Digoyang Triple Shock, Pertamina Tetap Garap Proyek Strategis
Minggu, 01 November 2020 - 12:15 WIB
loading...
PT Pertamina (Persero) menegaskan bahwa investasi untuk proyek-proyek strategis terus berjalan meski diterpa triple shock dan pandemi Covid-19. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) memastikan investasi di proyek strategis yang dijalankan pada seluruh lini bisnis tetap berjalan untuk masa depan ketahanan dan kemandirian energi nasional.
VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman menjelaskan kendati diterpa triple shock yakni penurunan harga minyak mentah dunia, penurunan konsumsi BBM di dalam negeri serta fluktuasi nilai tukar dolar, dan pandemi Covid-19 yang menyebabkan kendala di lapangan, Pertamina tetap berkomitmen untuk menjalankan proyek strategis yang bermanfaat untuk menjaga dan meningkatkan produksi migas dan produk energi nasional pada beberapa tahun ke depan.
(Baca Juga: Inovasi Green Energy 2020, Pertamina Jawab Tantangan Energi Masa Depan)
Beberapa proyek strategis di Hulu, jelas Fajriyah, seperti Proyek Jambaran-Tiung Biru yang dikelola PT Pertamina EP Cepu saat ini terus berjalan. Saat ini telah berhasil dilakukan perforasi secara rigless dengan Smart Coiled Tubing Unit di Jambaran East dan juga telah dilakukan pengeboran 2 sumur di Jambaran Central.
"Proyek ini akan memproduksi gas dari lapangan unitisasi Jambaran-Tiung Biru dengan produksi rata-rata sales gas sebesar 192 MMSCFD dengan target gas onstream pada tahun 2021," ungkapnya melalui siaran pers, Minggu (1/11/2020).
Selain itu, kegiatan di lepas pantai utara Jawa Barat yang dilakukan oleh PHE ONWJ terus berlangsung. Setelah selesai pengeboran sumur KLD-1, proyek pengembangan KLD ONWJ saat ini masuk pada tahap pengeboran sumur KLD-3. Proyek ini ditargetkan dapat berkontribusi dalam penambahan cadangan dan produksi pada Desember 2020.
Di sektor bisnis lainnya, tambah Fajriyah, Pertamina juga terus melanjutkan realisasi pada proyek pengembangan dan pembangunan kilang yang dikawal oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Salah satunya adalah proyek RDMP Balikpapan dan Lawe-lawe yang merupakan salah satu proyek terbesar Pertamina dengan nilai mencapai USD6,5 miliar. Proyek ini akan meningkatkan kapasitas kilang, memperbaiki kualitas produk dan menurunkan harga pokok produksi BBM, yang mendorong peningkatan devisa dan penerimaan pajak.
VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman menjelaskan kendati diterpa triple shock yakni penurunan harga minyak mentah dunia, penurunan konsumsi BBM di dalam negeri serta fluktuasi nilai tukar dolar, dan pandemi Covid-19 yang menyebabkan kendala di lapangan, Pertamina tetap berkomitmen untuk menjalankan proyek strategis yang bermanfaat untuk menjaga dan meningkatkan produksi migas dan produk energi nasional pada beberapa tahun ke depan.
(Baca Juga: Inovasi Green Energy 2020, Pertamina Jawab Tantangan Energi Masa Depan)
Beberapa proyek strategis di Hulu, jelas Fajriyah, seperti Proyek Jambaran-Tiung Biru yang dikelola PT Pertamina EP Cepu saat ini terus berjalan. Saat ini telah berhasil dilakukan perforasi secara rigless dengan Smart Coiled Tubing Unit di Jambaran East dan juga telah dilakukan pengeboran 2 sumur di Jambaran Central.
"Proyek ini akan memproduksi gas dari lapangan unitisasi Jambaran-Tiung Biru dengan produksi rata-rata sales gas sebesar 192 MMSCFD dengan target gas onstream pada tahun 2021," ungkapnya melalui siaran pers, Minggu (1/11/2020).
Selain itu, kegiatan di lepas pantai utara Jawa Barat yang dilakukan oleh PHE ONWJ terus berlangsung. Setelah selesai pengeboran sumur KLD-1, proyek pengembangan KLD ONWJ saat ini masuk pada tahap pengeboran sumur KLD-3. Proyek ini ditargetkan dapat berkontribusi dalam penambahan cadangan dan produksi pada Desember 2020.
Di sektor bisnis lainnya, tambah Fajriyah, Pertamina juga terus melanjutkan realisasi pada proyek pengembangan dan pembangunan kilang yang dikawal oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Salah satunya adalah proyek RDMP Balikpapan dan Lawe-lawe yang merupakan salah satu proyek terbesar Pertamina dengan nilai mencapai USD6,5 miliar. Proyek ini akan meningkatkan kapasitas kilang, memperbaiki kualitas produk dan menurunkan harga pokok produksi BBM, yang mendorong peningkatan devisa dan penerimaan pajak.
Lihat Juga :