Pandemi Covid-19 Gerus Pendapatan BUMN Sampai 90 Persen
Kamis, 04 Februari 2021 - 14:14 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Pandemi Covid-19 menggerus perekonomian termasuk pendapatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) . Sekitar 70% dari semua sektor BUMN mengalami penurunan pendapatan di 2020. Secara total, pendapatan BUMN berkurang sampai dengan 90% dampak pandemi.
Ekonom Institute for Development or Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, dari semua sektor BUMN khususnya BUMN energi, BUMN karya/konstruksi, serta BUMN sektor kesehatan mengalami penurunan pendapatan. Menurutnya, dengan mempertahankan biaya operasional tetap rendah sekaligus menarik pinjaman baru itu merupakan solusi mudah terkait utang BUMN.
(Baca juga: Menteri Erick Janjikan 12 Perusahaan BUMN Segera IPO )
“Permasalahannya kenaikkan utang untuk menutupi operasional karena pendapatan turun, ini masuk kepada BUMN yang memang sudah bermasalah bahkan sebelum pandemi Covid-19,” katanya dalam Market Review IDX Channel, Kamis (4/2/2021).
Dia menegaskan, wajar atau tidaknya kondisi ini dapat dilihat dari kinerja perusahaan pelat merah dari sebelum masa pandemi. Sebagai contoh, Garuda Indonesia yang sudah mempunyai masalah keuangan yang cukup berat jauh sebelum pandemi, kenaikan utangnya belum tentu bisa meningkatkan kinerja dan hanya tambal sulam saja.
Ekonom Institute for Development or Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, dari semua sektor BUMN khususnya BUMN energi, BUMN karya/konstruksi, serta BUMN sektor kesehatan mengalami penurunan pendapatan. Menurutnya, dengan mempertahankan biaya operasional tetap rendah sekaligus menarik pinjaman baru itu merupakan solusi mudah terkait utang BUMN.
(Baca juga: Menteri Erick Janjikan 12 Perusahaan BUMN Segera IPO )
“Permasalahannya kenaikkan utang untuk menutupi operasional karena pendapatan turun, ini masuk kepada BUMN yang memang sudah bermasalah bahkan sebelum pandemi Covid-19,” katanya dalam Market Review IDX Channel, Kamis (4/2/2021).
Dia menegaskan, wajar atau tidaknya kondisi ini dapat dilihat dari kinerja perusahaan pelat merah dari sebelum masa pandemi. Sebagai contoh, Garuda Indonesia yang sudah mempunyai masalah keuangan yang cukup berat jauh sebelum pandemi, kenaikan utangnya belum tentu bisa meningkatkan kinerja dan hanya tambal sulam saja.
Lihat Juga :