IPB dan UI Ingatkan Pentingnya Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi
Rabu, 13 Mei 2020 - 14:40 WIB
loading...
A
A
A
Masalah utama saat ini adalah pendistribusian logistik yang terhambat karena kebijakan Covid-19 terkait social distancing, diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), dan pembatasan gerak rantai pasok pertanian.
Arief menegaskan, kendala tersebut menyebabkan ketidakpastian distribusi yang mempengaruhi musim tanam petani setelah Agustus nanti. Menurut dia, kondisi saat ini diperlukan kebijakan logistik untuk memasok pangan kepada masyarakat.
“Kita tidak bisa lagi menggunakan desain (pasok) logistik lama, salah satunya dengan sistem blok chance melalui pengembangan tekhnologi 4.0 yang menjamin akurasi data, sehingga koneksi hulu dan hilir menjadi lebih efisien,” katanya.
Selain itu, kondisi petani juga harus diperhatikan melihat kenyataan ditengah pandemi corona ini harga jual panen mereka, jatuh di pasaran. Dia menilai, over supply hasil pertanian menyebabkan penghasilan petani menurun.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai tukar petani turun dari 104 pada Januari 2020. Sementara, pada Maret menjadi 102. Hal tersebut menurut Arief akan berdampak pada terbatasnya modal usaha berproduksi. “Di sini peran dari pemerintah untuk mengeluarkan program stimulus dan relaksasi bagi petani,” tegasnya.
Arief menegaskan, kendala tersebut menyebabkan ketidakpastian distribusi yang mempengaruhi musim tanam petani setelah Agustus nanti. Menurut dia, kondisi saat ini diperlukan kebijakan logistik untuk memasok pangan kepada masyarakat.
“Kita tidak bisa lagi menggunakan desain (pasok) logistik lama, salah satunya dengan sistem blok chance melalui pengembangan tekhnologi 4.0 yang menjamin akurasi data, sehingga koneksi hulu dan hilir menjadi lebih efisien,” katanya.
Selain itu, kondisi petani juga harus diperhatikan melihat kenyataan ditengah pandemi corona ini harga jual panen mereka, jatuh di pasaran. Dia menilai, over supply hasil pertanian menyebabkan penghasilan petani menurun.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai tukar petani turun dari 104 pada Januari 2020. Sementara, pada Maret menjadi 102. Hal tersebut menurut Arief akan berdampak pada terbatasnya modal usaha berproduksi. “Di sini peran dari pemerintah untuk mengeluarkan program stimulus dan relaksasi bagi petani,” tegasnya.
Lihat Juga :