Easycash, OJK dan AFTECH Perkuat Literasi Keuangan Generasi Muda di Bali
Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:11 WIB
loading...
UID Talk x Easycash bertajuk Adulting 101: How to Spend Smart and Manage Wisely di UID Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mendorong penguatan literasi keuangan digital bagi generasi muda dan pelaku wirausaha lokal agar mampu memanfaatkan layanan keuangan secara bijak serta bertanggung jawab. Akselerasi pemahaman ini mendesak dilakukan menyusul tingginya penetrasi digital yang belum diimbangi oleh kecakapan finansial yang memadai di tengah masyarakat.
"Meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital merupakan perkembangan yang positif. Namun, akses tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai agar masyarakat mampu mengenali manfaat, risiko, hak, dan kewajibannya sebagai konsumen," ujar Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/7/2026).
Baca Juga: OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
Hal itu diungkapkan dalam kegiatan UID Talk x Easycash bertajuk "Adulting 101: How to Spend Smart and Manage Wisely" di UID Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, baru-baru ini. Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 oleh OJK dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 80,51%, sedangkan indeks literasi keuangan baru menyentuh angka 66,46%. Kesenjangan (gap) ini menjadi perhatian serius, terutama di Bali yang tengah berkembang pesat sebagai pusat ekonomi kreatif dan kewirausahaan, dengan sekitar 9,89% penduduknya berprofesi sebagai wirausaha menurut data Bali Satu Data.
Merespons kondisi tersebut, platform pinjaman daring PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) bersama Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan IARFC Indonesia meluncurkan dua inisiatif edukasi, yakni Modul Bijak Keuangan (MOJANG) dan ChatPindar. MOJANG disusun sebagai panduan finansial praktis harian bagi anak muda, sedangkan ChatPindar merupakan platform literasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menyediakan akses informasi kredibel seputar industri pinjaman daring.
Direktur Eksekutif AFTECH, Mercy Simorangkir, menjelaskan inisiatif kolaboratif ini bukan ditujukan untuk mendorong masyarakat menggunakan produk fintech tertentu secara konsumtif. Sebaliknya, program tersebut bertujuan membekali generasi muda di Bali agar memiliki fondasi kokoh dalam mengelola keuangan pribadi, memahami mitigasi risiko, serta tidak bersikap reaktif terhadap masifnya arus informasi produk keuangan digital.
Baca Juga: Penghimpunan Dana di Pasar Modal Tembus Rp59,35 Triliun, Ketua OJK Tekankan Kepercayaan Investor
Sementara itu, Komisaris Utama Easycash, Jimmy Muhamad Rifai Gani, mengingatkan pentingnya menjaga reputasi atau rekam jejak kredit (credit score) sejak dini. Menurutnya, banyak generasi muda yang aktif menggunakan layanan digital tidak menyadari bahwa setiap keputusan finansial yang diambil akan tercatat secara permanen di masa depan. Rekam jejak yang bersih merupakan aset penting yang akan membuka peluang pendanaan produktif untuk melanjutkan pendidikan maupun mengembangkan usaha.
President United In Diversity (UID) Foundation, Tantowi Yahya, turut menekankan forum berskala luas ini mencerminkan pentingnya dialog lintas sektor antara regulator, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat sipil. Penguasaan manajemen keuangan dinilai sebagai salah satu keterampilan hidup (life skill) krusial bagi kelompok produktif yang tidak selalu diajarkan secara formal di ruang-ruang kelas universitas.
"Meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital merupakan perkembangan yang positif. Namun, akses tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai agar masyarakat mampu mengenali manfaat, risiko, hak, dan kewajibannya sebagai konsumen," ujar Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/7/2026).
Baca Juga: OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
Hal itu diungkapkan dalam kegiatan UID Talk x Easycash bertajuk "Adulting 101: How to Spend Smart and Manage Wisely" di UID Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, baru-baru ini. Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 oleh OJK dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 80,51%, sedangkan indeks literasi keuangan baru menyentuh angka 66,46%. Kesenjangan (gap) ini menjadi perhatian serius, terutama di Bali yang tengah berkembang pesat sebagai pusat ekonomi kreatif dan kewirausahaan, dengan sekitar 9,89% penduduknya berprofesi sebagai wirausaha menurut data Bali Satu Data.
Merespons kondisi tersebut, platform pinjaman daring PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) bersama Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan IARFC Indonesia meluncurkan dua inisiatif edukasi, yakni Modul Bijak Keuangan (MOJANG) dan ChatPindar. MOJANG disusun sebagai panduan finansial praktis harian bagi anak muda, sedangkan ChatPindar merupakan platform literasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menyediakan akses informasi kredibel seputar industri pinjaman daring.
Direktur Eksekutif AFTECH, Mercy Simorangkir, menjelaskan inisiatif kolaboratif ini bukan ditujukan untuk mendorong masyarakat menggunakan produk fintech tertentu secara konsumtif. Sebaliknya, program tersebut bertujuan membekali generasi muda di Bali agar memiliki fondasi kokoh dalam mengelola keuangan pribadi, memahami mitigasi risiko, serta tidak bersikap reaktif terhadap masifnya arus informasi produk keuangan digital.
Baca Juga: Penghimpunan Dana di Pasar Modal Tembus Rp59,35 Triliun, Ketua OJK Tekankan Kepercayaan Investor
Sementara itu, Komisaris Utama Easycash, Jimmy Muhamad Rifai Gani, mengingatkan pentingnya menjaga reputasi atau rekam jejak kredit (credit score) sejak dini. Menurutnya, banyak generasi muda yang aktif menggunakan layanan digital tidak menyadari bahwa setiap keputusan finansial yang diambil akan tercatat secara permanen di masa depan. Rekam jejak yang bersih merupakan aset penting yang akan membuka peluang pendanaan produktif untuk melanjutkan pendidikan maupun mengembangkan usaha.
President United In Diversity (UID) Foundation, Tantowi Yahya, turut menekankan forum berskala luas ini mencerminkan pentingnya dialog lintas sektor antara regulator, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat sipil. Penguasaan manajemen keuangan dinilai sebagai salah satu keterampilan hidup (life skill) krusial bagi kelompok produktif yang tidak selalu diajarkan secara formal di ruang-ruang kelas universitas.
(nng)
Lihat Juga :