Kebutuhan Lapangan Kerja Baru Capai 13,4 Juta, Ini Jurus Airlangga

loading...
Kebutuhan Lapangan Kerja Baru Capai 13,4 Juta, Ini Jurus Airlangga
Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mencatat, kebutuhan lapangan kerja baru mencapai 13,4 Juta di tengah pandemi Covid-19. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mencatat, kebutuhan lapangan kerja baru mencapai 13,4 Juta. Pandemi Covid-19 telah membuat bertambahnya jumlah pengangguran yang kini mencapai 6,9 juta , belum termasuk 3,5 juta pekerja yang di-PHK atau dirumahkan, dan 3 juta angkatan kerja baru yang setiap tahun membutuhkan pekerjaan.

"Sehingga total kebutuhan lapangan kerja baru mencapai sekitar 13,4 juta," kata Menko Airlangga di Jakarta, Minggu (25/10/2020).

(Baca Juga: UU Cipta Kerja, Strategi Pemerintah Cegah Tingginya Angka Pengangguran)

Kartu Pra kerja, papar Airlangga, telah diakses oleh lebih dari 35,1 juta pendaftar dan yang menerima manfaat mencapai lebih dari 5,59 juta peserta. Dari jumlah tersebut, peserta yang telah menyelesaikan pelatihan sebanyak 4,6 juta dan yang menerima insentif 3,8 juta peserta.



"Salah satu program pemerintah untuk mengatasi masalah pengangguran tersebut adalah dengan Kartu Prakerja,” tutur Airlangga.

Lebih lanjut Ia menerang, pemerintah berupaya mengembalikan ekonomi Indonesia ke jalur positif. Sejumlah indikator pun menunjukkan tren membaik, mulai dari realisasi penanaman modal, neraca perdagangan, inflasi, kinerja pasal modal, stabilitas sektor jasa keuangan, hingga ketahanan sektor eksternal.

(Baca Juga: Ekonomi Minus Imbas Corona, Pengangguran Bisa Bengkak Jadi 13 Juta)



Adapun kinerja Perdagangan Luar Negeri hingga September 2020 mencatat surplus. Hal ini terjadi seiring penurunan impor lebih dalam dibanding ekspor sehingga neraca perdagangan Januari sampai dengan September 2020 surplus USD13,51 milliar.

"Angka ini lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu defisit USD2,24 miliar dengan total defisit 2019 sebesar USD3,59 miliar," jelasnya.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top