Pasokan Minyak Global Semakin Ketat, India dan China Berebut Diskon dari Rusia
Sabtu, 25 Juli 2026 - 07:49 WIB
loading...
Sebuah foto dari udara memperlihatkan sebuah kapal tanker minyak mentah di terminal minyak di lepas pantai Pulau Waidiao, Zhoushan, Provinsi Zhejiang, China, pada 4 Januari 2023. FOTO/China Daily via REUTERS
A
A
A
BEIJING - Diskon harga minyak mentah Rusia terus menyusut seiring kembali memanasnya konflik di Timur Tengah yang mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dan mempersempit pasokan minyak global. Kondisi tersebut mendorong kilang-kilang di China dan India meningkatkan pembelian minyak Rusia, sementara sebagian mulai mencari sumber pasokan alternatif untuk pengiriman September.
"Dengan ketidakpastian di Timur Tengah, minyak ESPO menjadi pilihan yang lebih aman dan juga lebih murah," ujar seorang pedagang dari perusahaan kilang minyak China kepada Reuters, dikutip pada Sabtu (25/7/2026).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 per Barel, Pertalite Bakal Naik?
Kembalinya serangan dan blokade pelayaran di Selat Hormuz menghambat arus pengiriman minyak dari Timur Tengah. Akibatnya, permintaan terhadap minyak mentah Rusia, terutama jenis ESPO Blend meningkat tajam di tengah kekhawatiran pasar terhadap semakin menipisnya pasokan energi global.
Reuters mengutip tiga sumber perdagangan melaporkan dua kilang besar di China telah membeli sebagian besar kargo minyak ESPO Blend Rusia untuk pengiriman September dari Pelabuhan Kozmino. Minyak tersebut diperdagangkan dengan diskon hanya sekitar USD1 hingga USD3 per barel terhadap harga acuan ICE Brent, menyempit dibandingkan diskon sekitar USD4 per barel untuk pengiriman Agustus. Penyusutan diskon itu mencerminkan semakin ketatnya persaingan memperoleh pasokan minyak Rusia.
Di sisi lain, kilang independen di Provinsi Shandong atau teapot refiners kembali membuka pembicaraan untuk membeli minyak mentah Iran sebagai alternatif. Minyak Pars Iran ditawarkan dengan diskon sekitar USD8 per barel terhadap ICE Brent untuk pengiriman ke Shandong, sedangkan minyak Iranian Light diperdagangkan dengan diskon USD3 hingga USD4 per barel. Meski demikian, pembelian masih terbatas karena margin pengolahan melemah seiring harga minyak Brent yang mendekati USD100 per barel.
Situasi serupa juga terjadi di India. Bharat Petroleum Corp Ltd (BPCL) menyatakan para pedagang tidak lagi menawarkan diskon minyak mentah Rusia untuk pengiriman September. Direktur Keuangan BPCL VRK Gupta mengatakan perusahaan telah mengamankan pasokan hingga Agustus, namun ketersediaan pasokan untuk September masih belum pasti. Padahal pada awal Juli, minyak mentah jenis Urals masih diperdagangkan dengan diskon lebih dari USD10 per barel terhadap Dated Brent, sedangkan pada Juni diskonnya berkisar USD2 hingga USD3 per barel.
Baca Juga: Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
Data Kpler yang dikutip Times of India menunjukkan impor minyak mentah India dari Rusia pada Juli rata-rata mencapai sekitar 2,45 juta barel per hari, mendekati rekor Juni sebesar 2,64 juta barel per hari. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan Timur Tengah, kilang-kilang India juga mulai meningkatkan pembelian minyak mentah dari Venezuela dan Angola.
