Usai Hengkang dari OPEC, Produksi Minyak UEA Cetak Rekor Tembus 4,1 Juta Barel per Hari

Sabtu, 11 Juli 2026 - 07:55 WIB
loading...
Usai Hengkang dari OPEC,...
Uni Emirat Arab (UEA) mencatatkan rekor produksi minyak mentah tertinggi sepanjang sejarah pada Juni 2026. FOTO/AP
A A A
JAKARTA - Uni Emirat Arab (UEA) mencatatkan rekor produksi minyak mentah tertinggi sepanjang sejarah pada Juni 2026, menembus angka 4,1 juta barel per hari (bph). Pencapaian ini menjadikan Abu Dhabi sebagai negara Teluk paling agresif dalam merespons gangguan pasokan akibat perang Iran serta konsekuensi dari keputusannya keluar dari OPEC.

"UEA memompa rata-rata 4,1 juta bph pada Juni, melampaui rekor sebelumnya yaitu 4 juta bph pada 2020, dan ini merupakan respons paling berani dibandingkan tetangganya di Teluk Persia terhadap gangguan akibat perang Iran," demikian laporan Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) dalam rilis bulanannya dikutip dari Bloomberg, Sabtu (11/7/2026).

Baca Juga: Tak Ingin Terus Jadi Target Rudal Iran, UEA Bayar Rp53 Triliun ke Teheran

Pencapaian ini sekaligus menandai babak baru setelah UEA resmi hengkang dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada akhir April lalu. Langkah tersebut diambil untuk memberikan fleksibilitas penuh bagi Abu Dhabi dalam mengejar rencana ekspansi produksinya tanpa terbelenggu oleh kuota yang ditetapkan kelompok negara pengekspor minyak tersebut. Keputusan ini membuahkan hasil ketika produksi Juni 2026 melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada 2020, saat negara itu meningkatkan pasokan dalam perang harga singkat dengan Arab Saudi.



Strategi agresif Abu Dhabi sejak perang pecah kian terlihat jelas, tidak hanya mengandalkan armada kapal tanker raksasa miliknya sendiri, tetapi juga menyewa kapal tambahan yang dikendalikan oleh Sinokor Group, perusahaan asal Korea Selatan yang kini mengoperasikan armada kapal supertanker minyak terbesar di dunia. Bahkan, banyak kapal beroperasi dalam mode "gelap" dengan mematikan transponder digital untuk meloloskan ekspor minyak dari Teluk Persia tanpa terdeteksi, memanfaatkan infrastruktur pelabuhan Fujairah yang berada di luar Selat Hormuz.

Baca Juga: Penasihat UEA Blak-blakan Hengkang dari OPEC: Masa Kejayaan Minyak Mulai Berakhir

Peningkatan produksi di tengah pasar yang bergejolak tersebut sempat membantu meredam harga minyak dunia, menggusur kekhawatiran kelangkaan pasokan menjadi tanda-tanda kelebihan pasokan di beberapa kawasan utama, sekaligus menghapus sebagian besar kenaikan harga minyak mentah yang terjadi pada masa perang. Brent, acuan minyak global, sempat menyentuh USD80 per barel pada awal pekan turun ke bawah USD76 per barel pada akhir pekan.

Namun, gambaran pemulihan menjadi kabur ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran secara efektif batal setelah kedua pihak kembali saling serang di Teluk Persia. Pasukan AS melancarkan serangan ke Iran selama dua hari berturut-turut, sementara Teheran dilaporkan menembaki Bahrain dan Kuwait.

Meskipun UEA memimpin, negara-negara penghasil utama Teluk lainnya juga meningkatkan produksi pada Juni meskipun masih di bawah level sebelum perang. Arab Saudi memompa 7,3 juta bph, naik 900.000 bph dari bulan sebelumnya, sementara Kuwait meningkatkan produksi menjadi rata-rata 1,4 juta bph dan Irak menjadi 2 juta bph.

Di sisi lain, aktivitas kilang di kawasan Teluk merespons lebih lambat dibandingkan produksi minyak mentah, dengan ekspor produk olahan masih kurang dari separuh volume sebelum konflik, menurut analisis IEA. Situasi ini menambah dinamika baru bagi pasar energi global yang masih membayangi ketidakpastian keamanan dan pasokan di kawasan Timur Tengah.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Permintaan Minyak Global...
Permintaan Minyak Global Diramal Turun Tajam di 2026, Terburuk sejak Pandemi Covid-19
Daftar 7 Negara OPEC+...
Daftar 7 Negara OPEC+ yang Buka Keran Minyak, Intip Angkanya
Dunia Tak Lagi Takut...
Dunia Tak Lagi Takut Ancaman Gejolak Selat Hormuz imbas Perang AS-Iran, Apa Rahasianya?
Kesepakatan Damai Batal!...
Kesepakatan Damai Batal! AS Gempur Balik Iran, Harga Minyak Ngamuk Lagi
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Setelah 24 Tahun Vakum,...
Setelah 24 Tahun Vakum, Sumur LLA-5 PHE ONWJ Hasilkan Minyak 780 Barel per Hari
Rusia Terbuka Jika Turki...
Rusia Terbuka Jika Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA
Iran Tegaskan Siap untuk...
Iran Tegaskan Siap untuk Pertahanan Skala Penuh, Trump Sebut Gencatan Senjata Berakhir
Bicara dengan Presiden...
Bicara dengan Presiden Iran, PM Pakistan Desak AS dan Iran Komitmen pada Pakta Perdamaian
Rekomendasi
Trump Ungkap 1.000 Rudal...
Trump Ungkap 1.000 Rudal Diarahkan ke Iran Jika Dia Dibunuh
4 Pelajar Indonesia...
4 Pelajar Indonesia Siap Berlaga di Olimpiade Kimia Internasional IChO 2026
Bicara dengan Presiden...
Bicara dengan Presiden Iran, PM Pakistan Desak AS dan Iran Komitmen pada Pakta Perdamaian
Berita Terkini
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp5.000 per Gram, Buyback Jadi Berapa?
Easycash, OJK dan AFTECH...
Easycash, OJK dan AFTECH Perkuat Literasi Keuangan Generasi Muda di Bali
IHSG Sepekan Naik 0,83%,...
IHSG Sepekan Naik 0,83%, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp10.340 Triliun
Promo Spesial BRI Kartu...
Promo Spesial BRI Kartu Kredit: Jalan-Jalan Lebih Hemat Rp125.000 di tiket.com!
Imbal Hasil Obligasi...
Imbal Hasil Obligasi Kian Jadi Penentu Utama Pergerakan Valas
BULOG dan Komisi IV...
BULOG dan Komisi IV DPR Perkuat Sinergi Dukung Kesejahteraan Petani di Klaten
Infografis
Kemenkes Siap Produksi...
Kemenkes Siap Produksi 40 Juta Telur Nyamuk Wolbachia Per Minggu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved