Sepekan ke Depan, Rupiah Masih Akan Dibayangi Tekanan
Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:17 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan sepekan ke depan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan sepekan ke depan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan perlambatan pemulihan ekonomi domestik. Kondisi tersebut diperkirakan akan membuat pergerakan mata uang Garuda tetap berfluktuasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
"Pertempuran yang kembali memanas ini merupakan permusuhan terburuk AS-Iran sejak sebelum gencatan senjata April lalu, dengan pembicaraan damai antara kedua pihak tampaknya telah sepenuhnya gagal," kata Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya dikutip pada Sabtu (25/7/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,15% secara harian ke level Rp17.963 per dolar AS pada Jumat (24/7). Secara mingguan, rupiah terkoreksi 0,23% dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya di level Rp17.921 per dolar AS.
Baca Juga: Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang turun 0,32% menjadi Rp17.973 per dolar AS pada Jumat. Secara mingguan, kurs JISDOR melemah 0,16% dari posisi Rp17.944 per dolar AS pada akhir pekan sebelumnya.
Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, pasar mencermati kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah serangan militer kedua negara memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Menurut dia, meningkatnya risiko gangguan pasokan energi berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, sehingga memperbesar tekanan inflasi global. Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi lebih lama (higher for longer), yang pada akhirnya memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai penguatan rupiah juga masih tertahan oleh pemulihan ekonomi yang belum optimal. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih berada di bawah 5% seiring belum kuatnya investasi dan konsumsi rumah tangga, sehingga pelaku usaha cenderung menunda ekspansi di tengah tingginya biaya pendanaan dan ketidakpastian ekonomi.
Baca Juga: EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
Untuk perdagangan sepekan mendatang, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.880 hingga Rp18.250 per dolar AS. Menurut dia, arah pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
"Pertempuran yang kembali memanas ini merupakan permusuhan terburuk AS-Iran sejak sebelum gencatan senjata April lalu, dengan pembicaraan damai antara kedua pihak tampaknya telah sepenuhnya gagal," kata Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya dikutip pada Sabtu (25/7/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,15% secara harian ke level Rp17.963 per dolar AS pada Jumat (24/7). Secara mingguan, rupiah terkoreksi 0,23% dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya di level Rp17.921 per dolar AS.
Baca Juga: Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang turun 0,32% menjadi Rp17.973 per dolar AS pada Jumat. Secara mingguan, kurs JISDOR melemah 0,16% dari posisi Rp17.944 per dolar AS pada akhir pekan sebelumnya.
Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, pasar mencermati kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah serangan militer kedua negara memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Menurut dia, meningkatnya risiko gangguan pasokan energi berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, sehingga memperbesar tekanan inflasi global. Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi lebih lama (higher for longer), yang pada akhirnya memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai penguatan rupiah juga masih tertahan oleh pemulihan ekonomi yang belum optimal. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih berada di bawah 5% seiring belum kuatnya investasi dan konsumsi rumah tangga, sehingga pelaku usaha cenderung menunda ekspansi di tengah tingginya biaya pendanaan dan ketidakpastian ekonomi.
Baca Juga: EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
Untuk perdagangan sepekan mendatang, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.880 hingga Rp18.250 per dolar AS. Menurut dia, arah pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
(nng)
Lihat Juga :