Hipmi Minta Pemerintah Bagi-Bagi Proyek Infrastruktur ke Swasta
Senin, 14 Desember 2020 - 16:35 WIB
loading...
A
A
A
Arya menambahkan, proyek-proyek perlu didistribusikan ke swasta. Sudah saatnya swasta berperan sebagai pelaku pembangunan infrastruktur nasional, apalagi kini swasta memiliki kemampuan tersebut.
"Proyek infrastruktur di daerah secara finansial tidak menguntungkan, tetapi harus dibangun, karena bisa menggerakkan ekonomi daerah. Sedangkan proyek yang secara finansial, swasta perlu diberi kesempatan lebih dulu," ungkapnya.
Selain itu, Arya berharap, dalam menggarap proyek infrastruktur, jangan lagi melibatkan kontraktor asing untuk masuk ke dalam proyek strategis. Jika kontraktor asal China seperti Qingjian International (South Pacific) Group Development (CNQC) saja bisa pailit, maka peran kontraktor Indonesia atau swasta di bisnis konstruksi harus semakin besar.
"Buktinya saja kontraktor asing bisa pailit. Padahal, swasta masih bisa meraup kontrak baik dari infrastruktur maupun proyek gedung di tengah dominasi kontraktor-kontraktor BUMN," imbuhnya.
Sekedar diketahui, permasalahan awal CNQC asal China itu pailit terjadi saat emiten jasa konstruksi PT Mitra Pemuda Tbk (MTRA) bersama Qingjiang International (South Pacific) Group Development Co. Pte. LTd membentuk usaha patungan yaitu CNQC-MTRA JO (joint operation) untuk mengerjakan pembangunan gedung di Bekasi yang dimiliki PT Logos Indonesia Bekasi One.
"Proyek infrastruktur di daerah secara finansial tidak menguntungkan, tetapi harus dibangun, karena bisa menggerakkan ekonomi daerah. Sedangkan proyek yang secara finansial, swasta perlu diberi kesempatan lebih dulu," ungkapnya.
Selain itu, Arya berharap, dalam menggarap proyek infrastruktur, jangan lagi melibatkan kontraktor asing untuk masuk ke dalam proyek strategis. Jika kontraktor asal China seperti Qingjian International (South Pacific) Group Development (CNQC) saja bisa pailit, maka peran kontraktor Indonesia atau swasta di bisnis konstruksi harus semakin besar.
"Buktinya saja kontraktor asing bisa pailit. Padahal, swasta masih bisa meraup kontrak baik dari infrastruktur maupun proyek gedung di tengah dominasi kontraktor-kontraktor BUMN," imbuhnya.
Sekedar diketahui, permasalahan awal CNQC asal China itu pailit terjadi saat emiten jasa konstruksi PT Mitra Pemuda Tbk (MTRA) bersama Qingjiang International (South Pacific) Group Development Co. Pte. LTd membentuk usaha patungan yaitu CNQC-MTRA JO (joint operation) untuk mengerjakan pembangunan gedung di Bekasi yang dimiliki PT Logos Indonesia Bekasi One.
Lihat Juga :