dalam siaran pers, Jumat (10/7/2026).
Ketika bank sentral menerapkan kebijakan yang berbeda atau mengisyaratkan arah kebijakan di masa depan yang berbeda, terjadi divergensi yang mengakibatkan perbedaan dalam tingkat suku bunga, ekspektasi, dan arus modal. Ada tiga faktor yang menjelaskan bagaimana divergensi kebijakan memengaruhi pasangan mata uang.
Pertama, perbedaan suku bunga: modal biasanya mengalir ke negara yang suku bunganya tinggi. Kedua, ekspektasi ke depan: pasar biasanya sudah memperhitungkan efek dari kebijakan yang diantisipasi. Ketiga, sentimen risiko investor: selera risiko global dapat memperkuat atau menetralisir dampak divergensi kebijakan.
Lihat Juga :