Potensi Tinggi, Properti Bidik Masyarakat Penghasilan di Bawah Rp4 Juta
Jum'at, 13 November 2020 - 10:28 WIB
loading...
A
A
A
"KPR subsidi mengambil porsi lebih besar senilai Rp116,32 triliun bila dibandingkan dengan KPR nonsubsidi yang sebesar Rp80,18 triliun," kata Hirwandi.
Tahun depan masih ada potensi animo masyarakat terhadap pembelian properti seperti halnya rumah. Pertama karena proyeksi ekonomi tahun 2021 diperkirakan 5,5% plus minus 1% sehingga jika ekonomi membaik, industri properti ikut membaik.
Kedua, ketersediaan anggaran subsidi meningkat di mana fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) menjadi Rp16.3 triliun pada tahun 2021. Ketiga, kehidupan baru (new normal) mulai terbiasa di kehidupan masyarakat. Lalu keempat, pada Desember 2020 hingga Januari 2021 vaksin kemungkinan sudah bisa dipergunakan. Dengan demikian dirinya optimistis pasar properti tahun depan bisa membaik. (Baca juga: Manfaat Produk Herbal untuk Ibu Hamil dan Menyusui)
Bisnis properti residensial tampaknya belum tumbuh signifikan pada kuartal III/2020. Perkembangan tersebut tecermin dari pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) kuartal III/2020 yang tercatat sebesar 1,51% yoy, tetapi relatif lebih stabil bila dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang sebesar 1,59% (yoy).
"IHPR diprakirakan masih tumbuh terbatas pada kuartal IV/2020 sebesar 1,29% (yoy)," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko di Jakarta kemarin.
Dari sisi volume, penjualan properti residensial pada kuartal III/2020 masih anjlok. Hal tersebut tecermin dari penjualan properti residensial yang terkontraksi 30,93% (yoy) bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 25,60% (yoy).
Adapun penurunan penjualan properti residensial ini terjadi pada seluruh tipe rumah. Menurut sumber pembiayaan, hasil survei menunjukkan pengembang masih mengandalkan sumber dari non-perbankan untuk pembiayaan pembangunan properti residensial. (Baca juga: Bakal Ubah Peta Politik Indonesia, Habib Rizieq Makin Kuat)
Tahun depan masih ada potensi animo masyarakat terhadap pembelian properti seperti halnya rumah. Pertama karena proyeksi ekonomi tahun 2021 diperkirakan 5,5% plus minus 1% sehingga jika ekonomi membaik, industri properti ikut membaik.
Kedua, ketersediaan anggaran subsidi meningkat di mana fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) menjadi Rp16.3 triliun pada tahun 2021. Ketiga, kehidupan baru (new normal) mulai terbiasa di kehidupan masyarakat. Lalu keempat, pada Desember 2020 hingga Januari 2021 vaksin kemungkinan sudah bisa dipergunakan. Dengan demikian dirinya optimistis pasar properti tahun depan bisa membaik. (Baca juga: Manfaat Produk Herbal untuk Ibu Hamil dan Menyusui)
Bisnis properti residensial tampaknya belum tumbuh signifikan pada kuartal III/2020. Perkembangan tersebut tecermin dari pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) kuartal III/2020 yang tercatat sebesar 1,51% yoy, tetapi relatif lebih stabil bila dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang sebesar 1,59% (yoy).
"IHPR diprakirakan masih tumbuh terbatas pada kuartal IV/2020 sebesar 1,29% (yoy)," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko di Jakarta kemarin.
Dari sisi volume, penjualan properti residensial pada kuartal III/2020 masih anjlok. Hal tersebut tecermin dari penjualan properti residensial yang terkontraksi 30,93% (yoy) bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 25,60% (yoy).
Adapun penurunan penjualan properti residensial ini terjadi pada seluruh tipe rumah. Menurut sumber pembiayaan, hasil survei menunjukkan pengembang masih mengandalkan sumber dari non-perbankan untuk pembiayaan pembangunan properti residensial. (Baca juga: Bakal Ubah Peta Politik Indonesia, Habib Rizieq Makin Kuat)
Lihat Juga :