Teluk Kembali Memanas, China Siaga Jaga Produksi BBM Tetap Tinggi
Senin, 13 Juli 2026 - 07:58 WIB
loading...
Pemerintah China menginstruksikan untuk meningkatkan produksi BBM khawatir perang AS-Iran kembali memanas. FOTO/Nikkei Asia
A
A
A
BEIJING - Pemerintah China menginstruksikan sejumlah kilang minyak utama untuk mempertahankan bahkan meningkatkan produksi bahan bakar minyak (BBM) sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat memanasnya kembali konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Teluk Persia. Langkah tersebut diambil untuk memastikan kebutuhan energi domestik tetap terjaga.
"Setidaknya dua kilang minyak utama diminta mempertahankan atau meningkatkan tingkat operasionalnya," demikian disampaikan sumber yang mengetahui kebijakan tersebut, seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (13/7/2026).
Baca Juga: Iran Bombardir Pangkalan AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman
Instruksi tersebut muncul setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menyusul serangan yang kembali terjadi di kawasan Teluk Persia. Situasi semakin rumit setelah pemerintah AS mencabut pengecualian (waiver) yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak Iran, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan minyak mentah dan bahan bakar global.
Pada tahap awal konflik, pemerintah China sempat membatasi ekspor bensin, solar, dan avtur guna memastikan kecukupan pasokan di dalam negeri. Namun, ketika kondisi sempat mereda, Beijing kembali melonggarkan kebijakan tersebut, termasuk dengan menerbitkan tambahan kuota ekspor produk minyak pada awal Juli.
Meski demikian, eskalasi terbaru membuat pemerintah China kembali bersikap waspada. Sebagai konsumen minyak mentah terbesar di Asia, Beijing berupaya mengantisipasi potensi terganggunya rantai pasok energi yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi domestik dan aktivitas industri.
Kebijakan mempertahankan tingkat produksi kilang diambil meskipun persediaan bensin dan solar di China saat ini masih tergolong tinggi. Permintaan terhadap kedua jenis BBM tersebut juga mengalami perlambatan secara struktural seiring perubahan pola konsumsi energi di negara tersebut.
Baca Juga: Selat Hormuz Dikunci Rapat Iran, Jalur Minyak Terpenting Dunia Kembali Mandek
Di sisi lain, Pemerintah China tetap mempertahankan sistem kuota ekspor produk minyak yang selama ini diterapkan secara ketat. Menurut sumber tersebut, kuota ekspor untuk Juli tidak akan direvisi meski terjadi perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Kebijakan meningkatkan produksi kilang diperkirakan akan memberikan tekanan tambahan terhadap margin pengolahan minyak di kawasan Asia. Selisih harga bensin Asia dengan minyak mentah Dubai bahkan telah turun ke level terendah sejak akhir Maret, mencerminkan tekanan terhadap profitabilitas sektor pengilangan di tengah ketidakpastian pasar energi global.
"Setidaknya dua kilang minyak utama diminta mempertahankan atau meningkatkan tingkat operasionalnya," demikian disampaikan sumber yang mengetahui kebijakan tersebut, seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (13/7/2026).
Baca Juga: Iran Bombardir Pangkalan AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman
Instruksi tersebut muncul setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menyusul serangan yang kembali terjadi di kawasan Teluk Persia. Situasi semakin rumit setelah pemerintah AS mencabut pengecualian (waiver) yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak Iran, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan minyak mentah dan bahan bakar global.
Pada tahap awal konflik, pemerintah China sempat membatasi ekspor bensin, solar, dan avtur guna memastikan kecukupan pasokan di dalam negeri. Namun, ketika kondisi sempat mereda, Beijing kembali melonggarkan kebijakan tersebut, termasuk dengan menerbitkan tambahan kuota ekspor produk minyak pada awal Juli.
Meski demikian, eskalasi terbaru membuat pemerintah China kembali bersikap waspada. Sebagai konsumen minyak mentah terbesar di Asia, Beijing berupaya mengantisipasi potensi terganggunya rantai pasok energi yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi domestik dan aktivitas industri.
Kebijakan mempertahankan tingkat produksi kilang diambil meskipun persediaan bensin dan solar di China saat ini masih tergolong tinggi. Permintaan terhadap kedua jenis BBM tersebut juga mengalami perlambatan secara struktural seiring perubahan pola konsumsi energi di negara tersebut.
Baca Juga: Selat Hormuz Dikunci Rapat Iran, Jalur Minyak Terpenting Dunia Kembali Mandek
Di sisi lain, Pemerintah China tetap mempertahankan sistem kuota ekspor produk minyak yang selama ini diterapkan secara ketat. Menurut sumber tersebut, kuota ekspor untuk Juli tidak akan direvisi meski terjadi perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Kebijakan meningkatkan produksi kilang diperkirakan akan memberikan tekanan tambahan terhadap margin pengolahan minyak di kawasan Asia. Selisih harga bensin Asia dengan minyak mentah Dubai bahkan telah turun ke level terendah sejak akhir Maret, mencerminkan tekanan terhadap profitabilitas sektor pengilangan di tengah ketidakpastian pasar energi global.
(nng)
Lihat Juga :