Di tengah terbatasnya pasokan global, India turut memanfaatkan tingginya margin pengolahan (crack spread) dengan mengolah minyak mentah Rusia menjadi berbagai produk bahan bakar untuk diekspor ke pasar Asia. Ekspor produk minyak ringan dan distilat menengah diperkirakan mencapai 1,55 juta barel per hari pada Juli, menjadi level tertinggi kedua sejak Kpler mulai mencatat data pada 2017. Reuters melaporkan impor bahan bakar Asia telah turun 32% dibandingkan rata-rata sebelum konflik, sehingga membuka peluang bagi kilang-kilang India yang beroperasi pada tingkat utilisasi tinggi untuk memenuhi kekurangan pasokan di kawasan.
"Dengan ketidakpastian di Timur Tengah, minyak ESPO menjadi pilihan yang lebih aman dan juga lebih murah," ujar seorang pedagang dari perusahaan kilang minyak China kepada Reuters, dikutip pada Sabtu (25/7/2026).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 per Barel, Pertalite Bakal Naik?
Kembalinya serangan dan blokade pelayaran di Selat Hormuz menghambat arus pengiriman minyak dari Timur Tengah. Akibatnya, permintaan terhadap minyak mentah Rusia, terutama jenis ESPO Blend meningkat tajam di tengah kekhawatiran pasar terhadap semakin menipisnya pasokan energi global.
Reuters mengutip tiga sumber perdagangan melaporkan dua kilang besar di China telah membeli sebagian besar kargo minyak ESPO Blend Rusia untuk pengiriman September dari Pelabuhan Kozmino. Minyak tersebut diperdagangkan dengan diskon hanya sekitar USD1 hingga USD3 per barel terhadap harga acuan ICE Brent, menyempit dibandingkan diskon sekitar USD4 per barel untuk pengiriman Agustus. Penyusutan diskon itu mencerminkan semakin ketatnya persaingan memperoleh pasokan minyak Rusia.
Di sisi lain, kilang independen di Provinsi Shandong atau teapot refiners kembali membuka pembicaraan untuk membeli minyak mentah Iran sebagai alternatif. Minyak Pars Iran ditawarkan dengan diskon sekitar USD8 per barel terhadap ICE Brent untuk pengiriman ke Shandong, sedangkan minyak Iranian Light diperdagangkan dengan diskon USD3 hingga USD4 per barel. Meski demikian, pembelian masih terbatas karena margin pengolahan melemah seiring harga minyak Brent yang mendekati USD100 per barel.
Situasi serupa juga terjadi di India. Bharat Petroleum Corp Ltd (BPCL) menyatakan para pedagang tidak lagi menawarkan diskon minyak mentah Rusia untuk pengiriman September. Direktur Keuangan BPCL VRK Gupta mengatakan perusahaan telah mengamankan pasokan hingga Agustus, namun ketersediaan pasokan untuk September masih belum pasti. Padahal pada awal Juli, minyak mentah jenis Urals masih diperdagangkan dengan diskon lebih dari USD10 per barel terhadap Dated Brent, sedangkan pada Juni diskonnya berkisar USD2 hingga USD3 per barel.
Baca Juga: Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
Data Kpler yang dikutip Times of India menunjukkan impor minyak mentah India dari Rusia pada Juli rata-rata mencapai sekitar 2,45 juta barel per hari, mendekati rekor Juni sebesar 2,64 juta barel per hari. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan Timur Tengah, kilang-kilang India juga mulai meningkatkan pembelian minyak mentah dari Venezuela dan Angola.
Di tengah terbatasnya pasokan global, India turut memanfaatkan tingginya margin pengolahan (crack spread) dengan mengolah minyak mentah Rusia menjadi berbagai produk bahan bakar untuk diekspor ke pasar Asia. Ekspor produk minyak ringan dan distilat menengah diperkirakan mencapai 1,55 juta barel per hari pada Juli, menjadi level tertinggi kedua sejak Kpler mulai mencatat data pada 2017. Reuters melaporkan impor bahan bakar Asia telah turun 32% dibandingkan rata-rata sebelum konflik, sehingga membuka peluang bagi kilang-kilang India yang beroperasi pada tingkat utilisasi tinggi untuk memenuhi kekurangan pasokan di kawasan.
(nng)
Lihat Juga :