Dirut PTPN I Beberkan Lima Pilar Industri Perkebunan
Sabtu, 11 Juli 2026 - 19:35 WIB
loading...
Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras mengatakan industri agro memiliki posisi yang amat strategis dalam pola rantai kehidupan sosial. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Industri perkebunan atau farming adalah main course, alias menu utama sebagai penyedia bahan baku industri manufaktur . Industri ini tidak akan mati selagi masih ada kehidupan.
“Jadi kita harus memperkuat semua lini dengan modernisasi dan profesionalitas agar perusahaan berkembang lebih progresif,” kata Direktur Utama PTPN I , Abdul Rivai Ras di Jakarta Jumat (10/7/2026).
Lebih jauh, Rivai mengatakan industri agro memiliki posisi yang amat strategis dalam pola rantai kehidupan sosial. Selain karena menghasilkan produk utama penyediaan bahan pangan, bidang perkebunan juga bersifat padat karya.
Tingkat keterlibatan manusia dalam proses operasional industri agro cenderung lebih tinggi dan lebih merata di semua kawasan dibanding industri lain. Baca Juga: PTPN III Terus Perkuat Sinergi dengan UMKM
“Kita tahu, perkebunan dan pertanian menyerap tenaga paling besar dalam rantai ekonomi. Sebarannya juga sangat luas, tidak terkonsentrasi di titik tertentu. Dan lebih penting lagi, lapangan kerja yang tercipta bisa dimasuki oleh siapa saja,” kata Dirut kelahiran Bone, Sulawesi Selata, itu.
Menurut Abdul Rivai Ras, dinamika industri perkebunan saat ini telah mengalami perubahan yang sangat cepat. Persaingan global, volatilitas harga komoditas, dampak perubahan iklim, tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan, hingga percepatan digitalisasi telah mengubah paradigma pengelolaan perusahaan perkebunan.
Baca Juga: Naik 81%, Laba PTPN Group Tembus 6,39 Triliun
"Mengelola PTPN I hari ini bukan lagi sekadar mengelola kebun atau mengejar target produksi. Amanah ini adalah tanggung jawab untuk membangun sebuah korporasi negara yang mampu bersaing di tingkat global dan menciptakan nilai tambah," kata Rivai yang menyelesaikan gelar doktornya di Uiversitas Indonesia pada 2010 itu.
Untuk mewujudkan visi itu, PTPN I menetapkan lima pilar transformasi sebagai fondasi pembangunan perusahaan menuju korporasi agribisnis berkelas dunia. Yaitu, tata kelola perusahaan yang baik (GCG), penguatan manajemen risiko, digitalisasi manajemen, optimalisasi aset negara, dan penguatan sinergi kelembagaan.
Soal GCG, seluruh proses bisnis PTPN I harus dijalankan secara transparan, akuntabel, profesional, serta menjunjung tinggi kepatuhan terhadap regulasi. Penguatan manajemen risiko, adalah benteng terkuat untuk menjaga keamanan aset dari risiko bias.
"Perusahaan yang kuat bukan hanya mampu menghasilkan keuntungan, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola risiko secara terukur sehingga tetap tumbuh secara berkelanjutan di tengah berbagai tantangan global," tegas Rivai.
Soal digitalisasi, bukan sekadar penggunaan teknologi, melainkan perubahan budaya kerja yang mengedepankan efisiensi, kecepatan, akurasi, dan pengambilan keputusan berbasis data. Terkait pilar keempat, optimalisasi aset negara menegaskan bahwa seluruh aset yang dikelola PTPN I diarahkan untuk menghasilkan produktivitas dan nilai ekonomi yang maksimal.
Sementara itu pilar kelima, menurut Abdul Rivai Ras, keberhasilan transformasi perusahaan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang erat dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, regulator, DPR, aparat penegak hukum, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat.
“Transformasi bukanlah pekerjaan satu orang atau satu institusi. Ini adalah gerakan bersama untuk membangun PTPN I menjadi perusahaan agribisnis nasional," pungkas Abdul Rivai Ras.
“Jadi kita harus memperkuat semua lini dengan modernisasi dan profesionalitas agar perusahaan berkembang lebih progresif,” kata Direktur Utama PTPN I , Abdul Rivai Ras di Jakarta Jumat (10/7/2026).
Lebih jauh, Rivai mengatakan industri agro memiliki posisi yang amat strategis dalam pola rantai kehidupan sosial. Selain karena menghasilkan produk utama penyediaan bahan pangan, bidang perkebunan juga bersifat padat karya.
Tingkat keterlibatan manusia dalam proses operasional industri agro cenderung lebih tinggi dan lebih merata di semua kawasan dibanding industri lain. Baca Juga: PTPN III Terus Perkuat Sinergi dengan UMKM
“Kita tahu, perkebunan dan pertanian menyerap tenaga paling besar dalam rantai ekonomi. Sebarannya juga sangat luas, tidak terkonsentrasi di titik tertentu. Dan lebih penting lagi, lapangan kerja yang tercipta bisa dimasuki oleh siapa saja,” kata Dirut kelahiran Bone, Sulawesi Selata, itu.
Menurut Abdul Rivai Ras, dinamika industri perkebunan saat ini telah mengalami perubahan yang sangat cepat. Persaingan global, volatilitas harga komoditas, dampak perubahan iklim, tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan, hingga percepatan digitalisasi telah mengubah paradigma pengelolaan perusahaan perkebunan.
Baca Juga: Naik 81%, Laba PTPN Group Tembus 6,39 Triliun
"Mengelola PTPN I hari ini bukan lagi sekadar mengelola kebun atau mengejar target produksi. Amanah ini adalah tanggung jawab untuk membangun sebuah korporasi negara yang mampu bersaing di tingkat global dan menciptakan nilai tambah," kata Rivai yang menyelesaikan gelar doktornya di Uiversitas Indonesia pada 2010 itu.
Untuk mewujudkan visi itu, PTPN I menetapkan lima pilar transformasi sebagai fondasi pembangunan perusahaan menuju korporasi agribisnis berkelas dunia. Yaitu, tata kelola perusahaan yang baik (GCG), penguatan manajemen risiko, digitalisasi manajemen, optimalisasi aset negara, dan penguatan sinergi kelembagaan.
Soal GCG, seluruh proses bisnis PTPN I harus dijalankan secara transparan, akuntabel, profesional, serta menjunjung tinggi kepatuhan terhadap regulasi. Penguatan manajemen risiko, adalah benteng terkuat untuk menjaga keamanan aset dari risiko bias.
"Perusahaan yang kuat bukan hanya mampu menghasilkan keuntungan, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola risiko secara terukur sehingga tetap tumbuh secara berkelanjutan di tengah berbagai tantangan global," tegas Rivai.
Soal digitalisasi, bukan sekadar penggunaan teknologi, melainkan perubahan budaya kerja yang mengedepankan efisiensi, kecepatan, akurasi, dan pengambilan keputusan berbasis data. Terkait pilar keempat, optimalisasi aset negara menegaskan bahwa seluruh aset yang dikelola PTPN I diarahkan untuk menghasilkan produktivitas dan nilai ekonomi yang maksimal.
Sementara itu pilar kelima, menurut Abdul Rivai Ras, keberhasilan transformasi perusahaan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang erat dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, regulator, DPR, aparat penegak hukum, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat.
“Transformasi bukanlah pekerjaan satu orang atau satu institusi. Ini adalah gerakan bersama untuk membangun PTPN I menjadi perusahaan agribisnis nasional," pungkas Abdul Rivai Ras.
(akr)
Lihat Juga :