Kemendes Fokuskan Dana Desa 2021 untuk Pembangunan Berkelanjutan

Selasa, 10 November 2020 - 06:43 WIB
loading...
Kemendes Fokuskan Dana...
Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDTT) Samsul Widodo mengatakan, saat ini terdapat total anggaran mencapai Rp500 triliun dari pemerintah dan swasta yang masuk ke desa-desa setiap tahunnya. Dana tersebut juga ditambah dari dana desa mencapai Rp2 miliar.

"Jadi ada uang sangat banyak yang mengalir ke desa. Namun kebutuhan utamanya adalah pendampingan masyarakat dan mendorong ekosistem yang kolaboratif. Supaya aktivitas masyarakat bisa tumbuh dengan baik dan berkelanjutan,” jelas Widodo dalam Forum Dialog ISED 2020 yang digelar secara virtual, Senin (9/11/2020).

(Baca juga: PKTD dan Swakelola Bisa Gunakan Sisa Dana Desa )

Menurut dia, dengan dana yang mencapai ratusan triliun itu, pembangunan desa justru membutuhkan pendampingan. Harapannya agar beragam pembangunan di desa seperti infrastruktur jalan, irigasi, dan lainnya, memiliki konteks pembangunan yang berkelanjutan dan berdampak pada kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi.

"Dana desa di 2021 sudah kita prioritaskan untuk SDGs (Sustainable Development Goal's) Desa. Setiap desa bisa menentukan sendiri cara mengentaskan kemiskinan dan kelaparan. Karena setiap daerah memiliki kearifan lokalnya sendiri," katanya.

Dia menjelaskan, SDGs Desa mulai diimplementasikan tahun 2021 sesuai dengan Permendesa PDTT No 13/2020 tentang prioritas penggunaan dana desa 2021. SGDs Desa adalah pembangunan total atas desa yang mengarah pada 18 tujuan pembangunan berkelanjutan di desa.

Dalam SDGs Desa terdapat beberapa pilihan yaitu Desa Tanpa Kemiskinan, Desa Tanpa Kelaparan, Desa Sehat dan Sejahtera, Pendidikan Desa Berkualitas, Keterlibatan Perempuan Desa, Desa Layak Air Bersih dan Sanitasi.

"SDGs Desa akan mendukung pembangunan sektor pariwisata khususnya Desa Wisata Hijau yang sudah dikembangkan di NTB. Ini akan jadi percontohan untuk daerah lain,” jelas Widodo.

(Baca juga: Akses Nggak Beres, Desa-Desa Wisata Indonesia Sulit Berkembang )

Direktur Industri, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bappenas Leonardo Adypurnama Alias Teguh Sambodo juga menambahkan, ke depannya pembangunan berkelanjutan akan menggunakan konsep bisnis inklusif. Pendekatan ini akan melibatkan peran banyak pihak seperti lembaga pemerintah, swasta, dan masyarakat.

“Kita melihat masih banyak keterbatasan generasi muda untuk memulai suatu bisnis. Selain itu kita juga ingin membentuk rantai pasok yang melibatkan masyarakat berpenghasilan rendah," tambah Leonardo dalam kesempatan sama.

Dia menjelaskan proyek ISED (Inovasi dan Investasi untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan yang Inklusif) telah mengembangkan sektor pariwisata dengan pendampingan masyarakat.

Program tersebut hasil kerja sama pemerintah Indonesia dan Jerman yang didukung oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN / Bappenas) dan diimplementasikan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ).

"Program ISED bagus dalam pendampingan. Kita mengembangkan SDM dan enterpreneuship di masyarakat. Ini akan menjadi best practice dan dikembangkan di luar wilayah Nusa Tenggara Barat," tambahnya.

(Baca juga: Erick Thohir Beberkan Mekanisme Pembentukan Holding Aviasi dan Wisata )

Sektor pariwisata menjadi fokus proyek ISED karena pekerja non formal mendominasi sektor pariwisata. Maka diperlukan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan para pekerja di sektor ini, mulai dari memahami kekayaan alam di wilayahnya. Masyarakat dibina membuat produk atau paket wisata untuk diterima oleh agen atau wisatawan.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pacu Daya Saing Pariwisata,...
Pacu Daya Saing Pariwisata, Kemenpar Dorong Kebijakan Bebas Visa Kunjungan
Pegadaian Gelar Literasi...
Pegadaian Gelar Literasi Keuangan dan Investasi Emas di Kemendes PDT
BRI Resmikan Kick-Off...
BRI Resmikan Kick-Off Desa BRILiaN 2026 untuk Dorong Transformasi Desa 5.0
BPS: Jumlah UMKM di...
BPS: Jumlah UMKM di Indonesia Capai 59 Juta Usaha Tahun 2023
Industri Hotel Mewah...
Industri Hotel Mewah RI Lampaui Pemulihan Pasar, Bali Perkuat Branded Residence
Dari Konsumen ke Produsen,...
Dari Konsumen ke Produsen, RI Didorong Kuasai Teknologi Kebencanaan
Dirjen Imigrasi Minta...
Dirjen Imigrasi Minta Rencana Perluasan Bebas Visa Ditinjau Kembali
Indonesia Raih Peringkat...
Indonesia Raih Peringkat 2 Dunia Destinasi Wisata Ramah Muslim Versi GMTI 2026
BPIP Ajukan Tambahan...
BPIP Ajukan Tambahan Anggaran Rp370 Miliar untuk 2027
Rekomendasi
Ancaman Nyata Zionis...
Ancaman Nyata Zionis Bukan Iran, Industri Militer Israel Berlomba Melawan Drone Hizbullah
Lubang Proyek di Tebet...
Lubang Proyek di Tebet Makan Korban, Bocah 4 Tahun Meninggal
NTB Krisis Air Bersih...
NTB Krisis Air Bersih Akibat Kemarau, 1.129 KK Terdampak
Berita Terkini
GAPKI Soroti Indonesia...
GAPKI Soroti Indonesia Belum Ada Acuan Harga Sawit yang Seragam
Harga Minyak Kembali...
Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum Perang, Mengapa Bensin Tak Ikut Turun?
Genderang Perang Dagang,...
Genderang Perang Dagang, Trump Ancam Tarif 100% yang Berani Pajaki Google, Meta, dan Apple!
Pacu Kinerja Bisnis,...
Pacu Kinerja Bisnis, Indo Artha Multitek Kenalkan Teknologi Layanan Haji
INDEF: Pemerintah Perlu...
INDEF: Pemerintah Perlu Evaluasi Kebijakan Ekonomi dan Perkuat Kolaborasi
Panaskan Mesin Ekonomi,...
Panaskan Mesin Ekonomi, Purbaya Tawarkan Bunga Kredit 4% untuk UKM Eksportir
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved