Ingin Masuk di Pasar Global? Pakar Ungkap Kunci Brand Indonesia Bisa Mendunia
Jum'at, 24 Juli 2026 - 13:56 WIB
loading...
A
A
A
Pada sisi input, AI mampu mengumpulkan dan menganalisis data perilaku konsumen, hasil riset pasar, hingga persepsi publik terhadap sebuah merek. “AI memungkinkan kita menganalisis data lebih efektif,” ujarnya. Sedangkan pada sisi output, AI memungkinkan satu pesan dikemas dalam berbagai versi sesuai karakter audiens, mulai dari generasi milenial, keluarga, hingga kelompok usia lanjut.
Meski demikian, Shih Huei menegaskan tantangan terbesar membangun brand bukan terletak pada teknologi, melainkan tata kelola organisasi. Menurutnya, pengelolaan merek tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab divisi pemasaran atau komunikasi, tetapi harus melibatkan seluruh organisasi, terutama jajaran pimpinan. “Brand harus menjadi tanggung jawab seluruh organisasi,” ujarnya.
Laura juga menilai perusahaan Indonesia perlu menjadikan brand sebagai inti bisnis (brand as an operating system). Selama ini banyak perusahaan masih mengandalkan perluasan distribusi dan persaingan harga untuk mendorong pertumbuhan. “Brand bukan lagi sekadar fungsi. Brand harus menjadi jantung organisasi,” jelasnya. Baca juga: Mendorong Penguatan Kopdes Merah Putih dengan Brand Kolektif Berbasis Produk Lokal
Ia mengingatkan perusahaan yang terlambat bertransformasi berisiko kehilangan daya saing karena koordinasi organisasi melemah dan strategi sulit dijalankan. Tantangan tersebut semakin besar bagi perusahaan keluarga yang keputusan bisnisnya masih terpusat pada pendiri, serta perusahaan dengan banyak lini usaha yang membutuhkan visi bersama.
Menurut Laura, bahkan perusahaan yang sudah menjadi pemimpin pasar harus terus berinovasi dan memahami kebutuhan konsumen agar tetap unggul. “Kalau sudah berada di puncak, semakin penting untuk terus berinovasi,” tandasnya.
Meski demikian, Shih Huei menegaskan tantangan terbesar membangun brand bukan terletak pada teknologi, melainkan tata kelola organisasi. Menurutnya, pengelolaan merek tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab divisi pemasaran atau komunikasi, tetapi harus melibatkan seluruh organisasi, terutama jajaran pimpinan. “Brand harus menjadi tanggung jawab seluruh organisasi,” ujarnya.
Laura juga menilai perusahaan Indonesia perlu menjadikan brand sebagai inti bisnis (brand as an operating system). Selama ini banyak perusahaan masih mengandalkan perluasan distribusi dan persaingan harga untuk mendorong pertumbuhan. “Brand bukan lagi sekadar fungsi. Brand harus menjadi jantung organisasi,” jelasnya. Baca juga: Mendorong Penguatan Kopdes Merah Putih dengan Brand Kolektif Berbasis Produk Lokal
Ia mengingatkan perusahaan yang terlambat bertransformasi berisiko kehilangan daya saing karena koordinasi organisasi melemah dan strategi sulit dijalankan. Tantangan tersebut semakin besar bagi perusahaan keluarga yang keputusan bisnisnya masih terpusat pada pendiri, serta perusahaan dengan banyak lini usaha yang membutuhkan visi bersama.
Menurut Laura, bahkan perusahaan yang sudah menjadi pemimpin pasar harus terus berinovasi dan memahami kebutuhan konsumen agar tetap unggul. “Kalau sudah berada di puncak, semakin penting untuk terus berinovasi,” tandasnya.
(poe)
Lihat Juga :