Pertamina Patra Niaga Lifting Perdana BBM B50, dari Kilang Kasim dan Plaju
Kamis, 23 Juli 2026 - 17:38 WIB
loading...
PT Pertamina Patra Niaga mencatatkan pengiriman (lifting) perdana bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar 50 atau B50 dari dua kilang utamanya, yakni Kilang Kasim dan Kilang Plaju. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina Patra Niaga mencatatkan pengiriman (lifting) perdana bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar 50 atau B50 dari dua kilang utamanya, yakni Kilang Kasim dan Kilang Plaju. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari peluncuran resmi B50 secara nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026.
"Lifting perdana B50 oleh Kilang Kasim dan Kilang Plaju merupakan salah satu milestone penting yang menandai langkah nyata Pertamina Patra Niaga dalam memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional khususnya melalui implementasi B50 yang dicanangkan pemerintah," ujar VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora melalui keterangan resmi, Kamis (23/7/2026).
Baca Juga: Prabowo Luncurkan BBM Baru B50 Pertama di Indonesia
Rangkaian pengiriman perdana tersebut diawali oleh Kilang Kasim pada 18 Juli 2026 yang menyalurkan sebanyak 4.600 kiloliter (KL) B50 ke kapal tanker MT Krasak. Pengiriman disusul oleh Kilang Plaju pada 22 Juli 2026 dengan menyalurkan 8.230 KL B50 ke Integrated Terminal (IT) Palembang.
Hasil penyaluran BBM dengan racikan 50% minyak kelapa sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) dan 50% minyak solar ini siap didistribusikan ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Indonesia Barat maupun Timur. Dengan demikian, masyarakat luas dapat segera merasakan manfaat dari BBM yang lebih ramah lingkungan tersebut.
Kitty menegaskan bahwa Pertamina Patra Niaga telah melakukan serangkaian persiapan matang guna menjamin kelancaran implementasi B50. Persiapan tersebut mencakup kesiapan fasilitas infrastruktur, sistem pengendalian mutu produk, hingga pemenuhan standar keselamatan operasional untuk memastikan keandalan pasokan.
Pada proses produksi, pencampuran (blending) antara solar dan FAME dilakukan secara bertahap hingga memenuhi standar spesifikasi yang ditetapkan. Setelah itu, produk akhir diuji secara ketat di laboratorium sesuai regulasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelum disalurkan ke Fuel Terminal dan SPBU.
Baca Juga: Masa Transisi ke B50 Berlangsung hingga September, Penyaluran Dilakukan Bertahap
Selain mendorong keandalan energi, kehadiran B50 juga diproyeksikan memberikan dampak ganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional. Kebijakan pemanfaatan energi terbarukan berbasis sawit ini diyakini mampu menekan ketergantungan impor solar sehingga berujung pada penghematan devisa negara. "Program ini juga diharapkan mampu berkontribusi untuk pengurangan emisi gas rumah kaca, serta menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak," tutup Kitty.
"Lifting perdana B50 oleh Kilang Kasim dan Kilang Plaju merupakan salah satu milestone penting yang menandai langkah nyata Pertamina Patra Niaga dalam memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional khususnya melalui implementasi B50 yang dicanangkan pemerintah," ujar VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora melalui keterangan resmi, Kamis (23/7/2026).
Baca Juga: Prabowo Luncurkan BBM Baru B50 Pertama di Indonesia
Rangkaian pengiriman perdana tersebut diawali oleh Kilang Kasim pada 18 Juli 2026 yang menyalurkan sebanyak 4.600 kiloliter (KL) B50 ke kapal tanker MT Krasak. Pengiriman disusul oleh Kilang Plaju pada 22 Juli 2026 dengan menyalurkan 8.230 KL B50 ke Integrated Terminal (IT) Palembang.
Hasil penyaluran BBM dengan racikan 50% minyak kelapa sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) dan 50% minyak solar ini siap didistribusikan ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Indonesia Barat maupun Timur. Dengan demikian, masyarakat luas dapat segera merasakan manfaat dari BBM yang lebih ramah lingkungan tersebut.
Kitty menegaskan bahwa Pertamina Patra Niaga telah melakukan serangkaian persiapan matang guna menjamin kelancaran implementasi B50. Persiapan tersebut mencakup kesiapan fasilitas infrastruktur, sistem pengendalian mutu produk, hingga pemenuhan standar keselamatan operasional untuk memastikan keandalan pasokan.
Pada proses produksi, pencampuran (blending) antara solar dan FAME dilakukan secara bertahap hingga memenuhi standar spesifikasi yang ditetapkan. Setelah itu, produk akhir diuji secara ketat di laboratorium sesuai regulasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelum disalurkan ke Fuel Terminal dan SPBU.
Baca Juga: Masa Transisi ke B50 Berlangsung hingga September, Penyaluran Dilakukan Bertahap
Selain mendorong keandalan energi, kehadiran B50 juga diproyeksikan memberikan dampak ganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional. Kebijakan pemanfaatan energi terbarukan berbasis sawit ini diyakini mampu menekan ketergantungan impor solar sehingga berujung pada penghematan devisa negara. "Program ini juga diharapkan mampu berkontribusi untuk pengurangan emisi gas rumah kaca, serta menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak," tutup Kitty.
(nng)
Lihat Juga :